Child Of The Phoenix (WIP)

Child Of The Phoenix (WIP)


         Book Information

Title: Majisca Variation: Child of the Phoenix

Author: Miervan Eastwell

Genre: Fantasy (magic school), adventure, mystery.

Target Age: Young Adult

Status: Work in progress

Language: (English translation)

Short Synopsis

Sarah Beverley, an 11-year-old girl living with her father during the war, is suddenly pulled into a magical world called Majisca through a mysterious wardrobe in her house. She is accepted into Brighford School of Witchcraft and placed in Sylphine House, a regular dormitory looked down upon by the elite Rosemith House. There, she must adapt to magic, spells, and broomstick flying, all of which are completely new to her.

But the lessons aren't the only challenge. A Rosemith student named Adelina Louise ruthlessly bullies her, calling her a "rebel's child" because Sarah's mother once belonged to the Phoenix Division, a group considered dangerous by the magical council. Who was her mother really? Why was the Phoenix Division disbanded?

Together with her new friends Chloe and Nivan, Sarah sets out to uncover her family's past, even if it means facing monsters, nightmares, and dark secrets that may be more dangerous than she ever imagined.

Note

Feel free to use Google Translation, the result might be stiff, but that's okay.

Prolog: Singgasana dibawah rembulan

di tengah malam yang dingin 31 oktober, 1931. di ruangan misterius yang hanya memiliki satu jendela melingkar. terdapat satu buah kursi yang diterpa oleh cahaya bulan dari balik jendela. kursi tersebut tinggi dan memiliki gambar sosok beruang bermata merah. diatas kursi itu terkapar tubuh seorang wanita yang tiada merespon apapun. tongkat sihir terjatuh dari lengannya yang lemah, meninggalkan suara dentingan yang bergema di sepanjang ruangan.

di saat yang sama, di di tengah hutan woolymoon yang gelap, seseorang pria telah berlari menyusuri hutan sambil dikejar dengan beberapa orang. mereka memakai pakaian yang tebal serta membawa wisht hounds, anjing dengan kaki yang tinggi. mereka mencari di sela-sela sambil membawa obor yang menyilaukan di dalam hutan.

mereka kemudian menyadari jika pria itu kini telah memasuki jembatan 
batu vaccarust sepanjang 328 kaki di atas jurang. jubahnya berkibar diatas ubin jembatan, rambut tersisir ke belakang. ia menggendong seorang bayi kecil yang berselimut kain berwarna kuning.

seorang cenayang segera menggunakan peluitnya itu sambil menunjuk ke kiri. suara keras dari peluit itu pun muncul, dan para whist hound tadi pun segera berlari mendekati jembatan.

"dia disana!" teriak lainnya.

"berhentilah, ini demi kebaikan!" teriak mereka keras.

pria itu menatap ke ujung jembatan dimana disana terdapat sebuah gazebo kaca dengan kincir besar di atasnya. meskipun berlari dengan cepat, ia berusaha untuk menjaga bayi di pangkuannya tetap tertidur.

para wisht hound semakin mendekat dari tempatnya kini berlari, anjing-anjing itu bergonggong dengan suara keras. beberapa mantra juga meyang di udara, hampir saja mengenai sisi tubuhnya.

"Explaridux!" teriak mereka.

mantra tersebut melesat membentuk cahaya putih, untungnya ia segera melompat sebelum mantra itu mengenainya.

"Ictiorosus!" teriak para pengejar lainnya, menghasilkan percikan berwarna biru tajam.

"lingmuscus vastator!" sebuah cahaya membentuk ekor berbulu hijau pun muncul di ujung tongkat sihir dan dipakai sebagai cambuk

gofrey kemudian berbalik, lalu mengarahkan tongkatnya tajam ke jembatan di depannya.

"revertutis!" teriak pria pembawa bayi tadi untuk melindungi dirinya dengan cara memantulkan serangan lawan.

ia kemudian segera mengucapkan tremotus ruina, yang kemudian membuat bebatuan jembatan di depannya bergetar lalu mulai runtuh, para wisht hounds pun berusaha untuk mencapai bagian yang masih utuh sebelum akhirnya runtuh juga.

pria itu kemudian melanjutkan larinya menuju ke arah gazebo, seekor wisht hounds ternyata telah berhasil bergelantungan di seberang jembatan. monster itu lalu mendaki jembatan itu lalu lanjut mengejar pria itu.

monster itu kemudian melompat lalu membuatnya terjungkal tepat di depan gazebo, ia pun berhasil melindungi bayi itu dari terbentur tanah. ketika monster itu ingin menerkamnya cenayang mereka pun lalu berteriak berhenti, meninggalkan keheningan di udara.

pria itu kemudian menyadari pecahan kaca yang berserakan di sekitarnya. sementara itu sang bayi yang baru berumur  beberapa bulan itu pun mulai menangis di pangkuannya. monster itu lalu menatap sang bayi dengan tatapan tak terjelaskan.

"oh  beverley..." gumannya, "mereka tidak akan berhenti mengejarmu... kamu harus pulang," sambungnya dengan nafas terengah-engah.

ia itu pun lalu mengambil serpihan kaca tajam di dekatnya kemudian dengan panik segera mengukir di batu bata tanda sebuah huruf berbentuk B, ia mempercepat tulisannya ketika monster itu mulai menarik kakinya untuk menjauh dari bayi itu, pria itu berusaha untuk menghalangi wisht hounds itu.

"sial!" teriaknya sambil terus mengukir ubin batu agar hurufnya semakin jelas.

para pengejar itu kemudian memperbaiki bebatuan yang hancur di jembatan, mereka segera berjalan ke seberang jembatan untuk menunggu sampai wisht hounds itu berhasil menarik gofrey menjauh.

"kamu tidak tahu apa yang telah kamu lakukan..." kata seorang pengejarnya pelan.

"kamu tak dapat menghentikan sesuatu yang telah ditakdirkan," sambung yang lainnya.

"tidak..." jawab pria itu berbisik, "tidak semuanya, kalian salah."

pria itu lalu berhenti nulis dan segera menatap bayi di pangkuannya itu.
"seseorang telah mengucapkan Ligare artem, tepat di depanmu," katanya berkata dengan ringkih.

"aku ingin kamu mengingatnya, beverley," sambungnya lirih.

seorang cenayang lalu bersiul, wisht hounds yang menggigit kakinya tadi kemudian menariknya menjauh dari bayi, orang-orang itu kemudian memegang gofrey lalu mengikatnya dengan tali. sedangkan bayi yang terhimpit di tengah kekacauan itu lalu bergerak dengan gelisah disamping tulisan huruf B yang terlihat jelas di ubin batu itu.

tak lama kemudian Wisht Hounds itu kemudian terkena tembakan kuat yang seketika menggulingkannya ke tanah.

"siapa... siapa itu!" teriak mereka tegang.

"mereka para pasukan penjaga!" balas yang lainnya.

"angkat tongkat kalian!" teriak para penyihir lain dengan tongkat yang lebih panjang serta pakaian serba putih dan hitam. sebuah bendera dengan lambang menyerupai huruf dan garis geometris berbentuk diamond dan segita juga berkibar di antara rombongan itu.

semua pasukan penyihir itu kemudian mengepung para pengejar itu sambil mengangkat tongkat mereka yang panjang, lalu  mencondongkan badan mereka.mereka semua saling berbaris membentuk pagar.

"lepaskan senjata kalian!" teriak mereka mengancam.

seluruh orang yang mengejar gofrey tadi pun mengangkat tangan mereka.

setelah berselang lama bayi itu lalu diangkat oleh para penjaga, matanya memantulkan bayang-bayang dari bulan di langit dan menjadi saksi atas tragedi pada malam ini.

Chapter 1: Mengapa ia Harus Pergi?

Bertahun-tahun kemudian. Pada malam harinya di Hutton Cranswick, 2 mei 1942, pukul 20.30. Dengan kondisi desa yang gelap gulita karena perang, ada satu rumah yang jendelanya masih bersinar samar. di dalam rumah itu, seorang gadis berusia 11 tahun tinggal bersama dengan Ayahnya. gadis itu memiliki rambut pirang yang panjangnya sampai bahunya, serta pudar. ia memakai dua buah jepit rambut berwarna jingga dan biru malam yang menahan poninya menutupi matanya.

Ayahnya, John. duduk di sampingnya sambil membacakan novel tentang alice in wonderland yang selalu ia dengar tiap malam. tapi hari ini sedikit berbeda dari biasanya karena isi pikirannya malah mengarah ke kenangannya, yang membuatnya rindu akan kondisi orang yang ia kenal di perkotaan.

"Ayah, bagaimana menurutmu kondisi tetangga kita di kota, apakah mereka aman?" Sarah melirik Ayahnya meskipun pertanyaannya tiba-tiba.

John lalu menghentikan ceritanya dan menatap sarah, ia memiliki mulut yang kecil sementara itu rambutnya disisir kebelakang tapi masih sedikit berantakan. jas yang ia kenakan pun juga terlihat bernoda akibat jelaga dari perapian, mereka hanya tinggal berdua dan jarang ada yang mau membersihkan perapian mereka karena warga desa pun pada sibuk dengan urusan mereka sendiri.

"Kurasa mereka akan baik-baik saja, sayang," John menghela napas, setengah wajahnya menatap ke arah Sarah.
"Sudahlah, jangan pikirkan mereka, oke?"

Sarah pun menggeser selimutnya dengan keras, kemudian duduk di kasurnya, wajahnya menjadi lebih serius. 

"Mengapa ayah terus berkata begitu!" napasnya mulai berat.
"Aku sudah kehilangan mereka, dan kini disuruh untuk tidak memikirkannya," katanya, merasa cukup kecewa dengan Ayahnya.

"Maksudku adalah... kita harus lebih fokus pada dirimu sendiri," kata John yang menatap Sarah dengan penuh perhatian, "kita tidak bisa terus-menerus memikirkan orang lain, sedangkan diri kita sendiri berada dalam bahaya," ujar John melanjutkan.

"Aku tidak peduli lagi Ayah," kata Sarah dengan memeluk kakinya, "Aku hanya ingin temanku lagi... dan perayaan ulang tahun yang indah," keluhnya.

"Tapi kamu memiliki Ayah, sayang, dan kisah dongeng yang tengah ayah bacakan ini," kata John, mencoba untuk menghibur Sarah.

Sarah hanya diam tak menjawab, seketika suasana di dalam kamar tersebut menjadi hening dengan lampu minyak yang berputar-putar dengan tenang di langit-langit. 

John lalu menghela napasnya dan menoleh dengan wajah sedih.
"Baiklah, apakah kamu ingin aku berhenti bercerita" gumamnya pelan. 

"Jangan," Sarah menoleh, "Aku tidak sengaja kehilangan fokus dan masih penasaran apakah si tujuh benar-benar akan di penggal kepalanya," kata Sarah yang tengah mengusap kedua matanya.

“itu akan terjadi bila mereka tak menyelesaikan cat nya, sayang," kata John tersenyum setengah bercanda.

John pun mengusap buku yang ia pegang dengan pelan, debu mulai beterbangan dari lengannya.
buku itu menunjukkan sesosok seorang gadis dengan pakaian berwarna merah dan dibingkai yang indah, rambutnya pirang dan lebih panjang daripada rambut sarah yang hanya sampai bahu.

"Aku akan melanjutkan kisah... ketika alice telah bertemu dengan para tukang kebun," bisiknya dengan senyuman yang tipis ke arah Sarah.

Sebuah senyuman terbentuk di wajah Sarah yang manis itu, pertanda jika ia baru saja melupakan tragedi buruk yang telah dialaminya.

Ia mendapatkan cukup banyak hal buruk setelah peristiwa yang membuat banyak anak harus pergi keluar dari kota.

"Bagus, aku ingin mendengar sampai tidur!" katanya, dengan senang.

John membalik halaman buku lalu mulai menceritakan buku cerita tersebut.

“Apa gunanya?” ujar yang pertama kali berbicara di antara mereka.

“Itu bukan urusanmu, Dua!” kata Tujuh menyela dengan alis turun.

“Justru itu urusannya!” kata Lima membela, “dan akan kukatakan padanya, itu karena ia membawa umbi tulip untuk juru masak, bukan bawang.”

Tujuh membanting kuasnya, dan baru saja mulai berkata, “Ya ampun, dari semua ketidakadilan-” pandangannya pun seketika tertuju pada alice yang tengah berdiri sambil memperhatikan mereka, Tujuh pun segera mendadak menghentikan ucapannya. Yang lain juga ikut menoleh, dan mereka semua pun membungkuk rendah ke gadis di hadapan mereka.

“Maukah kalian memberitahuku,” kata Alice gugup, “mengapa kalian mengecat mawar-mawar itu?” sambungnya.
Lima dan Tujuh tidak berkata apa-apa, melainkan memandang  Dua yang telah berdiri di samping mereka.

setengah jam kemudian, setelah mendengarkan cerita itu Sarah pun tertidur pulas dengan selimut menutupi seluruh badannya. John lalu menutup bukunya dengan pelan dan segera beranjak dari kasur. 

Lampu kamar mereka pun dimatikan, mengisi ruangan kamar dengan kegelapan. John duduk di ruang tamu dengan merenung sambil menatap sebuah liontin.

"Kamu telah berjuang untuk melindunginya, tapi aku tetap tak ingin ia kemana-mana," kata John sambil menunduk.

John tiba-tiba mendengar suara bergetar di udara, ia lalu mengadah ke plafon rumah sebentar. Lalu jauh di atas langit sana datang beberapa pesawat dengan gemuruh mengerikan, suara mereka perlahan-lahan menghilang di langit. suasana kembali sunyi. John lalu menutup matanya dan menggelengkan kepalanya perlahan-lahan.

Setelah matahari muncul di ujung cakrawala, desa yang gelap kini samar-samar menunjukkan fisiknya, yaitu beberapa bangunan yang tersusun sejajar dan memiliki atap yang serupa, yaitu berwarna coklat cerah. 

Sarah berlutut di dekat akuarium yang kosong, ia tengah mengotak-atik siaran radio seolah sedang mencari sesuatu. John yang tengah duduk di ruang tamu dengan korannya pun menoleh ke arah Sarah.

"Apa yang sedang kamu cari, sayang?" tanyanya, penasaran.

"Aku mencari Ibu Ranya, di mana ia?!" tanya Sarah dengan keheranan, sambil terus memutar knob radio tersebut.

Ibu Ranya adalah seorang wanita yang selalu muncul di radio setiap pagi dan menceritakan cerita anak-anak kepada pemirsa.

"Mungkin sesuatu telah terjadi dengannya... kamu tunggu saja mungkin ia nanti akan kembali," kata Ayah Sarah sambil membalikkan halaman koran.

"Tapi sampai kapan, Ayah..." tanya Sarah setelah berdiri dan berpaling ke arah Ayahnya.

"Entahlah, mengapa kamu tidak bermain saja dengan Bremen dan Bruth?" kata John,

Sarah lalu menjatuhkan pundaknya, "Ayah serius? mereka hanyalah kaus kaki..."

*Aku mendengar suara bising di langit...
sebuah cahaya datang dan tiba-tiba bangunan itu meledak...* 
Radio masih menyala di dekat mereka, dengan memberikan kabar yang memilukan. 
Sarah pun naik ke lantai dua lalu mengunci kamarnya, di saat itu juga secara bersamaan suara bel muncul di luar rumah. John melempar korannya ke meja dan bangkit berdiri untuk pergi menuju pintu, setelah pintu dibuka tampak sosok seorang pria dengan kumis yang selebar mulut, topi putih, dan senyuman palsunya.

John mengenali pria itu, namun ia langsung menutup kembali pintu rumahnya agar tidak diganggu oleh orang tadi. Sebelum akhirnya orang itu pun memaksa untuk masuk dan mencegah John menutup pintu.

"Astaga, John! Tolong jangan begini..." keluh Nicholas.

"Tuan Nicholas, aku sudah berkali-kali bilang melalui surat jika aku tak ingin terlibat lagi," kata John dengan lugas.

"Sayangnya John... Kami memerlukanmu untuk menambah pasukan menuju el alamein" kata Nicholas Albert dengan tatapan yang serius.

"Apa yang mereka butuhkan, mereka saja tidak peduli dengan ceritaku," tanya John kebingungan,

"tunggu, Ini bukan tentang cerita aneh tentang anakmu yang kamu kirim 11 tahun yang lalu, Inggris benar-benar membutuhkan kita, john," ujar Nicholas serius.

"Astaga, mengapa kamu lebih membela inggris daripada temanmu sendiri?" tanya John.

"Karena aku mempercayaimu... kamu adalah seorang teman yang splendid work jasanya," kata Nicholas.
John lalu berpaling dan berjalan menuju ruang tamunya, Nicholas pun mengikutinya dari belakang. 

"Dulu mungkin aku masih bisa menjadi teknisi dan membantumu, namun lihatlah situasinya sekarang," John menghela napas. "Aku memiliki seorang putri yang harus aku lindungi, Tuan Nicholas," sambungnya. 

"Kupikir kamu sebaiknya menyewa pengasuh saja, John. Ada yayasan yang mempekerjakan mereka di kota York," kata Nicholas.

"Maksudnya, apakah aku harus menyerahkan Sarah?" tanya John dengan sinis.

Sementara itu, Sarah mendengarkan mereka dari balik tembok, dengan kaos kaki hijau masih menempel di lengannya.
"Seorang pengasuh!" bisik Sarah, terkejut.

Sarah lalu membayangkan sosok pengasuh dengan rambutnya yang pendek, dan suka bernyanyi serta mengajak anak-anak untuk berkeliling kota yang damai.

"Selama kamu bekerja bersama kami, putrimu pun aman bersama pengasuhnya," kata Nicholas dengan senyum lebarnya.

"Tuan nicholas, seorang pengasuh tak akan bisa melindungi putriku, pada akhirnya ia akan pergi tanpa ku tahu," kata john berkata dengan suara halus.

"Bukankah kamu terlalu berlebihan?" Tanya nicholas berbisik.

John kemudian mengepalkan lengannya dan meletakkannya ke dekat perutnya, "Tapi aku akan tetap menghubungi pengasuh itu, dan mengabari seseorang yang kukenal bila terjadi sesuatu. Aku ikut denganmu tuan nicholas," kata john tegas.

"Bagus, John, itu yang aku mau darimu," jawab Nicholas, eksperinya seketika berubah menjadi senyum yang lebar.

"aku tak janji," kata john spontan.

Pria itu kemudian segera mengangkat topinya untuk memberikan salam dan keluar dari rumah John.

"Ingat, aku akan menunggumu di pangkalan Cranwell besok," katanya dari balik pintu, "setelah itu ikut kami menuju pangkalan tangmere," sambungnya.

John lalu menutup pintu rumahnya dengan ragu, kemudian ia segera melangkah menuju telepon rumah yang terletak di samping vas bunga. Sarah mendekati Ayahnya dengan cemas.

"Apakah Ayah akan benar-benar menyewa seorang pengasuh?" tanyanya dengan terkejut.

"Ya, agar kamu bisa aman di rumah," jawab John.

"Tapi itu rasanya seperti... Ayah telah memberikanku ke orang lain," kata Sarah dengan raut wajah yang sedih.

"Sayang, Ayah melakukannya karena menuruti pesan dari Ibumu," John menghela napas dan tersenyum. "Ingat, jangan pernah lari dari masalah, apa pun yang terjadi," katanya sambil mempertahankan senyumannya. 

"Aku membenci masalah, namun sayangnya pesan Ibu seolah memintaku untuk menghadapinya," jawab Sarah, mengaku kepada Ayahnya. 
"Kamu bisa menghadapinya sayang, selama kamu menjadi kuat..." kata John mencoba untuk menghibur Sarah.

Sarah kemudian memeluk Ayahnya dengan erat, ia peluk dengan lama.

"Aku ingin Ayah berjanji untuk pulang, jika tidak maka aku akan membencimu..." kata Sarah dengan tegas.

"Apakah kamu serius?" tanya John sambil membalas pelukan putrinya itu.

"Aku benar-benar serius kali ini!" kata Sarah, menggertak. Senyuman tipis pun muncul di wajahnya.

"Tenang saja sayang, Ayah pasti akan pulang, dan saat itulah kita kembali menceritakan dongeng lagi," katanya tenang, sambil melepas pelukan Sarah.

Sarah akhirnya membiarkan Ayahnya menelepon seorang pengasuh, hatinya di liputi rasa khawatir, ia takut menjadi gadis yang malang.

Tetapi rasa penasarannya juga tumbuh, ia memikirkan yang akan terjadi berikutnya, apakah akan datang pengasuh yang suka bernyanyi, atau malah sosok yang akan mengingatkannya pada sang Ibu.

"Hai operator, tolong hubungkan saya dengan yayasan Praesens Child Jalan Holgate, York, terima kasih," kata John kepada operator.

Keesokan harinya, pengasuh yang dipanggil oleh Ayah Sarah kini telah tiba di depan pintu. Wanita itu kemudian menekan bel pintu beberapa kali hingga menimbulkan suara yang bising.

Sarah seketika membukakan pintu rumahnya dan melihat seorang wanita dengan mantel serba hitam, sedangkan pipinya bulat menyatu dengan rambutnya yang bergelombang halus serta poni yang menyatu di dahinya, namun ia memiliki telinga kanan yang terpotong sisa sebelah saja.

Penampilan tersebut sangat berbeda dengan pengasuh yang pernah Sarah bayangkan atau juga ia lihat. "Wah... Kamu sangat di luar dugaanku," gumamnya dengan alis yang terangkat. 

"Hai, Nona Beverley," kata wanita tersebut sambil menyebut nama belakang Sarah.

John menyusul mendekati pintu, kemudian menyambut dan mengajak Maggie masuk ke dalam rumah. Maggie melepas sepatunya yang tampak berat, kemudian masuk melangkah ke dalam.

"Pertama, tugasmu adalah menjaga Sarah, mencuci pakaiannya, memasak, dan terakhir merawat rumah," kata John menjelaskan setiap tugas untuk Maggie.

"Jika kamu ingin tidur, gunakan saja kamar kecil kami," kata John lagi.

Setelah mengelilingi lorong di rumah beberapa kali, dan pembicaraan tentang aturan yang membosankan, Sarah menyela
perkataan Ayahnya dengan lugas.

"Dan juga, kamu harus mau diajak bermain-main olehku!" kata Sarah dengan lantang.

Maggie Haversham menatap Sarah dengan ekspresi aneh, dan nada jengkel:
"Apa, tidak bisa! tugasku bukan untuk menjadi temanmu," kata Maggie singkat, sebelah matanya membelalak.

"Mengapa... Bukankah gunanya pengasuh itu adalah menjadi teman?" tanya Sarah dengan heran.

"Itu hanya akan terjadi bila dunia ini aman," kata Maggie.

"Kalian berdua cukup! Yang penting kamu melakukan tugasmu dengan benar, dan tetap setia untuk melindungi Sarah." 

Maggie dan Sarah terdiam setelah John berkata dengan tegas. Mereka lalu saling menatap dengan wajah yang muram. 

Pada akhirnya, Maggie mulai bekerja di rumah Sarah, melakukan kegiatan normal seperti mencuci dan juga menjemur pakaian.
Namun Sarah melihat gerak-gerik aneh terhadap wanita itu. Maggie selalu menggerutu singkat dengan suara ringkih setiap kali bekerja.

Sikapnya itu membuat Sarah menjadi takut dan juga cemas, sudah dua kali ia meminta untuk mengganti Maggie dengan pengasuh yang lain, namun Ayahnya menolak, ia percaya bahwa Maggie tak seperti yang Sarah pikirkan.

Di dalam kamarnya, Sarah memasang lagi kedua kaos kaki yang ia beri nama Bremen dan Bruth untuk membicarakan Maggie. Sarah mulai memainkan kedua kaos kaki itu dengan mengisi suara masing-masingnya.

Bremen kemudian bangkit bersamaan dengan Bruth. Bruth berwarna hijau, sedangkan Bremen berwarna coklat.

"Hai, aku baru saja berenang di Loch Ness!" kata Bruth dengan gembira.

"Eh, kamu tidak dapat melakukan itu tanpa ditemani oleh Ayah. Kamu bisa tenggelam," kata Bremen, mencoba menasehati Bruth.

"Apa salahnya, aku hanya ingin berenang," kata Bruth.

"Aku setuju dengan Bruth, kita harus sering berenang," kata Sarah menggoda.

"Tapi kamu membuat kekacauan, kamu menjadi Nessie," kata Bremen marah.

"Daripada kamu, justru menjadi Boggart!" teriak Bruth membalas. 

"Hei, aku tak ingin membahas Nessie apalagi Boggart," kata Sarah dengan kesal.

"Aku ingin membahas Maggie, ia menjadi pengasuh di rumahku..." gumam Sarah dengan suara yang lirih.

"Apakah ia wanita yang seru, dan suka bernyanyi?" tanya Bruth penasaran.

"Tidak sama sekali, ia benar-benar di luar imajinasiku, tapi yang mengerikannya," Sarah menghela napas, "adalah saat ia menggerutu sendiri!" teriaknya dengan mata yang membulat.

"Itu pasti mengerikan," kata Bremen. Bruth pun juga kaget tidak percaya.

"ia juga tak ingin bermain denganku,"
bisik Sarah lagi.

Kedua kaos tersebut lalu menunduk, mereka tak mengatakan apa-apa. Hingga akhirnya Sarah pun melepas mereka kembali dan meletakkannya ke atas bantal hias peninggalan Ibunya, yang bergaya seperti Phoenix, Sarah kemudian mengucapkan sampai jumpa ke Bremen dan Bruth.

 "Sampai jumpa, Bremen dan Bruth..." Sarah tersenyum dengan lembut.

Siang hari kemudian, tibalah saat Ayahnya harus pergi ke pangkalan militer, Sarah ikut bersama Ayahnya menaiki taksi untuk pergi menuju pangkalan yang berada tak jauh dari stasiun di kota lincoln.

Di dalam taksi yang berwarna hitam itu, Sarah duduk berdua dengan Ayahnya di bagian belakang, sedangkan di depannya ada supir dan juga Maggie yang ikut menemani mereka. 

Sarah terus diam di dalam taksi, ia tidak mengatakan apa-apa, John sempat meliriknya sekali.

"Sayang?" tanyanya.

"Aku tidak ingin bicara sekarang," kata Sarah sambil melirik dengan tajam.

Taksi melewati jalan yang berkelok-kelok di perbukitan wellingore. Sarah kembali menatap ke luar jendela taksi dan melihat ladang luas yang membentang jauh hingga ke ujung bukit.

Sarah mulai mendekatkan wajahnya ke luar jendela hingga ia melihat sesuatu yang tak biasa di tengah padang gembala. Ia melihat penampakan wanita yang terangkat di udara bersama sapunya, kaki wanita itu terulur sedikit.

 Sebuah tornado asap putih lalu muncul dan berputar di bawah wanita itu, dan membuat badannya menghilang ke dalam bungkusan kabut.

Itu tadi adalah pemandangan yang membuat mata Sarah membelalak tak percaya, tapi ia tak sempat melihat cukup lama karena mobil taksi terus melaju menuju pangkalan RAF di Cranwell. Sarah kemudian berhenti menatap ke jendela, ia masih terselimuti oleh perasaan tak percaya.

Apakah wanita tersebut adalah penyihir seperti di cerita Elbrama Loumney, atau hanya seorang pesulap yang tengah melakukan aksi menakjubkan, ia pun menjadi kagum dan sangat ingin bercerita ke ayahnya.

"ayah! aku tadi melihat penyihir!" kata sarah berteriak.

"benarkah dimana?" tanya john penasaran.

sarah pun menunjuk ke kaca jendela.
"tadi penyihirnya muncul bersama api hijau di luar!" katanya dengan nada tinggi.

maggie pun buru-buru mencondongkan badannya dan menatap ke arah sarah.

"benarkah itu nona beverley! aku jadi tak sabar untuk melihat penyihir itu juga." katanya dengan nada panjang.

sarah pun berpaling lalu menyilangkan kedua lengannya, wajahnya cemberut.
"tidak jadi... jadilah temanku dulu maggie!" katanya setengah kesal.

"baiklah terserah!" kata maggie mundur lagi ke belakang.

Taksi hampir tiba di dekat pangkalan, Sarah lalu melihat satu skuadron pesawat mendarat ke landasan udara, dengan suaranya yang bisingnya memecah udara. 

mata Sarah menatap ke arah tiga pesawat besar yang berputar perlahan-lahan menjauh dari jarak mereka. ketiga pesawat itu adalah airspeed oxford dengan dua baling-baling yang lebih berisik ketimbang pesawat yang lain.

Keduanya lalu turun dari taksi, John meminta Maggie dan supir taksi untuk menunggu sedangkan ia ingin berbicara berdua dengan Sarah. mereka lalu saling bertatapan di dekat gerbang dengan John yang mulai membungkuk dan memegang pundak putrinya.

"Sayang, Maafkan Ayah karena telah membuatmu kecewa," kata John pelan, alisnya menurun.

"Aku jelas kecewa Ayah..." kata Sarah dengan tegas, tatapannya menjadi tajam, "Aku ingin teman, sekolah, dan ulang tahunku kembali, yah. Namun mengapa itu sulit?" keluhnya, Sarah menatap ke bawah dengan perasaan yang hancur.

John menatap balik Sarah, ia tersenyum tipis dan mengingatkan kembali pesan dari istrinya,
"ingat pesan Ibumu kepada kita, sayang."

John menghela napas,
"Pesannya itulah yang membuat kita masih kuat hingga kini, kamu harus percaya..." katanya sambil melepaskan genggamannya.

John menunjukkan sebuah liontin untuk ia berikan kepada Sarah. di tengah liontin tersebut terdapat sebuah foto yang menampilkan seorang wanita dengan rambut yang gelap serta gaun yang cerah. Ia memiliki alis datar yang melengkung di ujungnya, meskipun warna fotonya hitam putih sarah dapat mengenalinya sebagai ibunya.

"Ini adalah Liontin Ibu, mengapa Ayah memberikannya kepadaku?" tanya Sarah dengan tak percaya.

"Ini untuk menjaga janji kita, ketika Ayah kembali maka Ayah akan mengambilnya lagi..." gumamnya dengan pelan.

Sarah tersenyum dengan pahit, ia lalu mengambil liontin tersebut dan memakainya sendiri, John kemudian mundur lalu tersenyum puas menatap Sarah, Sarah kemudian ikut tersenyum dengan senyum yang semakin melebar.

John lalu berpaling dan melangkah masuk ke dalam pangkalan, sedangkan Sarah masih berdiri di depan sana untuk mengucapkan sebuah kata sederhana, yaitu,

"Sampai jumpa, Ayah," kata Sarah dengan tenang, dan hampir menangis. "Aku berharap Ayah akan kembali lagi," sambungnya.

di dalam pangkalan itu john pun berjalan menuju puluhan pesawat De Havilland tiger moth, ukuran pesawat-pesawat tersebut lebih besar daripada badan john. ia merasakan bau dari bahan bakar pesawat yang mencuat dari cerobongnya.

"ace!" teriak para pekerja.

sementara itu para kru terus bekerja dengan cepat di sekitar pesawat, ada yang membawa troli berisi ragum, palu, dan alat lainnya.
"john, aku senang kamu datang kemari," kata nicholas memberikan sambutan.

beberapa orang dengan topi berlidah kemudian mendekati john lalu memberikan salam hangat kepadanya.
"halo john,"
"selamat datang kembali, John," sapa mereka.

john kemudian di dekati oleh pemuda dengan bentuk mata yang tajam, ia mengenakan topi komandan.
"halo tuan john, katanya kamu adalah dulu bekerja untuk RAF... lalu mengapa kembali?" kata pemuda itu dengan tenang, "perkenalkan aku Arthur Barclay, aku adalah komandan baru di RAF," sambungnya.

"Aku senang orang yang lebih muda dariku menjadi komandan, meskipun aku tak tahu mengapa nicholas mengajakku yang tua ini," kata john setengah bercanda.

nicholas pun tertawa kecil, ia lalu berputar dan mengayunkan lengannya ke udara.
"tapi lihat lah sekelilingmu john, anak-anak muda maju ke medan perang demi negara." kata nicholas, ia tersenyum lebar.

"lalu apa tugasku?" tanya john, ia menurunkan alisnya dengan tajam.

pemuda itu lalu menunjukkan satu foto hitam putih yang menunjukkan daratan sussex.
"kamu akan melakukan misi pengintaian dengan menggunakan pesawat dari tuan sidney cotton," katanya tenang.

Setelah lewat setengah jam, pesawat-pesawat yang ada di hangar pun mulai diberangkatkan, dengan gagah mereka membuat formasi kemudian lepas landas menuju langit. sarah memperhatikan dari jendela taksi dan menyaksikan bagaimana kilatan matahari memantul dari badan pesawat.

3 jam kemudian, sarah dan maggie telah duduk di taksi lain yang mereka naiki setelah turun dari stasiun dari kota york, taksi pun kini telah tiba di depan pekarangan rumah Sarah yang cukup hijau, bunga-bunga pun tumbuh di sekitar rumahnya.

Setelah turun dari taksi, Maggie segera menatap Sarah yang tengah berdiri di sampingnya dengan ekspresi serius, bibirnya terkatup dengan kuat dan matanya pun membulat.

"Jadi kamu harus menghormatiku, Nona, dan jangan pernah mempersulit tugasku atau kamu akan kuhukum," kata Maggie, suaranya yang serak itu mengeras.

"Aku tidak tahu mengapa aku harus menghormatimu?" kata Sarah dengan heran, Sarah menyilangkan kedua lengannya di dekat dadanya.

"Karena aku wanita de-" Maggie menahan mulutnya dan buru-buru melanjutkan," Maksudnya sebagai wanita yang lebih tua,"

Sarah memperhatikan cara bicara Maggie yang dirasanya aneh. membuat Sarah menjadi penasaran, "Maksudmu wanita dewasa? Mengapa kamu sulit mengatakannya?"

"Aku tidak bermaksud salah ucap, aku memang wanita tua," kata Maggie menggerutu.

"Tidak, kamu tadi kesulitan mengatakan kata dewasa," Sarah mulai merasa aneh. 

"Jika kamu bahas itu lagi, maka kamu akan benar-benar kuhukum!" kata Maggie dengan tegas," Sudah jelas aku adalah wanita tua," sambungnya dengan keras kepala.

"Tidak, kamu adalah wanita dewasa," kata Sarah membalas.

Maggie berjalan masuk ke dalam rumah, mendorong pintu dengan keras hingga menimbulkan suara yang nyaring.

Sarah mengangkat salah satu alisnya. Ia benar-benar merasa heran dengan perilaku Maggie apalagi wanita itu benar-benar berbeda dengan pengasuh umumnya. Bahkan jika dibedakan dengan aktris jenaka di Hollywood, Maggie tampak seperti wanita galak dari keluarga yang jahat.

Maggie masuk ke dalam rumah kemudian melanjutkan tugas rumahnya yang belum selesai, ia berjalan ke arah dapur dan kembali memasak. Maggie mengambil kentang dari karung bermotif edelweis dan mulai memotong-motong kentang dengan rapi. Sarah kemudian datang dan mengintip aktifitas Maggie di dapur.

"Potongannya presisi, mengapa kamu bisa melakukannya?" tanya Sarah yang mengintip aktivitas Maggie.

"Aku pernah diajarkan memasak di Institusi Norland," kata Maggie pelan dan lirih.

"Lalu bagaimana hidup di sana, apakah menyenangkan?" tanya Sarah dengan penasaran.

"Benar-benar menyenangkan," teriak Maggie, "Mereka mengajarkanku bagaimana cara mendapatkan hidup yang baru," sambungnya dengan tatapan kosong.

"Aku sendiri hanya bisa menonton wanita dewasa memasak... kamu menurutku mirip Cinderella," kata Sarah memuji.

"Apakah Cinderella semirip itu denganku?" tanya Maggie dengan nada tinggi.

"Ya, karena Cinderella suka memasak... teruskan memasak, Nona Haversham," kata Sarah gugup.

Suasana lalu menjadi hening, Sarah pun langsung pergi dari dapur dan melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya, Sarah pun mengunci pintu kamar dari dalam. Kebiasaannya ini sudah muncul semenjak ia pindah ke Desa Hutton Cranswick bersama ayahnya.

Biasanya Sarah menghabiskan waktu di dalam kamarnya dengan menulis pengalaman di buku harian, ataupun membaca dongeng-dongeng yang dikoleksi oleh ayahnya di dalam kamar itu.

Di sana, Sarah mengambil buku hariannya yang di simpan tepat di bawah bantal, dan mulai menulis tentang Maggie, pengasuh yang menurutnya unik itu.

Chapter 2: siapakah kelinci itu?

Di dalam kamarnya, Sarah pun mulai menulis di buku hariannya tentang maggie, sementara itu pintu kamarnya ia biarkan terkunci.

"Maggie tidak pandai berbicara ataupun ramah seperti Ibu Ranya, sebelumnya aku ketakutan saat pertama kali melihat sosoknya," tulis Sarah di bukunya.

Setelah selesai, Sarah menutup lagi buku tersebut dan menyimpannya kembali ke bawah bantal. Tak berselang lama, Sarah pun menoleh ke arah bantal hias di atas lemarinya. Di atas bantal itu sudah ada kedua kaos kaki mainannya yang ia namakan sebagai Bruth dan Bremen.

Kedua kaos kaki imajiner itu sudah Sarah miliki sejak bersekolah di sekolah Persiapan St Peter yang berdiri di tepi kota. Kedua temannya, yaitu Sticky dan Hayley, juga memiliki mainan kaos kaki mereka sendiri.

"Bruth... Bremen... aku akan memunculkan kalian lagi!" katanya dengan gembira sambil memasang lagi kedua kaos kaki tersebut ke tangannya.

"Hai Sarah," kata kedua kaos kaki tersebut, yang sebenarnya adalah suara dari Sarah sendiri.

"Apakah kalian akan percaya dengan apa yang kulihat sebelumnya?" tanya Sarah dengan antusias. Kedua kaos kaki itu pun saling bertatapan.

"Ketika di taksi aku melihat di luar ada seorang penyihir yang tengah mengendarai sapu terbang!" Sarah menggigit bibirnya, "dan di bawahnya ada kobaran api yang berputar seperti topan..." sambungnya.

"Apakah kalian percaya itu?" tanya Sarah.

"Ya aku percaya... Itu menarik Sarah!" kata Bremen.

"Tchhh, kamu percaya karena kita adalah makhluk mitos kan!" teriak Bruth skeptis.

"Apakah itu sudah ada di buku harian?" tanya Bremen dengan penasaran.

"Tentu saja, sudah kutulis, semuanya!" kata Sarah dengan bahagia.
"Mungkin saja penyihir itu benar-benar ada, seperti yang ditulis oleh Elbrama, tentang penyihir yang mengawasi manusia dari Snowdonia," sambungnya dengan wajah penasaran.

Sarah lalu melompat ke kasurnya dan menatap langit-langit kamarnya yang berwarna kuning pudar dan putih, sedangkan kakinya melangkah di udara.

"Mengapa aku bisa melihat penyihir, apakah aku juga adalah seorang penyihir?" tanya Sarah merenung, kemudian menatap ke arah Bremen dan Bruth. Namun ia tidak bisa memainkan kedua boneka itu karena ia sendiri tak punya jawabannya.

Sarah pun menjatuhkan kedua tangannya lalu mendesah keras.
"Jika aku benar-benar adalah seorang penyihir, mungkin aku bisa terbang menggunakan sapu, kemudian menggunakan tongkat sulap, lalu mengucapkan Abracadabra!" katanya dengan gembira. 

Sarah bangun kemudian berlari-lari di sekeliling kamar," Aku akan bisa berkeliling menjelajah kemana-mana!" katanya dengan gembira.

Sarah kemudian menebak," Mungkin akan bertemu dengan monster ataupun berteman dengan burung kecil."

Sarah lalu membuka jendela rumahnya dan berteriak iseng dengan suara yang keras, 
"Aku akan menjalani keajaiban!"

Maggie yang mendengar teriakan keras Sarah kemudian menoleh ke atas setelah mendengar teriakan Sarah dari lantai dua itu.

Sarah pun melepas Bruth dan Bremen dari kedua lengannya kemudian berlari keluar dari kamar. Ia pun keluar rumah dengan membawa sapu biasa kemudian ia pergi menjelajahi seluruh desa.

Di saat tengah menyusuri jalan-jalan di permukiman, tampak anak-anak dengan kalung berlabel diturunkan dari truk Commer.

Sarah kemudian mendekat karena penasaran," Apa yang sedang kamu lakukan, di luar bahaya nak?" tanya petugas RASC, yang berdiri gagah menjaga truk itu.

"Aku hanya ingin menuju sungai," kata Sarah meyakinkan.

"Yakin? Bukan karena kamu tengah mencari pesawat jatuh?" tanya sang petugas menggoda.

"Tidak, Tuan, tapi pernahkah kamu melihat penyihir? temanku dari pandu putri, Alice saunders pasti akan terkejut," kata Sarah dengan wajah jujur.
"Tidak," jawabnya sambil menahan tawa.
"Baiklah, permisi," kata Sarah sambil tersenyum dengan hormat.

Sarah pun menjauh dari truk itu dan pergi menyeberangi rel kereta api. Setibanya di pinggiran sungai yang kecil Sarah lalu menghabiskan waktunya dan bermain di sana.

Ketika tengah berjalan di tembok berbaru di pinggir sungai, Sarah tiba-tiba tersandung. Badannya seketika menghantam air sungai dengan kuat.

kepala sarah pun muncul dari air sungai, "Awwwh, sial!" teriaknya.

Untungnya air di sungai kecil tidak deras dan ia pun bisa keluar dengan selamat.
"Semoga Maggie tidak marah denganku." kata Sarah mengharap.

Sarah langsung pulang ke rumahnya dengan pakaian yang basah; badannya menggigil kedinginan sedangkan kakinya mengeluarkan suara berderit yang terdengar lucu karena basah. Sarah masuk ke dalam rumahnya dengan pakaian yang masih basah beserta sapunya yang kotor dengan lumpur.

"Astaga, apa yang kamu lakukan?!" tanya Maggie terkejut melihat Sarah.

"Aku hanya sedang menjadi penyihir..." gumam Sarah pelan.

"Apakah kamu tahu jika yang kamu lakukan ini menyusahkanku!" katanya dengan marah.

"Maafkan aku," kata Sarah menunduk muram, "Nona Haversham... bisakah aku membantumu sebagai permintaan maaf?" tanya Sarah gugup.

"Tidak perlu, cepat bersihkan dan bajumu," kata Maggie singkat.

Sarah tampak cemberut; mulutnya menegang.
"Kamu tahu, kamu tidak akan bisa menjadi pengasuh terhebat bila tidak mencoba berubah..." katanya sambil berjalan menjauh.

Sarah pergi menuju kamar mandi lalu mencuci setengah badannya yang penuh dengan lumpur. Setelah mandi Sarah pun mengganti pakaiannya dengan pakaian yang baru lalu menghabiskan waktunya bermain di dalam kamar.

Sarah kemudian merenung sambil menatap Bruth yang terpasang seadanya di lengan kirinya, masih membayangkan sikap Maggie tadi.

"Bruth, ia langsung menyuruhku untuk membersihkan diri, dan tidak mau aku membantunya," kata Sarah mengeluh, liontin dari ayahnya dia pegang di lengan kananya.

"Sikapnya membuatku bertanya, apakah pengasuh di seluruh dunia memiliki sikap seperti itu?" tanya Sarah penasaran.

"Persis seperti yang kukira, dia bukan pengasuh yang baik, Sarah," kata Bruth berkomentar.

Sarah lalu berbalik badan dan menatap Bruth dengan serius," Namun, kupikir Maggie dapat berubah Menjadi lebih baik, seperti Ibu."

"Aku tidak yakin, kamu saja tidak pernah melihat ibu," kata Bruth dengan tegas.

"Ya, aku bahkan tak pernah melihat Ibuku sendiri ketika berusia 2 tahun, rasanya...itu hampa," bisik Sarah dengan suara lirih, tatapannya nampak menyedihkan.

"Tapi, jika aku ingin Maggie menjadi lebih baik maka aku harus mempercayainya, dan memberikannya bantuan," kata Sarah dengan teguh, matanya membinar.

"Kamu memiliki pilihan yang bagus..." kata Bruth dengan nada datar.

"tentu saja, karena ayahku cerdas, dan aku persis sepertin," kata Sarah dengan meyakinkan.

Kemudian, di ruangan kecil yang sunyi, terlihat Maggie yang duduk merenung di atas kasur. Ia lalu mengambil salah satu kopernya dan mulai membuka koper hitam itu dengan hati-hati.

Tampak di dalam kopernya dua buah foto yang terpajang di panel koper. Sedangkan satu foto terlepas dari koper, Maggie dengan cekatan mengambil foto yang jatuh itu kemudian menahan foto itu dengan pengikat kuningan agar tidak jatuh lagi.

Terlihat dari foto yang baru saja dipasang oleh Maggie memperlihatkan seorang gadis bermata gelap, tatapannya sangat tajam dan tengah memakai syal yang berwarna terang pada foto hitam putih tersebut.
Maggie pun tersenyum lega setelah berhasil memasang kembali foto itu.

"Eliza, aku- aku akan mencari sihir itu, temanku, aku akan mencarinya" katanya tanpa berkedip.

Di dalam koper Maggie, sudah terdapat setumpuk koran dari the Telegraf di mana nama Rowan Bellamy terpampang jelas sebagai penulis artikel di nama koran itu. Sedangkan di atasnya nampak sebuah simbol segitiga yang hampir membentuk wujud hewan, disamping kiri kaki segitiga itu nampak tanduk berbentuk bulan sabit.

Sarah kemudian melangkah pelan dan berhenti di depan pintu kamar Maggie, tempat Maggie berada. Sarah lalu mengetuk pintu kamar dengan hati-hati untuk memanggil Maggie. Maggie pun menutup kopernya dengan perlahan lalu bangkit untuk membukakan pintu.

Maggie melihat Sarah sudah berdiri di depan pintu, Maggie memperhatikan pakaian Sarah yang kini sudah bersih, Sarah berdiri dengan gugup.

"Ada apa, Nona Beverley?" tanya Maggie, dengan suara ringkih "tapi lihat, kamu lebih bersih sekarang," sambungnya.

"Nona Haversham, bagaimana jika kita belajar cara mempercayaiku," kata Sarah dengan gugup.

Maggie memegang dagunya dan mulai berpikir," Tunggu, mengapa aku harus belajar begitu," tanya Maggie kebingungan.

"Kamu tahu apa yang diceritakan oleh ayah tentang ibuku," kata Sarah pelan.

"Ayah bilang Ibu selalu mempercayai Ayah, dan Ayah pun juga mempercayainya. Oleh karena itu, bolehkah aku mempercayaimu, Nona Haversham?" tanya Sarah dengan gugup, matanya berbinar.

Maggie lalu berpikir cukup lama, ia lalu mengusap dagunya kemudian menatap ke arah Sarah dengan serius.
"memangnya kamu pikir aku tidak mempercayaimu?" tanya maggie bingung.

"setelah beberapa kali... kamu keras," jawab sarah gugup.

"Baiklah nona Beverley, aku akan mencobanya," katanya singkat, maggie kemudian mendengus nafasnya.

"Baiklah, ayo kita ke dapur untuk belajar membuat daging panggang," kata Sarah dengan nada panjang.

Maggie pun mau saja diajak oleh Sarah menuju ke dapur rumah. Sarah berjalan dengan bahagia dan sempat menoleh ke arah Maggie, nampak senyuman manis terpampang di wajahnya.
"Paman Frederick selalu membagikan saus daging ke rumahku, coba saja, rasanya enak," kata Sarah dengan bangga di tengah jalan.

"sungguh, apakah rasanya seenak yang kau pikir?" tanya Maggie.

"ya! alice saja bahkan sausnya nilai 100" kata sarah tersenyum.

mereka berdua pun pergi ke dapur rumah. Maggie lalu bersiap memasak dengan mengambil satu potong daging dari laci dapur, kemudian ia segera menyalakan tungku arang dengan korek api batang.

Sarah kemudian mengambil keju yang ada di dalam laci, Keju itu berasal dari peternakan besar bernama BeBe Ranch yang berdiri di Yorkshire. Dengan cekatan Sarah segera menyerahkan keju itu ke Maggie yang tengah membumbui daging.

"Jadi apa ini akan membuatku tambah baik?" tanya Maggie penasaran.

"Tentu saja, kini kamu mungkin tambah baik," kata Sarah tersenyum manis.

Sarah lalu mengambil apel dari atas meja kemudian menggigitnya, hingga bersuara kecil. Aroma harum dari daging pun menyebar ke seluruh dapur, Maggie segera mengangkat daging yang matang itu ke piring, lalu ia oles dengan saus daging dan juga keju.

"Tunggu, saus di piringku harus banyak," kata Sarah bercanda.

"Asal kamu tahu, aku pernah dimarahi oleh pimpinan asramaku karena terlalu banyak memberikan pala ke piring." kata Maggie dengan kesal.

"Sungguh, kenapa?" tanya Sarah penasaran,
Sarah hanya menatap Maggie dalam diam, ia baru tahu jika Maggie bisa dimarahi hanya karena terlalu banyak memberikan pala.

"Tentu saja, karena itu tak sehat untuk anak-anak," kata Maggie dengan ringkih.

Sarah meraih daging panggang yang dimasak oleh Maggie kemudian memakannya perlahan, Sarah menyuapkan daging itu ke mulutnya dengan hati-hati dan rasa keju yang kuat itu pun muncul dan memenuhi rasa di mulutnya.
"Lumayan... enak," kata Sarah memuji.

Pada malam harinya Sarah masuk ke dalam kamar, sedangkan Maggie menyusulnya dari belakang. Maggie masuk ke dalam kamar sambil meletakkan air minum ke laci, ia pun langsung keluar dari kamar Sarah tanpa melakukan apa-apa.

"Sungguh, tak adakah cerita dongeng untukku, atau kecupan?" tanya Sarah dengan manja.

Maggie lalu berbalik dan menoleh ke arah Sarah," Tidak, aku saja sejak usia 12 tahun tidak pernah dicium begitu," kata Maggie dengan nada tajam.

Maggie menutup pintu kamar Sarah perlahan lalu suara langkahnya tersengar menjauh, Sarah pun menurunkan alisnya dan berjalan mantap. Ia mematikan lampu minyak di kamarnya dan mulai tidur dengan nyenyak, tanpa ada dongeng yang biasa menemaninya sebelum tidur.

Selama bermimpi, Sarah melihat seekor kelinci bermata biru cerah yang melompat semakin dekat, semakin dekat, dan semakin dekat. Kelinci tersebut lalu memberikan sebuah pertanyaan kepada Sarah yang hanya terdiam di dekat air mancur. 

"Apakah kamu sedang sendirian?" tanya kelinci tersebut.

"Tidak," jawab Sarah singkat, ia kebingungan tapi juga penasaran bagaimana kelinci itu bisa ada di hadapannya.

"Siapa yang menemanimu di rumah?" tanya si kelinci dengan serius.

"Aku ditemani oleh Maggie, ia menjadi pengasuhku setelah ayah pergi," jawab Sarah dengan gugup.

Kelinci itu menjadi tegang dan semakin dekat dengan Sarah. suaranya terdengar dengan lirih.
"Kamu harus segera lebih dulu pergi sebelum ia tahu.... Maggie adalah wanita yang berbahaya." kata kelinci itu dengan cemas.

Sarah lalu menurunkan alisnya, ia menjadi kebingungan, "Tunggu, kenapa kamu berkata begitu?" tanya Sarah serius.

"kamu akan tahu Sarah... lihatlah koper yang ia simpan di kamarnya, kecuali ia telah membuang bukti kesalahannya... Yang pasti kamu bisa lari dengan cara menembus lemari pakaianmu setelah memutar emblem Phoenix, tapi... tanpa sihir lemarinya hanya bisa ditembus bila kamu sedang bahaya..." kata kelinci itu berbisik.

Kelinci bermata biru itu pun kemudian perlahan-lahan menghilang, lenyap ditelan oleh kabut yang dinginnya menusuk ke dalam badan Sarah.

Sarah bangun dengan perlahan-lahan dari tidurnya kemudian bangkit dan berpikir sejenak, ia merasa pernah bermimpi tentang kelinci juga dulu tapi entah kapan.

Sarah menoleh perlahan ke lemari pakaiannya, ia penasaran apa jadinya bila ia benar-benar memutar emblem lemarinya. Bentuk emblemnya seperti burung phoenix yang tengah berputar searah jarum jam dan warna bulunya semerah bara api. Sarah pada awalnya tidak mengenal burung itu sebelum diceritakan oleh Ayahnya.

Sarah berjalan perlahan mendekati lemarinya, ia dipenuhi rasa penasaran," Kira-kira apa jadinya kalau aku putar sekarang..." katanya bergumam.

Lalu dengan iseng Sarah pun mengangkat tangannya dan memutar emblem Phoenix di lemarinya itu dengan gugup. Setelah emblem itu terhenti, Sarah pun mundur satu langkah dengan gugup, ia segera berlari menabrak lemarinya dan ternyata malah terbentur dengan keras, "Ooww!" pekiknya.

Sarah segera memegang kepalanya lalu berjalan pergi dengan terhuyung. 
"Astaga... mengapa tidak berhasil!" keluhnya.

Sarah pun berdiri kesakitan sambil mengusap jidatnya yang sakit. Dengan pasrah, Ia pun keluar dari kamarnya untuk mencari Maggie, "Maggie?" panggilnya, namun Maggie tak menjawab.

"Apa benar Maggie adalah wanita yang berbahaya?" tanya Sarah, alisnya berkerut tegang.

"Maggie?" panggil Sarah lagi.
Sarah berjalan keluar dari kamarnya, suara Maggie tetap tidak terdengaran meskipun ia sudah memanggilnya berkali-kali.

Sarah kemudian menemukan pintu dari kamar maggie masih terbuka, karena penasaran Sarah pun mencoba untuk masuk dan melihat-lihat sekelilingnya, ruangan di dalam kamar kecil itu, nampak sunyi dengan tumpukan koper milik Maggie.

Sarah mendekati salah satu koper yang berwarna merah kemudian menyentuhnya dengan hati-hati. Setelah koper itu dibuka Sarah pun melihat seluruh isi koper itu.

"Foto siapa ini?" tanya Sarah dengan penasaran. Sarah memperhatikan tiga foto yang terpajang di panel koper.

Kemudian Sarah mengangkat koran dan membaca isinya dengan serius. kertas koran nampak lusuh dan berdebu, seperti koran yang sudah berusia 10 tahun.

"Kepala pemilik panti asuhan, nona Angelina Charmen telah menuntut Margaret O'Neill, gadis 19 tahun atas dugaan pencemaran nama baik tertulis. Pernyataan gadis itu telah menyebar ke banyak koran di London dan membuat warga menjadi skeptis akan beberapa panti asuhan. namun benarkah jika panti asuhan milik Nona Angelina merupakan salah satu dari panti yang melakukan kejahatan itu?"

Sarah terus melanjutkan membaca dengan tegang, "18 Oktober, 1910, Margaret berhasil melarikan diri saat tengah dibawa ke Royal Courts of Justice. Gadis itu melompat keluar dari truk dan segera melarikan diri setelah beberapa kali bergumam menyebut roxa. kasus margaret pun tak pernah dilanjutkan lagi."

"Margaret membuat pernyataan yang membuat beberapa panti asuhan protes," kata Sarah terpaku dengan tulisan di koran itu.

"Tapi siapa Margaret, apakah itu Maggie..." tanyanya dengan ketakutan.

kemudian dari luar terdengar langkah kaki pelan yang berjalan masuk menuju ke arah ruangan tempat Sarah berada sekarang. Langkahnya berat dan sunyi. Sarah menoleh dan melihat Maggie sudah masuk ke dalam kamar ini dengan wajah mengerikan dan senyuman sinis.

"Nona beverley! apa yang kamu lakukan dengan koran di koperku!" tanya maggie,

ia berteriak dengan keras, suaranya mengejutkan sarah.

Sarah segera berdiri dan menatap Maggie dengan ketakutan, "Aku penasaran dengan kopermu karena... ada seseorang yang menyebutmu jahat," kata Sarah dengan gugup.

Maggie lalu berjalan mendekati Sarah sambil memegang sebuah pembuka surat di tangan kanannya untuk memberikan ancaman.

"lagipula pemotong surat itu tak akan menakutiku," kata sarah pelan.

"aku tidak jahat, nona Beverley, khususnya padamu" kata Maggie dengan mata melebar, ia kemudian lanjut berbicara dengan nada serius,
"Kamu sebelumnya telah melihatnya, sihir, sesuatu yang tengah aku cari, dunia sihir!" 

"Mengapa kamu mencarinya" tanya Sarah, matanya membulat menatap ke arah Maggie.

maggie kemudian mencondongkan kepalanya dan tersenyum tipis.
"karena aku pernah bertemu keajaiban, keajaiban itu memintaku untuk mendekatimu..." kata maggie pelan.

"mengapa?" tanya sarah tegang.

"karena kamu menyembunyikannya nona beverley!" kata maggie keras.

"aku tidak menyembunyikan apapun! sungguh!" jawab Sarah dengan nada kencang.

maggie pun melanjutkan ucapannya dengan berbisik halus, "Tolong jangan takut padaku Nona Beverley...biarkanlah aku menemukan dunia sihir itu,"

Tatapan Sarah melebar, mencoba untuk mencari celah, "aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, aku tidak akan bilang apa-apa!" teriaknya, Sarah langsung lari dengan langkah keras melewati Maggie.

"Aaahh, nona Beverley!" pekik Maggie, Maggie pun langsung berputar untuk mengejar Sarah.

Sarah keluar dari kamar itu dan lari dengan cepat ke arah kamarnya, "Aaaaah!" teriak Sarah kencang. Ia segera masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.
dadanya bergetar tidak beraturan, sedangkan napasnya terengah-engah.

"aku harus apa!" tanya sarah panik.

pintu kamarnya pun digedor-gedor oleh Maggie dengan keras, "kamu tidak bisa bersembunyi, nona Beverley!" teriak Maggie.

Sarah terdiam membisu di dalam kamar, melihat pintunya mulai dipukul-pukul dengan keras, Sarah lalu menoleh ke arah lemarinya dan berharap lemari itu benar-benar dapat menolongnya kali ini, nampak percikan sihir muncul di emblem tersebut yang seketika membuat Sarah terkejut.

"Emblemnya!" teriak Sarah panik.

ketika pintu itu terbuka, Sarah segera lari dengan ketakutan mencoba untuk membuka lemarinya, ia percaya jika lemari itu pasti akan menolongnya. Pintu kamar sarah pun terbuka.

"kamu mau kemana!" teriak maggie keras.

Maggie yang sudah masuk ke dalam kamar langsung mengejar Sarah, mencoba untuk meraih kerah pakaiannya.

Sarah kemudian membuka lemari yang seketika menunjukkan lubang bawah tanah yang luas, lengan Maggie yang sudah meraih kerahnya dari belakang. membuat sarah tercegat.

"apakah ini hocus pocus!" teriak maggie panik. "aku tidak akan membiarkanmu jatuh!"

"aku tidak tahu!" teriak sarah.

Sarah kemudian melompat hingga kerahnya tertarik keras, maggie yang tetap memegang kerah sarah kemudian terhuyung dan ikut terjatuh bawah lubang itu. Di dalam kegelapan Sarah pun terjatuh ke bawah, membuat Maggie kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh juga ke dalam lemari. Mereka berdua jatuh dengan cepat entah kemana. Sarah dan Maggie sama-sama berteriak dengan panik.

Genggaman Maggie di kerah Sarah kini terlepas dan ia pun jatuh lebih cepat ketimbang Sarah, Maggie seketika berteriak ringkih memanggil nama Sarah dengan kencang, "Nona Beverley!... Aku sudah mendugaa-" teriaknya, Maggie menghilang di dalam kegelapan.

Chapter 3: Terbawa ke sekolah sihir

Sarah kemudian terbangun di atas pasir gua yang lunak, ia diselimuti oleh celemek milik maggie yang sudah menutupi badannya sampai bahu. ia sama sekali tidak merasakan ada yang sakit, seolah-olah momen jatuh tadi hanyalah mimpi. sarah kemudian menyingkirkan celemek itu.

"Di mana aku?" tanya Sarah kebingungan.

"Aku tak dapat melihat...Maggie?" panggilnya.

Sarah kemudian bangkit dari tanah sambil memegang tangannya yang sakit. Seketika, dingin dari gua itu menusuk badannya, seperti mencoba untuk mengusirnya, Sarah langsung merasakan takut. Lalu tiba-tiba di ujung gua datang cahaya berwarna biru terang, menyinari lorong dan pelan-pelan mendekat ke arah Sarah.

lalu tampaklah seekor boonie yang lebih besar dari kelinci muncul di lorong gua, boonie itu memiliki telinga yang lurus panjang sepanjang betis dan bulu dalam telinganya memiliki panjang seperti surai, matanya berwarna biru baja sama seperti kelinci di mimpi Sarah. Si boonie juga memakai jubah wol tebal berwarna hijau  dan membawa lentera bercahaya biru yang menerangi seisi gua dengan cahaya.

"Tuan Kelinci?" panggil Sarah penasaran.

boonie itu lalu tersenyum di hadapan Sarah, "Di majisca makhluk seperti aku ini disebut boonie, dan panggil saja aku, Ash," kata boonie itu ramah.

"Kamu adalah kelinci yang muncul di mimpiku, kan?" tanya Sarah gugup.

telinga boonie itu menurun diagonal lalu naik lagi pelan, "Ya... itu benar, aku terburu-buru menghubungimu dengan telepati setelah mendengar jika ayahmu pergi."

Sarah terlihat kebingungan, "Dari mana kamu tahu..." tanyanya penasaran, boonie itu tak menjawab dan malah berbalik.

"Ikuti aku, ada yang ingin kutunjukkan padamu," kata Ash dengan serius.

"Tapi di mana Maggie? dia tadi mengejarku," tanya Sarah bergumam, dia menurunkan kepalanya.

Sebelumnya, Maggie juga terjatuh ke dalam gua itu, Badannya jatuh menimpa pasir yang lunak, kemudian berusaha untuk bangkit dari tanah.

"Aaw, aku di mana..." pekiknya setelah meringkih kesakitan, "apakah ini..."

ia melihat sarah terbaring di sampingnya. maggie menatap dengan mata lebar, ia sempat bergumam kecil memanggil sarah sebelum akhirnya ia melepaskan celemeknya lalu meninggalkan sarah sendirian.

Maggie kemudian sudah sampai hingga tiba di pintu gua, Maggie lalu menatap ke sekeliling. Cahaya pagi itu menyatu dengan indahnya bentang alam di bawah berbukitan, membuat Maggie seketika melupakan tujuan sebelumnya. Burung-burung Nightjar pun beterbangan melintas di atas kepalanya untuk melakukan migrasi.

"...nightjar!" teriaknya dengan tatapan tajam, "aku sudah ti-tiba disini," katanya bergumam.

"... wahai teman ajaibku, aku sudah tiba- aku akan mencarimu!" teriaknya dengan senyuman getir, matanya berkaca-kaca.

maggie lalu menjatuhkan pembuka surat yang dia bawa ke tanah, ia tidak peduli lagi dengan masalahnya.

Dengan perasaan terpana, Maggie berjalan entah kemana, sedangkan Ash segera berjalan masuk ke dalam gua. Setelah itu Ash bertemu dengan Sarah.

"Ia lebih dulu mengelilingi dunia sihir yang ia cari. aku tak mengerti mengapa ia bisa terharu," kata ash heran.

"bolehkah aku mengelilingi dunia itu juga?" tanya sarah penasaran.

ash menjadi sedikit terkejut, "tidak-tidak-tidak, sarah kamu harus menuju brighford, bukan mengelilingi wilayah yang belum kamu kenal," katanya dengan nada tinggi.

"Brighford? Tempat apa itu?" tanya Sarah, ia berjalan dengan tenang.

boonie itu pun terkekeh, "Haha, itu adalah kastil perbatasan utara yang diubah menjadi tempat pelatihan para penyihir, Atau yang disebut sebagai: sekolah penyihir," 

Sarah terkejut mendengar hal itu, dia pun berjalan lebih dekat ke boonie itu dengan penasaran, melupakan tangannya yang tadi sakit.

"Sungguh! apa tempat itu benar-benar ada, apakah penyihir butuh sekolah?" tanyanya dengan antusias.

"Tentu saja, kamu akan lihat sendiri nanti," kata si boonie dengan bangga.

Lewat jalur dan cahaya yang diberikan oleh Ash, Sarah akhirnya berhasil keluar dari gua tersebut dan melihat sinar matahari kembali, Sarah melihat Ash terus berjalan, dan ia pun dengan terburu-buru mengejarnya.

di perbukitan jagonce, nampak dua sosok berupa gadis dengan rambut pirang yang tengah menuruni kaki bukit dan dipandu oleh seekor boonie berwarna putih. boonie itu mematikan lentera di tongkatnya dan menuruni bebatuan bukit dengan santai. sarah, disisi lain menyapu rambut di pipinya yang tertiup oleh angin pagi yang sejuk.

"Letak kastilnya di sini," teriak Ash dengan santai, Sarah langsung mengejarnya.

Mereka berdua lalu menuruni bukit berbatu dan masuk ke dalam kanopi hutan, "Kemudian, kita akan masuk lewat bagian labirin," kata Ash.

Setelah itu, mereka akhirnya tiba di sebuah tembok tua yang ditumbuhi akar akar pohon dengan labirin hijau di baliknya, Ash kemudian mendorong gerbang besi tembok itu dibantu oleh Sarah, suara gerbang besi itu pun menderit dengan kasar.

"Apakah ini gerbang kastilnya?" tanya Sarah bergumam.

"Ya, salah satu gerbang lebih tepatnya," kata Ash.

Labirin itu terlihat sangat tinggi dan dipenuhi bunga merambat, Ash lalu menggenggam tangan Sarah dengan lembut dan membawanya memutari labirin.

Sarah kemudian menemukan sebuah menara yang berdiri di tengah labirin, di dekat patung sang penyelamat.
"Ada menara di sana," kata Sarah sambil menunjuk.

"Mau melihat kastil dari menara itu?" tanya Ash sambil tersenyum.

Sarah pun segera berlari ke arah menara kemudian melangkah masuk ke dalam. Di sana ia segera menaiki tangga menara satu persatu. Ash lalu mengejarnya dengan terburu-buru di belakang.
"Pelan-pelan, Nak," kata Ash.

Sarah akhirnya tiba di ujung menara, di atas menara itu nampak banyak perkakas dan juga terdapat tiga jenis bendera yang terpajang di pilar-pilarnya. Satu bendera berwarna merah tua dan menunjukkan sosok griffin yang tengah menggenggam sebuah telur dengan empat kakinya, satu lagi berwarna kuning emas menunjukkan sosok unicorn yang tengah berdiri di atas semak berduri, dan terakhir menunjukkan seekor Cerpelai yang tengah keluar dari semak semak.

Sarah kemudian melangkah maju menuju balkon menara dan melihat di kejauhan sebuah kastil megah yang penuh puncak runcing dengan penopang terbang sekaligus jendela persegi panjang yang memanjang ke atas. Terlihat juga di samping kastil itu sebuah bangunan melingkar dengan dinding yang berbentuk polygonal, yang tampaknya terbuat dari kayu dengan struktur berwarna hitam. itu adalah amphiteater yang terhubung dengan kastil sekolah melalui jembatan penatua.

Sarah pun terpesona dengan pemandangan kastil itu. Matanya bulat berbinar, si boonie lalu menyusulnya dari belakang kemudian berdiri untuk ikut melihatnya.

"Aku tidak menyangka, ini seperti kastil di cerita dongeng," kata Sarah dengan nada lirih.

"Jadi kamu ingin menunjukkan ini kepadaku, ya?" tanya Sarah berbisik.

"Tidak, lebih dari itu," kata boonie ringkih, suaranya pelan, "Kamu adalah penyihir, Sarah, kamu lahir di dalam garis penyihir di masa lalu,"

"Tunggu...apa kamu serius?" tanya Sarah, matanya terbuka lebar.

boonie itu pun terkekeh lagi, "Ya, benar bahkan kamu sudah ku daftarkan ke Brighford,"

"Tapi, mengapa kamu langsung daftarkan aku tanpa aku tahu?" tanya Sarah heran.

Ash lalu menghela napas panjang kemudian menjatuhkan telinganya itu hingga menghadap ke tanah.

"Kamu tidak perlu marah, ini adalah kesepakatan bersama dengan John," katanya dengan nada serius, boonie itu lalu melanjutkan, "Isi kesepakannya, bila kamu sudah tinggal sendirian, maka kamu boleh tahu akan majisca..."

"Sungguh, kenapa kalian membuat kesepakatan seperti itu?" tanya Sarah sambil menghela napas.

Ash menghela napasnya, "seingatku tujuannya untuk merahasiakan majisca darimu," jawab Ash dengan nada berat.

Sarah pun merenung cukup lama, dia menatap ke arah Ash dan menatap wajah boonie itu. "Kenapa ayah merahasiakannya?" tanyanya bingung.

"Karena dunia inilah yang telah mengutuk ibumu... Dan aku pun tak tahu dimana ia berada, john hanya ingin melindungimu dari bahaya," jawab Ash pelan.

"tapi... bagaimana jika aku menghadapi bahaya itu, ibu bilang jangan lari dari masalah kan?" tanya Sarah lirih.

ash pun meninggikan alis dan telinganya, ia terlihat lega.
"ya, benar! tapi ingatlah satu hal sarah... jangan ragu untuk mencari jawaban," katanya tersenyum.

"baik, aku akan melakukannya," kata sarah ringkih.

Kemudian di belakang mereka seorang anak melangkah dengan santai mendekat, dia memakai jubah pendek berwarna biru malam dengan celana hitam panjang di balik tunik putih, serta rompi sekolah berwarna hitam.

langkah kakinya membuat Ash bergidik lalu mengangkat lagi kedua telinganya. Ash pun menoleh dan melihat Jade Marley sudah ada di balik kolong dengan senyum santai.

"Apa yang kamu lakukan disini Jade? Bel kelas pasti akan berbunyi sebentar lagi," tanya Ash kesal.

"Ah, iblis bulan. Aku ke sini hanya untuk latihan akrobat," jawab Jade dengan santai.

Jade memiliki mata yang sedikit sipit dengan alis yang tebal, sementara itu pipinya membulat saat ia tersenyum sinis ke arah Ash.

"Iblis bulan bukan namaku! namaku Ash, bagaimana anak dari Samuel lupa?" kata Ash kesal.

"Maaf tuan boonie, nama Ash terlalu keren untukmu," kata Jade sambil tertawa.

"Terserah," kata Ash sambil menghempaskan lengannya.

"Jadi... siapa gadis itu?" tanya Jade melirik ke arah Sarah.

Sarah lalu melangkah mendekati Jade lalu memperkenalkan dirinya. "Aku Sarah Devon Beverley, seorang anak yang baru saja didaftarkan ke Brighford," jawabnya dengan wajah datar.

"Oke, aku Jade Marley, anak dari seorang ahli akrobat," kata Jade dengan bangga, seolah ayahnya sangat terkenal.

"Jade, maukah kamu mengantar Sarah masuk ke dalam Brighford?" minta Ash sambil menatap mereka berdua.

"Baiklah, saat bel berdering," jawab Jade tersenyum dengan tulus.

"Bagus," puji Ash singkat, "Aku akan pergi."

"tunggu, kamu mau ke mana?" tanya Sarah, tatapannya lurus ke arah Ash.

"Tugasku sudah selesai nak, aku harus pergi membantu temanku, torcall," kata Ash dengan suara lemah.

"Aku hanya akan menolongmu sampai sini, selanjutnya Sarah, cobalah untuk berjuang sendiri dan mencari teman di sekolah ini," sambungnya dengan tatapan berbinar.

sarah yang biasanya dipagi hari hanya memutar tombol radio tanpa ke sekolah seperti anak lainnya pun merasa aneh, karena pada awalnya ia masih tidak terima harus meninggalkan kota.

Ash lalu mendekati Sarah kemudian menyentuh kedua lengan Sarah, ia pun mengadah ke arah Sarah, "Aku percaya padamu," katanya lembut.

"Terima kasih...Ash, karena telah memperkenalkan tempat ini," Sarah menunduk dengan perasaan campur-aduk.

"Teruslah berjuang, nak," kata boonie itu tersenyum. Ash lalu membungkuk lagi kemudian melangkah menuruni tangga menara.
 
"Sarah, apakah kamu baru pertama kali melihat dunia Majisca?" tanya Jade penasaran.

"Sepertinya begitu," jawab Sarah malu, "Aku pertama kali melihat penyihir terbang bersama api hijau, ketika tengah berada di dalam taksi," Sarah menghela napas, "Aku sangat yakin jika itu tidak berasal dari imajinasiku."

"Sungguh kamu melihat itu? Apakah kamu langsung didatangi oleh orang asing?" tanya Jade penasaran.

"Tidak, memangnya kenapa?" Sarah balik bertanya dengan heran.

"Karena yang datang itu pasti bukan orang asing biasa, mereka adalah para penyihir Quaestor yang akan menghapus ingatanmu bila menyebarkan rumor tentang dunia sihir ke orang lain," kata Jade dengan nada dilebih-lebihkan.

"Jadi, apakah yang kulihat waktu itu adalah seorang Quaestor?" tanya Sarah, matanya melebar.

"Bisa jadi begitu," jawab Jade tersenyum.

Setelah berselang lama suara bel dari jam mekanik raksasa pun berdentang hingga kejauhan, Jade segera bergegas menuju balkon menara.
"Itu suara jam, tandanya waktu sarapan pertama telah selesai," kata Jade dengan antusias.

"Tapi bagaimana caraku melewati area labirin?" tanya Sarah bingung.

"Tenang saja, lihatlah, aku akan menunjukkan sesuatu," kata Jade dengan percaya diri.

Jade pun mengambil tongkat sihirnya dari kantong jubah nya dengan kelas columba kemudian mengarahkan tongkat sihir itu ke arah labirin yang luas. Dengan mantra *movetur phantasia* Jade pun membuat seluruh bagian labirin bergerak sendiri dan membukakan jalan pintas yang lurus ke depan dari menara. Sarah pun menjadi kagum.

"Itu tadi sihir yang luar biasa, bagaimana kamu melakukan itu," kata Sarah dengan takjub.

"Dengan latihan," jawab Jade, "Sekarang ayo kembali ke sekolah."

Jade pun segera berlari menuruni tangga menara, kemudian disusul oleh Sarah di belakangnya, mereka berdua pun keluar dari menara lalu berlari dengan cepat menyeberangi labirin.
"Ayo cepat," teriak Jade sambil tertawa, Sarah pun membalas tertawa.

Sarah memperlambat larinya, ia berhenti untuk mengadah untuk melihat lagi kastil itu. Ia lalu memutar badannya dan melihat ke sekeliling hingga di ujung cakrawala, muncullah beberapa penyihir yang terbang dengan sapu mereka mendekat ke arah sekolah, sapu terbang mereka sedikit tergoyang miring saat mereka berbelok.

Salah satu dari para penyihir itu adalah Dory Lannsoir, murid tahun kedua dengan rambut ikal cokelat yang mengembang. Dory dengan percaya diri kemudian terbang ke arah kastil, lalu masuk melewati bingkai berlubang di atap kastil, ia memperlambat sapunya hingga badannya terdorong ke depan sedikit kemudian ia melanjutkan terbangnya dengan melangkah di atap kastil seolah-olah sedang berlari dengan sapu terbangnya. dory lalu melompat dan memiringkan badannya ke kiri melewati menara di hadapannya.

"Langkah yang bagus, lannsoir!" teriak temannya.

"Ya itu langkah yang sempurna," kata temannya yang lain.

Dory pun tersenyum lebar, ia lalu berbelok dan mengelilingi kastil beberapa kali, sebuah percikan sihir juga muncul di belakangnya seperti bara api.

Setelah menyaksikan aksi mereka, Sarah pun lanjut melangkah menuju sekolah. Di depannya terdapat sebuah kolam dengan patung Merkurius yang megah. Terlihat jika Sekolah itu memiliki dua buah pintu dengan timpanum yang sama persis tepat di depan kolam dan patung.

Di depan pintu masuk tenggara tersebut sudah ada seorang profesor yang tengah berdiri sambil mengawasi anak-anak yang masih berada di luar sekolah, ia memiliki rambut hitam bergelombang yang dikepang tunggal serta memiliki dagu yang agak runcing, profesor itu memakai mantel putih yang ditutupi oleh bolero berbulu. Ia melirik ke arah Sarah kemudian tersenyum lebar.

"Lihatlah ke sana, sepertinya ada siswa baru," katanya dengan suara panjang dan manja.

Kemudian seluruh murid dari asrama Rosemith pun menoleh melalui kolom pintu, mereka semua memakai jubah pendek berwarna merah karmosin dengan  dengan tunik panjang berwarna putih yang dilapisi oleh rompi hitam. Mereka memperhatikan dengan penasaran.
"Apakah dia murid baru, profesor?" tanya Nancy Jane dengan nada rendah.

"Apakah dia lupa seragam?" tanya Vincent dengan cepat.

"Dia pasti terburu-buru datang ke sekolah ini," kata profesor Marcelli dengan lembut.

"Apakah kalian ingin memberinya sambutan khas kita," katanya lagi, profesor Marcelli menaikkan satu alisnya.

"Tentu profesor," jawab Bruce Avaleaf gembira.

"Aku mau, profesor," teriak anak lainnya.

Seketika seluruh murid dari asrama Rosemith itu pun membentuk barisan dan melakukan langkah menuju ke samping kanan sarah, selama berjalan mereka juga berteriak: Segeralah meringkuk, karena kamu menawan! beberapa kali.

"Apa ini?" tanya Sarah yang bingung sekaligus kagum, "tapi ini luar biasa..."

"apakah kamu penyihir!" celetus seorang murid di tengah sorakan.

"diamlah dan tunggu sampai selesai!" kata yang lain.

Sarah mundur dengan panik setelah didekati oleh semua anak itu, anak yang melewati samping kanannya pun kemudian mengambil arah memutar, berjalan berlawanan arah di sisi kiri. setelah barisan itu genap mereka pun langsung saling berhadapan dan membentuk jalur yang lulus.

profesor Marcelli pun berjalan mendekat lalu menunggu di ujung jalur panjang itu, ia tersenyum dengan ramah ke arah Sarah. Sarah kemudian melangkah dengan malu ke dekat sang profesor.

Profesor marcelli lalu mengangkat tangannya setinggi kepala, membiarkan jempolnya terbuka sedangkan dua jarinya lagi melangkah singkat di udara, "Hai sayang, siapa namamu?" tanyanya dengan manja, alisnya terangkat tinggi.

"Sarah Devon Beverley..." jawab Sarah dengan senyuman tipis.

"Aah... Devon Beverley, apakah kamu putri Liliana!" kata profesor Marcelli, terkejut nada suaranya naik turun.

"Ya, dari mana kamu tahu?" tanya Sarah kebingungan. Sarah menatap senyuman profesor itu.

"apakah ibumu mewariskan nama devon padamu" kata profesor Marcelli dengan senyumannya yang tipis.

"Devon, ya?" tanya Sarah dengan nada lemah.

"Namaku Olga Devon Marcelli, aku ingat bagaimana ia tertarik dengan isi jam meridian," kata profesor tersenyum.

"Memangnya ada apa dengan nama Devon?" tanya Sarah dengan mata membesar.

"Karena itu adalah nama tokoh penyihir," jawab profesor marcelli singkat.

"Jaques Devon adalah seorang utusan dari dewan sihir untuk mendapatkan mesin mekanik dari manusia, secara diplomatis pada tahun 1762," kata lois ikut berbicara.

"Terima kasih Lois. itu sudah cukup," ujar profesor Marcelli.

"Jadi...apakah Ibuku adalah penyihir?" tanya Sarah, hatinya berdebar.

"Ya...dia adalah penyihir," jawab profesor Marcelli ramah.

Sarah menurunkan kepalanya, dia terdiam membeku setelah mendengar pernyataan profesor. profesor Marcelli kemudian menggunakan mantra apparaiter, dan seketika sebuah guci berat pun muncul di depannya, tembikar itu berwarna putih, memiliki sulur merah karmosin dan biru malam yang saling berbelit, di samping kanan tembikar itu ada kaca vertikal mirip kaca termometer.

"profesor, apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Sarah penasaran.

"Beverley, ini tembikar ho-lop, ia bisa mengukur seberapa dalam kekuatan sihir yang kau miliki" Kata profesor Marcelli tersenyum pelan.

"kekuatan sihir? apakah aku memiliki itu?" tanya sarah ragu.

"tidak ada yang tahu bila tak dicoba, sayang," kata profesor marcelli menggoda.

"baiklah," jawab sarah pelan.

"tapi tembikar ini kadang bisa kelewatan dengan memunculkan biora, tapi jangan khawatir, biasanya akan hilang dalam beberapa saat," kata profesor santai.

profesor kemudian mengambil tembikar itu kemudian menggandengnya dengan kedua tangannya. ia lalu berjalan pelan kemudian mendekatkan tembikar itu ke hadapan sarah.

"sekarang, cobalah untuk sentuh telapak tanganmu ke tutup tembikarnya," profesor marcelli tersenyum ramah.

sarah kemudian dengan perlahan-lahan dan ragu meletakkan tangannya ke tutup wadah tembikar yang berbentuk kubah, sedangkan di bawah tutup itu ada tiga buah pipa saluran udara. 

"Kira-kira kekuatannya akan sebesar apa?" Tanya Bruce ke Vincent di sampingnya. "Apakah ia akan menjadi bagian dari kita?" sambungnya.

"Mungkin ia akan jadi bagian sylphine!" tebak Vincent penasaran.

Sarah kemudian terkejut tembikar itu mengeluarkan asap lewat saluran udaranya serta memunculkan suara peluit yang bagai suara kereta api.

partikel berwarna putih kemudian naik dari balik kaca di samping tembikar, naik sampai menuju ujung sulur berwarna biru malam.

"Itulah bukti, bukti kalau kamu adalah penyihir, beverley," kata Marcelli terharu. 

Di sisi lain, beberapa murid Rosemith mulai berbisik setelah melihat tingkat yang diberikan oleh tembikar itu.

"lihat garis tingkatnya, hanya sampai ke sylphine," kata shirley.

"Apa-apaan itu?" tanya Lois Amber berbisik.

"profesor memujinya terlalu berlebihan," Shirley menurunkan alisnya, di balik poninya yang lebar.

"Dia mungkin akan menjadi Jennifer selanjutnya," tebak Edith Rensley, matanya yang bulat menatap dengan penasaran, meskipun ia sebenarnya tidak serius mengatakan itu.

"profesor, lihat tingkatnya, ia akan menjadi siswi sylphine saja," kata Nancy Jane.

Nancy yang memberanikan diri untuk berbicara tentang kedalaman sihir  Sarah, ia memakai aksen durham ketika berbicara serta jubah pendek berwarna putih dengan pola merah muda yang cantik.

"Benar, itu bahkan lebih rendah dari Jennifer," kata Edith dengan lantang. Semua anak perempuan itu pun tertawa kecuali anak laki-laki, mereka hanya terdiam tak dapat menghentikan tingkah semua gadis itu.

profesor Marcelli pun tersenyum dan menatap mereka dengan geli, "Tenang dulu anak-anak, lihat ini,"
profesor kemudian menatap ke arah gumpalan asap yang tertahan di udara dan membentuk pusaran kecil.

"apa yang akan terjadi?" tanya sarah terpesona.

profesor marcelli terdiam, ia kemudian berbisik, "biora akan muncul,"

sarah terdiam, dan beberapa murid pun memperhatikan dengan tegang. pusaran asap kecil itu kemudian membesar membentuk seekor angsa berwarna putih dengan mata merah. burung tersebut kemudian terbang tinggi dan berputar di sekitar sarah.

"Itu tadi seekor angsa!" kata Sarah kagum.

"Aww...sangat romantis, dia adalah Barbedswan," kata profesor Marcelli dengan perasaan haru.

"Bagaimana bisa angsa muncul," tanya Sarah dengan panik.

"Sarah, biora tersimpan didalam sihir penyihir sebagai familiar," kata profesor Marcelli lirih.

"Tapi aku tak sadar memiliki sebuah biora!" jawab sarah dengan ekspresi terkejut.

"bagaimana bisa kamu tak sadar padahal itu ada didalam dirimu?" tanya bruce ke heranan.

Professor Marcelli kemudian menunduk dan tersenyum ke arah anak-anaknya.
"mungkin biora itu sudah ada sebelum ia tahu," jawab profesor singkat.

Angsa itu pun lalu mengepakkan sayapnya kemudian menghilang menjadi uap. Kini, para gadis-gadis Rosemith kembali berbisik lagi, mereka meragukan biora yang muncul tadi.

"Itu terlalu indah untuk dimiliki gadis serendah Sylphine..." kata Lois berdiskusi.

"Mungkin dia telah dirasuki oleh bioranya," celetus Edith bercanda.

"coba hitung berapa pemilik Barbedswan di asrama kita?" tanya Lois dengan serius.

"tidak banyak, tapi apakah profesor grimble termasuk?" tanya nancy polos.

Shirley, gadis berambut auburn pun mulai menghitung dengan menggunakan ingatannya, sementara itu Vincent dan Bruce hanya memperhatikan tiga gadis itu.

profesor Marcelli pun menggelengkan kepalanya kemudian berjalan mendekati para muridnya itu dan menatap mereka dengan ramah.

"Tidak boleh ada yang meremehkan, entah apakah dia pernah tersandung di padang rumput..." Kata profesor Marcelli, ia berhenti sejenak.

Para gadis Rosemith itu pun terdiam untuk mendengarkan perkataan profesor Olga Marcelli, mereka lalu berbaris dan mendengarkan sambil tersenyum.

"Apakah ia adalah penyihir setengah manusia, ataupun ada yang menakutkan di dalam keluarganya..." kata profesor Marcelli sambil menggenggam kedua tangannya.

"Siapa itu profesor?" tanya Sarah, profesor seolah tengah membahas seseorang. Selain ituDorothy juga terlihat sedikit tertawa setelah mendengar kata-kata profesor tadi.

profesor lalu melanjutkan, "Bukan siapa, Sarah." ia menghela nafas, "atau juga- Jennifer, Edith..." 

profesor menatap Edith dengan tatapan penuh pengertian. Edith memiliki wajah yang tembem, serta rambut pirang keriting yang memenuhi kepalanya, di dada jubahnya terdapat satu piagam kecil bergambar burung berwarna kuning.

"Aku setuju, jangan menilai seseorang sebelum kita cukup kenal dengannya," kata Vincent yang tengah berdiri di dekat Dorothy.

"Aku hanya bercanda bu. tapi serius tentang bagian ini, kembalilah ke rosemith Jennifer!" kata Edith, ia lalu pergi meninggalkan kerumunan.

"Oww, Edith..." kata profesor dengan wajah pasrah.

"Aa- ada apa dengan kekuatan sihir lemah, profesor?" tanya Sarah, dia memeluk lengannya..

"Itu tandanya kamu harus memulai sebagai penyihir di asrama Sylphine, sayang," kata profesor sambil tersenyum.

"Tapi tenang saja, jika kamu memperkuat sihirmu maka kamu akan bisa menjadi Rosemith...Seperti Liliana," kata profesor pelan, wajahnya tegang.

"ya, seperti kami!" teriak Nancy dengan bangga.

"Kamu mungkin akan hidup sebagai Sylphine sampai kamu menjadi kuat," kata Lois menggoda, senyumannya tak terjelaskan.

"Jadi aku sekarang murid di sekolah ini?" tanya Sarah.

profesor Marcelli lalu menarik dan merapikan posisi Sarah, "Ya, tapi tolong diam sejenak Sarah," katanya.

Sarah pun berdiri diam, sementara itu profesor segera menggoyangkan tongkatnya ke arah Sarah. Vestimentum Ad Usum, sebuah mantra kemudian diarahkan ke arah Sarah.

Dan seketika kepulan asap berwarna biru malam, putih, dan hitam disertai kelipan bintang menyelimuti badan Sarah, dan dengan cepat asap tersebut menghilang dan digantikan oleh pakaian yang warnanya sama dengan warna asap tadi. ia mengenakan sepatu mary jane berwarna hitam dengan legging putih serta tunik panjang sampai pangkal betis dengan lengan yang mengembang, selain itu ia juga memakai rompi hitam serta jubah pendek berwarna biru malam di pundaknya.

"Nah sempurna, sekarang kamu resmi murid asrama Sylphine," kata profesor Marcelli dengan senyuman manis.

"Blimey... itu luar biasa," kata sarah dengan badan tegang.

"tapi ingat, seragam ini harus kamu kembalikan setelah kamu memiliki pakaian baru," kata profesor marcelli tersenyum.

"baik profesor!" jawab sarah senang.

profesor Marcelli pun mengajak Sarah dan anak-anak lainnya untuk ikut masuk ke dalam sekolah, seluruh murid Rosemith pun mengikutinya dari belakang.

 "Jadi, ayo anak-anak, waktu pelajaran mungkin sudah hampir dekat," katanya dengan santai sambil merangkul Sarah.
 
Sarah pun melirik lorong-lorong di sekolah yang atapnya berupa kubah berusuk, sedangkan dindingnya terbuat dari batu pasir yang gelap. Sarah terus melirik ke sekitarnya, ia menemukan ruangan kelas transmutasi dan juga kelas sejarah sihir.

Sarah lalu melihat jika selain Rosemith dan Sylphine, ada satu asrama lagi yang jubahnya hanya berwarna hitam dengan lambang ungu, mereka adalah murid dari asrama dissinia. dan juga ada murid-murid yang tampak seperti para ras kurcaci. Lorong sudah penuh dengan murid dari berbagai usia dan Sarah berjalan di sela-sela mereka.

"profesor...Aku tidak menyangka bisa ada di sekolah sihir, rasanya itu, seperti takdir yang tak kuduga," kata Sarah bergumam, tatapannya tajam ke arah Marcelli.

profesor Marcelli pun hanya tersenyum, dia lalu menyentuh pundak Sarah dengan lembut.
"Kamu sungguh manis Sarah," kata profesor memberikan pujian.

"Sarah lihat ke sana," kata profesor sambil menunjuk ke seorang anak yang lebih tua dari Sarah, "Ia adalah Raymond Ellington, pemimpin asrama Sylphine," sambungnya.

"Sini, Raymond."
profesor Marcelli kemudian memanggil Raymond Ellington untuk mendekat.
Raymond nampak lebih tua dari Sarah dengan rambut hitamnya yang lurus dan cukup panjang.

"profesor, aku tidak menemukan Ethan di mana-mana!" Kata dengan sedikit panik.

"Ethan? Lebih baik kamu jangan mencarinya,biar aku saja yang menggantikan," kata profesor Marcelli cepat.

Raymond terlihat kebingungan karena anak itu telah menghilang, ia segera mengalihkan perhatiannya ke Sarah yang berdiri di samping profesor.

"Hei, siapa ini?" tanya Raymond penasaran.

"Bagaimana jika kamu mengajak murid baru ini, Sarah saja untuk mengelilingi sekolah, dan," profesor menghela napas, "Kenalkan ia dengan semua anggota Sylphine seusianya."

"Baik, profesor," kata Raymond singkat.

dan pada akhirnya Sarah pun berpisah dengan profesor Marcelli di tengah jalan dan mengikuti Raymond ke mana-mana.

"Aku Raymond Ellington, salam kenal," kata Raymond sambil tersenyum ramah.

"Aku Sarah Beverley, anggota baru Sylphine..." jawab Sarah ragu-ragu.

"Selamat datang di Sylphine, tak perlu sungkan," kata Raymond.

Raymond pun mengajak Sarah berkeliling dan memperkenalkan setiap ruangan di sekolah Beserta fungsinya seperti kelas mantra, ramuan beserta sejarah, dan transmutasi. Yang letak kelasnya tepat di tengah bangunan kastil itu, sedangkan kelas herbologi dan sapu terbang ada di luar ruangan.

ketika menyusuri lorong di pintu gerbang koridor, mereka berdua kemudian bertemu dengan profesor nevis grimble serta madam Jacqueline Cartina. profesor grimble menatap sarah sambil membisikkan mantra panjang, sedangkan sang madam hanya tersenyum ramah, kedua sosok itu nampak berbeda.

"wahai murid baru, siapakah namamu?" tanya profesor grimble berbisik.

profesor grimble membawa satu buah kristal kaca berbentuk apel dengan warna hijau gelap, ia mengayunkan tangannya mengitari apel serta membisikkan mantra perlahan. sarah pun memberitahukan namanya.

"beverley... aku merasakannya," kata profesor pelan.

profesor kemudian menutup matanya lalu mengelus permukaan apel kristal itu. ia kemudian berbisik pelan dengan suaranya yang sudah ringkih.
"kamu sempat bersama dengan orang yang telah di giring oleh ealdor, namun ia mengabaikanmu... kamu beruntung saat itu,"

"Raymond, apa maksud tuan ini?" tanya sarah menatap ke arah raymond.

"ia adalah profesor grimble, ia dapat merasakan keberadaan orang lain sangat jauh dengan apel kristalnya!" jawab raymond berbisik.

"aku madam Cartina, aku ahli dalam ramuan," kata madam Cartina tersenyum ramah.

"itu sungguh wizard," kata sarah kagum.

"anak-anak bagaimana jika kalian pergi mengunjungi asrama, kalian belum kesana, kan." kata madam Cartina santai.

"baik, madam," jawab raymond.

raymond dan sarah pun berpamitan dengan dua staf itu, mereka menaiki tangga besar menuju lantai dua. Mereka kini berada di jembatan batu yang panjang dan tinggi, menghubungkan dua bangunan kastil. terdapat 4 jembatan dengan tambahan satu bridgehall yang menjadi aula agung di sisi paling kanan kastil.

fungsi ketiga jembatan itu adalah untuk menghubungkan kastil dengan bangunan asrama dan tinggi jembatannya juga berbeda-beda. yang paling tinggi adalah jembatan yang tiangnya di lilit patung kadal yang besar dan menjadi akses bagi khusus untuk dewan sekolah. Tiang-tiang jembatan terbuat dari batu bata yang tersusun hingga membentuk pilar yang indah di tengah tebing.

"Apa yang melilit tiang jembatan itu?" tanya Sarah dengan penasaran.

"Ah, itu Salamander, simbol Brighford, itu menjadi satu-satunya jembatan sekolah yang tidak akan diturunkan," ujar Raymond santai, sementara itu sarah terus memperhatikan patungnya.
"Ayo cepat kemari," Raymond segera melangkah lagi.

Chapter 4: kelas pelatihan mantra

Tepat di atas pintu asrama terlihat simbol unicorn, yang menandakan jika itu memang arah menuju asrama Sylphine. 
"Apakah unicorn adalah simbol asrama Sylphine?" tanya sarah.

raymond pun terkekeh, "ya, itulah lambang asrama kita."
 
Sarah pun berlari dan masuk ke dalam asrama. Dengan rasa penasaran dan gugup Sarah melangkah masuk ke dalam asrama. ia lalu tiba ruang administrasi yang berisi sofa berwarna biru dan juga bendera Brighford maupun Sylphine juga terpajang di dindingnya. Sarah kemudian ditunjukkan dengan kamar mandi perempuan.

Di depan pintu kamar mandi itu terdapat ruangan kecil yang terlihat seperti ruang istirahat, dengan karpet merah, perapian, dan juga sofa putih yang besar dan empuk.

"Di dekat pojok ruangan istirahat ini ada lorong lukisan rahasia yang menuju langsung ke arah lorong dormitory," kata Raymond dengan santai.

"Apakah itu perlu?" tanya Sarah.

Raymond lalu mendekati satu lukisan di ruangan itu. "Kata profesor Marcelli itu perlu sih, caranya adalah dengan menembus bingkai lukisannya," jawab Raymond.

Kemudian, Dory keluar dari lukisan itu dan menatap Raymond dengan wajah kebingungan, Dory memiliki pita kecil berwarna biru yang ia ikat kebelakang rambutnya sementara itu di bajunya terdapat 3 buah lencana ditambah satu buah lencana dari perak.

"Kamu sedang apa di sini? Ini tempat perempuan," tanya Dory, matanya membelalak.

"Aku sedang membimbing Sarah, dia anak baru," jawab Raymond cepat.

"Anak baru? Kenapa tidak aku saja yang membimbing dia!" teriak Dory, tatapannya tajam.

"Tentu saja, silakan," kata Raymond dengan santai.

Sarah pun ditarik oleh Dory ke dalam bingkai lukisan dan dibawa masuk ke dalam lukisan lorong kayu dengan kilatan cahaya matahari itu. Kini Sarah berada di lorong dengan balok-balok kayu yang saling terpisah, dari lantai hingga langit, sedangkan atap lorongnya melengkung hingga memakan sisi kirinya, sedangkan di sela-sela atapnya terdapat sebuah jendela sempit yang mengarahkan cahaya matahari masuk ke dalam lorong.

"Aku Dory Lannsoir, murid kelas dua. Aku biasanya menggantikan Raymond bila ia tak ada," kata Dory, memperkenalkan dirinya.

"Aku Sarah Beverley, aku baru saja mengetahui akan dunia ini," kata Sarah.

"Sebut saja wilayah Majisca," kata Dory dengan santai, "Tak apa, anak sekelasmu, Oscar pun pada awalnya juga tidak tahu apa-apa."

Sarah kemudian mengikuti Dory, dan melompati setiap balok kayu itu agar tidak tersandung.

"Apakah itu cahaya matahari?" tanya Sarah menoleh ke arah cahaya di sela jendela, dia terus melangkah.

"Bukan, itu cahaya buatan yang berasal dari kaca jendela," jawab Dory dengan santai.

Dory kemudian menghembuskan napas dan memperlambat langkahnya, "Kami penyihir sebenarnya lebih menyukai cahaya yang datang lewat jendela secara alami," katanya dengan nada lirih.

"Lorong ini...mengagumkan," puji Sarah matanya melebar.

"Sungguh? Kurasa juga begitu, Sarah," kata Dory.

"Mungkin hanya ini satu-satunya hal indah yang asrama ini punya. Meskipun biasanya yang disebut sebagai asrama terindah adalah rosemith," kata dory dengan nada lirih.

"Tampaknya Rosemith sangat mewah," kata Sarah sambil bergumam.

Dory kemudian menundukkan wajahnya, lalu berbalik, "Ya mereka sangat mewah, tapi... apakah kamu ingin melihat paviliun asrama ini? Kamu pasti belum ke sana," tanya Dory dengan gembira.

Paviliun asrama Sylphine terletak di atap asrama itu, dan meskipun kecil dan sebagian kerangka paviliunnya retak, tempat itu masih dipakai oleh anak-anak Sylphine untuk menjemur pakaian mereka.

"Tempat apa itu?" tanya Sarah.

"Sudah kuduga, tempat itu kami pakai cuma buat menjemur pakaian, dan kami melarang anak pria masuk ke dalam," kata Dory dengan percaya diri.

Dory pun mengajak Sarah untuk pergi menuju paviliun asrama dengan cara melewati cabang lain dari dalam lukisan, di sana sudah ada banyak pakaian yang digantung di tali-talinya. Tampak peri beterbangan di sekitar gaun, seolah sedang melindungi pakaian yang baru dijemur itu.

"Tadi pagi, Clarissa yang mencuci pakaian kami." Kata Dory dengan lega.

"Jadi di sini tempat menjemur pakaian, ya?" kata Sarah, ia mengadah agar bisa melihat setiap pakaian disana.

"Iya, dan bila kamu butuh bantuan soal kamar mandi, maka bertanya saja ke aku," kata Dory, senyuman manis terpampang di wajahnya.

"Biasanya jemuranku itu ada di taman belakang...jadi ini agak menarik," kata Sarah bergumam.

Kemudian, setelah berselang lama, Sarah pun kembali ke luar dari lukisan itu bersama dengan Dory, mereka berjalan dengan santai menyusuri lorong asrama, tampak di sekitar mereka murid-murid Sylphine dengan kesibukan mereka sendiri.

"Kamu benar-benar lucu, kamu pikir drakula benar-benar datang ke kamarmu?" tanya Dory dengan geli.

"Tidak...tapi bagaimana jika mungkin ada, ini kan dunia sihir," kata Sarah menebak.

"Sayangnya, tidak ada drakula di majisca," kata Dory, dia lanjut menjelaskan dengan tegang, "Tapi pernah ada kisah tentang penyihir yang mencuri darah penyihir lain demi obsesi."

Kemudian, suara dari peluit pipih terdengar hingga ke seluruh aula dan lorong-lorong, suaranya memekik seperti seseorang yang tengah sekarat. Di dinding lorong sudah terpasang pengeras suara dengan corong dari logam berwarna perak, dan dari sanalah suara peluit itu disebarkan ke berbagai area sekolah.

"suara apa itu!" teriak sarah kaget.
Sarah kemudian menutup telinganya karena bunyi peluit itu, hingga suaranya berhenti.

Suara dari Profesor Pemberton pun muncul di pengeras suara, ia terdengar sopan dan memakai dialek Inggris klasik.

"Kepada para murid tahun pertama tercintaku, segeralah datang ke kelas pelatihan mantra sayang, dan kepada pemimpin asrama harap lakukan penghitungan kehadiran murid lagi," kata profesor dengan nada serius.

"Aah, pasti ada murid yang kabur," tebak Dory.

Kemudian Raymond pun berjalan menghampirinya mereka berdua, "Ayo Sarah, kamu juga pergi ke kelas," ajak Raymond sambil mendorong Sarah perlahan.

Sarah pun mempercepat langkahnya dan berusaha berjalan sendiri, sementara itu Raymond mulai berbicara dengan Sarah.

Dory pun berteriak kepada Sarah, "Dan saran terakhirku, Sarah. saat matahari mau terbenam, kembalilah ke asrama untuk melakukan apel malam," katanya dengan gembira.

"Baik, Nona Lannsoir," kata Sarah dengan suara halus.

Murid-murid yang memakai jubah pundak pendek berwarna merah karmosin dan biru itupun mulai berjalan menuju kelas pelatihan mantra. Ada juga yang baru keluar dari asrama dengan melewati jembatan sekolah yang panjang. 

Kelas pelatihan mantra, letaknya berada di samping ruangan tempat piala-piala kebanggaan Brighford disimpan.

Bagian dalam kelas tersebut cukup luas walau bentuk bangunannya sederhana, di belakang meja besarnya terdapat banyak sekali lemari kayu yang berfungsi untuk menyimpan barang-barang percobaan.

Sarah melihat jika di dalam kelas itu, sudah ada Profesor Nicholas Belgrave yang tengah duduk menunggu untuk murid-muridnya. Sedangkan di bawah meja tampak boneka kecil yang disusun dengan rapi.

Profesor Belgrave memakai kemeja yang digulung bagian lengannya, rambutnya coklat berantakan dan jambang tipis juga tumbuh di tepi pipinya.

"Aku ragu dengan Beatrice. Dia hanya peduli kepada Rosemith," celetus Profesor Belgrave setelah mendengar suara Beatrice, perkataannya didengar oleh Elias.

Profesor lalu menoleh ke arah pintu dan melihat anak-anaknya mulai masuk ke dalam kelas, semuanya memakai jubah berwarna gelap di pundak mereka kecuali anak Dissinia.

"Selamat datang anak-anak..." kata Profesor Belgrave, ramah.

"Salam profesor," kata Raymond dengan sopan.

"Sudah kuperiksa profesor, Rosemith kelas satu telah lengkap," kata Elias berdiri di dekat profesor.

"Baik Elias, dan jangan kasih tahu Beatrice tentang cemohanku," kata Profesor Nicholas dengan senyum ringan.

"Tentu, Profesor," jawab Elias. Ia pun duduk di dekat meja guru dan tertawa pelan.

Sarah melihat bagaimana satu per satu dari tiga pemimpin asrama itu mulai melaporkan jumlah murid yang sudah ada di kelas.

Pemimpin dari asrama Dissinia, yaitu Thomas Roland pun maju paling akhir, ia memakai sebuah jubah pendek sederhana berwarna hitam dan abu abu yang terpasang di pundaknya.

"Jumlah anak Dissinia masih sama, yaitu empat orang," kata Thomas, suaranya tipis seperti bisikan.

"Kami jadi Dissinia, karena kami berdua adalah anak penjahat," kata Doumish Vanser berteriak. Ia memiliki badan yang lebih kurus daripada Neville.

"Ya, tapi aku kecewa karena ditempatkan di Dissinia," kata Neville Wright. wajahnya mengerut sampai jidat dan alisnya yang tembem itu pun terlihat sangat bulat.

Profesor Belgrave pun mendongak dan menatap kedua anak itu dengan sedikit kesal, "hanya karena kalian anak penjahat... bukan berarti kalian bisa mengulang perbuatan orang tua kalian, dan juga sebaliknya."

Kedua anak tersebut tidak jadi menjawab, sementara itu Sarah lalu mulai berbicara dengan suara tipis.
"Profesor...kapan kelas dimulai?" tanya Sarah dengan malu.

"Bagus, pertanyaan bagus..." kata Profesor Belgrave dengan senyum geli.

"Tapi apakah kamu murid baru, wajahmu tampak asing buatku?" tanya profesor penasaran dengan wajah Sarah.

"Ya," jawab Sarah dengan mantap, "Aku adalah Sarah Beverley... salam kenal Profesor."

"Aku Profesor Nicholas Belgrave," jawab Profesor Belgrave dengan santai.

"Baiklah! Ayo kita mulai kelas ini!" Teriak profesor ke seluruh ruangan.

Profesor Belgrave lalu menggeser meja yang berdiri di tengah ruangan itu hingga mendekati dinding kelas. Sedangkan di awal tempat meja itu sebelumnya berdiri tampak delapan boneka berbentuk ayam yang disusun dengan rapi tepat di atas lantai. 

Sarah menjadi penasaran dengan kedelapan boneka itu, entah apa yang mau profesor lakukan.

"jadi akan ku ulangi lagi teori sebelum nya," kata profesor belgrave menghela napas, "mantra sihir adalah cara agar kalian bisa melakukan hal seperti menyerang, bertahan, menyembuhkan, kutukan untuk bertahan hidup ataupun kendali, mengubah benda dan keadaan, mengendalikan biora dan memasang sihir ke benda. karena mantra merupakan rangkaian kata dan ucapan khusus yang dapat mempengaruhi semua itu,"

profesor lalu mundur perlahan mendekati papan tulis.

"seperti kata filsuf, tuan ortis bedemar dimana, beliau berkata jika mantra adalah cara penyihir untuk membuat suatu kendali atas realita dirinya sendiri dan sekitarnya hanya dengan rangkaian kata ataupun ucapan khusus. dan mantra yang populer di penyihir inggris adalah konsep logos dari italia," katanya melanjutkan.

profesor menghirup napas lega kemudian berbalik, "dan aku akan memberikan kalian pelajaran mantra berikutnya yaitu healsana Vulnus, mantra untuk mengobati luka di badan."

"Jadi, apakah itu mantra yang harus kami hafal pekan ini?" tanya Sophie Duskley, dengan santai.

"Ya benar, Sophie!" jawab Nicholas, Sophie tampak tersenyum sinis.

"Apakah kalian pernah terluka?" kata Profesor Belgrave dengan nada tinggi sambil menatap ke sekeliling muridnya.

"Aku pernah Profesor, tertusuk ranting kayu," jawab Anna Lister dengan percaya diri. Ia berdiri paling depan di antara murid Sylphine lainnya.

"Jika benar, apakah mau menjadi objek percobaan?" kata profesor dengan lugas.
Para murid di kelas itu kemudian menahan tawa mereka, Sarah sedikit penasaran apa yang lucu kemudian ikut tertawa kecil.

"Aku tidak bercanda," kata profesor.

"Elias!" Teriak profesor memanggil ketua dari Rosemith, Elias Aanwick.

"Baik, Profesor!" katanya dengan percaya diri.

Elias lalu berjalan mendekati profesor, profesor lalu melangkah dan segera menunjuk ke arah boneka-boneka itu. Elias memakai jubah merah karmosin dengan motif merah bertuliskan prefek.

"Ubah mereka menjadi Cockatrice, mirip dengan yang nyonya Stroud kalahkan kemarin. tunjukkan ke juniormu kemampuan transmutasimu," kata profesor Nicholas dengan santai.

"siap, Profesor," jawab Elias dengan tegas.

Elias kemudian mengambil tongkatnya,sekelas Ardea yang berwarna hitam mengkilat dengan sedikit hiasan merah. dan segera menggunakan mantra Transmutasi.
"Bestialis Mutatio!" katanya sambil mengarahkan tongkatnya ke bawah, matanya fokus menatap semua boneka tersebut.

Seketika percikan sihir muncul di delapan boneka tersebut dan melayang ke langit-langit dan seketika semua boneka itu telah berubah menjadi Ayam sekarat dengan ekor berbentuk ular, monster barusan adalah cockatrice. Sarah pun menjadi kagum karena baru pertama kali ia melihat makhluk sihir sekaligus mantra pengubah wujud.

"Aku ingin delapan orang dari Sylphine dulu maju ke depan," kata profesor dengan terburu-buru.

"silahkan maju, robby, harold, Sophie, Malcolm, Anna, Luna, Chloe, dan anak baru: Sarah," kata profesor memanggil mereka semua.

kedelapan murid yang dipanggil itu pun mulai maju ke depan, semuanya serentak berbaris di depan hewan sekarat itu dan mengeluarkan tongkat sihir mereka dengan kelas ringan bermacam-macam, Sarah yang tidak memegang tongkat sihir sama sekali kemudian memanggil profesor.

"permisi profesor, aku tidak memiliki tongkat sihir seperti itu," kata Sarah dengan canggung, melirik ke tongkat anak-anak lainnya.

Profesor Belgrave pun menatapnya dengan heran, "bagaimana bisa kamu tidak membawa tongkat sihir..."

terdengar suara cekikikan dari beberapa murid di belalang Sarah, namun Profesor Belgrave tidak menghiraukan anak-anak Rosemith itu.
"dia tidak hanya lupa seragam," kata Vincent heran.

"ya, dia benar-benar terburu-buru," kata Lois tersenyum ironis, Chloe tampak mengerut setelah mendengar ucapan Lois.

"tapi yasudah, apakah ada yang ingin membantu Sarah?" tanya Profesor Belgrave dengan nada tinggi.

"aku! aku mau, profesor." pekik Chloe dengan penuh semangat.

Chloe haveline segera mengangkat tangannya, rambutnya yang berwarna cokelat berantakan itu hampir menutupi setengah matanya, ia juga memakai celemek berwarna abu-abu serta lengan jas nya hingga sikunya terlihat jelas. nivan terkejut dengan aksi chloe sementara itu lois menatap geli.

"silakan Chloe," kata profesor dengan ramah.

"itulah chloe, selalu baik ke orang," kata lois dingin.

Chloe pun mendekati Sarah lalu memberikannya sebuah tongkat sihir yang memiliki kayu tambahan yang disambung oleh tali rami dan kawat sehingga tampak lebih panjang dan kokoh.

"silakan pakai ini," kata Chloe sambil menyodorkan tongkatnya.

"terima kasih... Chloe," kata Sarah, dia tersenyum lega.

"sama-sama, cobalah," kata Chloe dengan santai.

Sarah lalu maju ke depan bersama delapan murid lainnya sambil membawa tongkat milik Chloe, ia merasa gugup, ia menguatkan genggamannya ke tongkat itu.

Namun perhatian Sarah teralihkan ke Luna Belgrave yang ada di barisan paling samping tiba-tiba menangis tersedu-sedu dan berlutut di hadapan cockatrice, membuat Sarah kebingungan.

"ini terlalu.... menakutkan..." katanya sambil menghirup napas, suaranya terpecah.

"ada apa, kenapa kamu menangis?" tanya Sarah khawatir.

Seketika para murid Rosemith menatapnya dengan sinis, sedangkan Sophie di sisi lain ingin menenangkan Luna. 
"Luna, tenanglah," kata Sophie panik.

"Luna, tolong berhentilah menangis," dahi Profesor Belgrave berkerut karena khawatir.

"Tapi dia sekarat... aku tidak mau.... hiks," Teriak Luna yang masih terisak-isak, menatap ke cockatrice yang ada di hadapannya.

"ouh-oh, Luna si empatik muncul lagi," kata Chloe, menyeringai.

"mengapa Luna sangat empatik?" tanya Sarah dengan suara rendah.

"Dia sudah seperti itu sejak musim gugur," kata Chloe, Chloe kemudian berbisik,"pernah ada anak Dissinia yang menempelkan huchber dengan perekat karena telah menggigit telinganya."

Pada saat itu, Luna sudah diam-diam menyelamatkan makhluk menyerupai tikus dengan hidung datar seperti babi itu dan melepaskannya dari perekat agar tidak lagi jadi bahan olok-olokan.

"kamu sekarang adalah temanku," kata luna dengan wajah berseri.

"namun bukannya melepaskannya, Luna malah mengajak huchber itu ke taman sekolah...dan akhirnya anak Dissinia tadi di gigit lagi oleh huchber di hidung," Chloe melanjutkan ceritanya.

"aku tidak menyangka Luna seperti itu," kata Sarah merasa geli.

Profesor lalu mengeluarkan tongkatnya kemudian mengetuk-ngetuk papan tulis bertuliskan Healsana Vulnus.

"tolong fokus, arahkan tongkat kalian ke cockatrice, lalu ucapkan mantranya, waktu sembuhnya tergantung besarnya kekuatan kalian," lanjut Profesor.

Delapan murid kecuali Sarah dan Luna yang berdiri di hadapan para ayam cockatrice itu kemudian bersama-sama mengucapkan healsana vulnus, sambil menahan lengan atau tongkat sihir mereka dengan lengan yang lainnya. ada yang ditahan dengan mendekatkan dua siku dan membuat lengan kiri miring diagonal. ada juga yang membuat lengan kiri menopang lengan kanan yang tengah memegang tongkat.

seketika ujung tongkat mereka bersinar, dan percikan kecil yang berotasi di sekitar tongkat sihir. Sarah memperhatikan dengan mata terpesona.

Sarah mengarahkan tongkatnya dengan gugup untuk mencoba mantra tadi, "Healsana vulnus..." katanya dengan dada berdebar.

Tongkat yang dipegang Sarah kemudian berkedip-kedip, namun tidak ada yang terjadi terhadap cockatrice itu, Sarah mulai kebingungan.

"Apa yang terjadi....Healsana Vulnus!" teriaknya sambil terus fokus.

"Healsana Vulnus, Healsana Vulnus, Healsana Vulnus" Sarah terus mencoba meskipun ia mulai merasa cemas, tongkatnya hanya berkedip dan dikelilingi oleh sedikit percikan berwarna kuning.

"Mengapa tidak berhasil!" teriak Sarah, dahinya mengerut. Chloe melihat Sarah dan merasa prihatin.

Chloe pun mendekati Sarah, setelah ia berhasil menyembuhkan cockatrice di depannya.
"Sarah, cobalah untuk memperhatikan tongkat dan cockatrice-nya, perhatikan bergantian," kata Chloe dengan ramah.

Sarah pun mengikuti saran dari Chloe, dia mulai memperhatikan tongkatnya dan juga cockatrice itu bergantian. perlahan-lahan sinar di tongkatnya pun menjadi stabil.
"Lalu apa selanjutnya!" tanya Sarah, jantungnya berdebar panik.

"Arahkan tongkatmu lalu sebut logosnya pelan-pelan, hee-al-sa-na-vool-nus," chloe berbisik ke sarah dengan suara halus, dan juga memberikan ejaan latinnya untuk mantra barusan.

Sarah lalu mengarahkan tongkatnya ke arah cockatrice dan mulai mengucapkan mantra yang diberikan oleh Chloe dengan perlahan.

"Healsana...vulnus," kata Sarah perlahan, mulutnya bergerak pelan.

 Cahaya di tongkat Sarah lalu muncul dan saling melapisi seperti gelombang, dikelilingi oleh percikan sihir. Sarah menjadi agak panik dan memperkuat pegangannya di gagang tongkat itu, sementara itu kabut hijau samar dan tipis sudah menyembul keluar dari luka di kulit cockatrice itu. Kelipan cahaya pun muncul dan perlahan-lahan mulai menutup luka yang membentang itu. 

"Apakah aku berhasil..." tanya Sarah dengan mata melebar.

"Tahan tongkatmu, itu belum selesai!" kata Chloe memberikan saran, dia menatap dengan tegang.

Profesor Belgrave lalu mendekati Sarah memperhatikan, "Kamu menyembuhkan luka dalam 11,5 detik. waktunya akan singkat tergantung faktor besar luka dan pengalamanmu," Kata Profesor Belgrave dengan badan tegak.

"Baik, Profesor Belgrave!" jawab Sarah, senyuman lebar pun muncul di bibirnya

Sarah merasa senang karena baru saja berhasil menggunakan sebuah sihir walau hanya sihir penyembuhan, tapi ia yakin jika ini adalah awal baginya menjadi penyihir, dan menjalani keajaiban.

Sarah kemudian menatap Chloe, "Terima kasih atas tongkat dan bantuanmu," katanya dengan mata berbinar.

"Tidak masalah, lagipula itu hanya tongkat eksperimen yang kubuat, dan teman-teman memberikan nama ke tongkatku ini sebagai Jibboom," ujar Chloe dengan gembira.

"Jibboom?" Sarah terlihat sedikit heran, tapi ia segera mengangkat alisnya.

"Ngomong-ngomong namaku Chloe Haveline, salam kenal Sarah," kata Chloe senyuman bangga.

"Senang berkenalan denganmu, Chloe," kata Sarah membalas senyuman Chloe.

"Dan benarkah jika kamu datang tiba-tiba ke sini, tanpa mampir dulu ke pasar Esoteric atau alun-alun kota?" tanya Chloe, wajahnya tampak penasaran.

"Ya... aku datang lewat lemari ajaib yang tiba-tiba menjatuhkan ku ke tempat ini, sewaktu aku mau kabur dari seorang pengasuh aneh," kata Sarah dengan suara lirih.

"Kamu datang tiba-tiba tanpa bawa apa-apa?" tanya Chloe terkejut.

"Ya," Sarah menoleh,

"Bagaimana jika nanti kamu ikut aku ke rumah kaca di samping sekolah..." kata Chloe dengan santai.

"Buat apa?" Sarah menjadi penasaran, dia memeluk tongkatnya dengan tangannya.

"Aku akan membuatkan sesuatu untukmu..." jawab Chloe dengan gembira.

Sementara itu, Luna terlihat berdiri dan mengusap matanya yang berair, ia kemudian mengarahkan tongkatnya yang berkelas sturnus yang penuh hiasan perak itu ke arah cockatrice dengan serius.
"Resipisco!" Teriaknya kencang, memecah suasana.

Para murid di belakangnya terkejut dengan mantra yang diucapkan oleh Luna, itu bukanlah mantra yang ada di papan tulis. Anna segera memegang lengan Luna agar dia berhenti,

"Hentikan Luna!" teriaknya, sambil menarik tangan Luna.

"oh luna! terlambat!" teriak Profesor Belgrave terkejut.

Tongkatnya tersebut lalu bersinar lebih terang dan cockatrice-nya mulai dikelilingi oleh sihir elips berwarna indigo. Seketika cockatrice yang ada di depannya melompat bersama dengan percikan sihir si sekitarnya. 

Hewan itu kini bergerak, mengeluarkan suara yang bergaung dengan nada tinggi, seperti gagak dan rakun.

"monster itu kini hidup!" Teriak Harold di samping Sophie.

"Profesor, Luna membuat cockatrice-nya bergerak!" Teriak Clarissa dari tempat penonton.

"Luna, apa yang kamu lakukan..." tanya Sophie, dia menatap temannya dengan khawatir.

"Apa yang terjadi..." tanya Sarah penasaran, sementara itu Chloe hanya bisa terdiam.
"Luna kamu telah membangunkan monster, kamu berisiko dapat pengurangan nilai," kata Profesor dengan tegas, pipinya menegang karena marah.

"itu, itu adalah mantra untuk membuat benda memiliki sifat... tapi coactrice sekarat bukanlah benda!" kata profesor belgrave tegang.

Luna lalu mengambil makhluk berbadan ayam dan berkepala ular tersebut, cockatrice itu mengangkat kepalanya dan terlihat berkedip sesaat.

"Tapi Profesor, aku akan membawanya pergi... jangan menangis lagi, monster malang," kata Luna, cockatrice itu sudah berada di pelukannya dengan kepalanya yang menoleh ke belakang Luna.

'Khraaawk' jerit monster itu,
"Haa!" "Wooa!" Teriak para murid yang tengah menonton dari belakang. Nivan dan Clarissa pun mundur terkejut, jantung clarissa seolah ingin lepas dari badannya.

Monster itu seketika menyemburkan api yang hampir mengenai murid lain di belakang Luna, termasuk anak Sylphine lain. Luna kemudian segera membawa hewan tersebut keluar dari kelas.

Profesor Belgrave lalu berjalan di belakang Luna.
"Luna... Luna! Kamu harus tahu resikonya," kata profesor sambil mengejar Luna.

"Itu nampaknya adalah monster berbahaya, tapi mengapa Luna menggendongnya?" tanya Sarah, tatapannya mengikuti gerakan Luna.

Chloe pun mendesis, "Karena Luna gadis yang sangat suka dengan hewan magis: Tapi ia kadang tidak berani. saat hewan peliharaannya berbuat salah," kata Chloe kesal.

 Luna pun keluar dari kelas dan lari dengan terburu-buru sambil menggendong monster itu yang menatapnya dengan polos seolah tak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi.
 
"Aku akan mengejarmu nanti," kata profesor setelah berselang beberapa detik, untuk sekarang dia memutuskan untuk tetap melanjutkan pelajaran di kelas itu.

"Baiklah anak-anak, silakan tetap lanjutkan praktiknya." kata Profesor Belgrave dengan serius.

setelah berselang lama hingga semua murid sudah mencoba mantra healsana vulnus, terdengar suara bel yang tenang di kejauhan, asalnya dari jam mekanik di menara gervais. menara tersebut berdiri di belakang paviliun atap asrama rosemith. Setelah suara bel itu berdentang, kelas mantra dasar pun berakhir.

"Baiklah, kelas telah berakhir, silakan kalian beristirahat," kata Profesor Belgrave sambil mengusap kacamata yang ada di tangannya.

kemudian terdengar juga suara peluit keras dari pengeras suara. Para murid kemudian keluar dari kelas pelatihan mantra itu dengan gembira. Ketika Profesor ingin mengejar Luna, Anna seketika menghampirinya di tengah lorong sekolah.

"Profesor, tunggu dulu, ada yang ingin kubicarakan," kata Anna mencegat dengan wajah serius.

"baiklah anna apa yang ingin kau bicarakan?" tanya profesor sambil mencondongkan badannya.

"profesor, aku ingin tahu, apa mantra untuk melakukan telepati?" tanyanya penasaran.

profesor kemudian membungkuk Dan mencondongkan wajahnya ke dekat anna.
"jika kamu serius ingin tahu, kamu hanya perlu merapalkan comunicatio sensus," kata profesor belgrave ramah.

"aku akan mencobanya nanti profesor," jawab anna tersenyum ramah.

profesor kemudian berdiri, dan menurunkan alisnya dengan serius.

"jadi... biarkan aku lewat," kata profesor belgrave.

"baik," jawab anna lembut.

anna pun lalu berpindah tempat ke pinggir dan membiarkan profesor belgrave melewatinya.

"profesor," panggil anna berbalik.
profesor belgrave pun memandangnya dengan serius.
"tolong jangan kasar ke luna," kata anna gugup.

"aku tak akan kasar padanya," jawab profesor belgrave singkat.

profesor lalu lanjut berjalan mencari luna. Anna menatap profesor belgrave yang sudah berjalan menjauh.

Chapter 5: Hanya Untuk Bertemu Denganmu

jauh di pinggir hutan yang ditumbuhi oleh bunga-bunga beserta tebing-tebing bebatuan. serta suasana yang aneh seakan tempat itu benar-benar jarang ditemukan oleh manusia. di dalam hutan itu, berdiri patung-patung hewan buas yang tak biasa. seperti buffel monster yang menyerupai rusa dengan empat tanduk lurus tajam. Serta seekor lickwhisk, yang wujudnya menyerupai babi dengan lidah menjulur panjang.

maggie berjalan dengan perasaan kosong di tengah hutan, terkadang ia menatap ke sekelilinhnya. beberapa hewan magis dengan bentuk tak biasa memperhatikannya. sampai akhirnya mereka semua berlari menjauh.

"oh keajaiban, aku disini, benar-benar disini, dimanakah kamu?" tanya maggie berbisik.

kemudian angin pun berhembus dengan kencang, menggoyangkan pepohonan di sekeliling maggie, pusaran dedaunan kering kemudian muncul mengelilingi badannya.

dari balik-balik salah satu pohon melangkah bayang-bayang misterius yang bergerak ke pohon lainnya lalu muncul lagi di pohon berbeda dan berpindah tempat.

"roxa..." panggil maggie lirih.

"margaret..."

"margaret..."

"roxa? aku katakan padamu lagi jika aku kini maggie!" kata maggie protes.

sesuatu lalu berbisik dari balik hutan memanggil nama maggie beberapa kali, suaranya seperti suara seorang yang sudah tua dan ringkih. maggie kemudian berjalan perlahan setelah mendengar suara bisikan itu.
"kamu adalah teman kecilku, kan... ikutilah cahaya itu, aku akan memberimu sihir," bisik misterius yang bergema di tengah hutan.

"tapi, kamu di mana? aku- aku kelaparan," kata maggie kebingungan.

"...baiklah, ikutilah api itu, ada makanan di dekat sini," kata sosok itu dengan nada menggoda..

kemudian 19 kaki di hadapan maggie, daun-daun kering kemudian terbakar lalu menyulutkan api berwarna biru di udara, bau amis kemudian muncul dari arah sana. maggie kemudian berjalan mendekati api itu. sosok api itu kemudian bergerak perlahan-lahan, maggie kemudian segera mengejarnya hingga melewati pepohonan beserta batu yang berlumut.

maggie kemudian dibawa menuju sebuah gereja terbengkalai di tengah hutan, di halaman gereja sudah bergelantungan daging-daging buruan yang masih segar. api itu kemudian masuk lewat pintu, membawa maggie masuk kedalam gereja.

maggie kemudian terus mengikuti sang api biru sampai mencapai bagian vestry gereja. api itu berdiri di atas timbunan barang yang ditutupi dengan karung wool hingga kemudian lenyap di udara.

maggie lalu segera menyingkap timbunan karung itu dan pada akhirnya menemukan makanan berupa, kacang-kacangan, keju keras, beserta daging kering yang diselimuti garam. ia segera mengambil daging-daging itu dengan terburu-buru dan segera memakannya.

di sisi lain tepatnya di pintu gereja, ada seseorang yang berjalan sambil mengusap pahanya, ia memakai pakaian jaket yang ketat serta gaya rambut yang lusuh, ia lalu melihat maggie di ruangan vestry itu.

"siapa engkau..." panggilnya setelah melihat maggie. 

maggie lalu segera berdiri lalu segera menyembunyikan daging yang masih ada di tangannya.
"a-aku maggie... maaf tuan, aku hanya diantar oleh temanku ke sini," kata maggie tegang.

pria itu lalu memirimgkan kepalanya, menatap dengan penuh kecurigaan.
"apakah kamu penyihir?" tanyanya dingin.

"aku bukan penyihir..." jawab maggie dengan nada panjang, "tapi aku mencari kekuatan itu,"

"kamu bukan penyihir!" katanya sambil mengepalkan tangannya.

bulu- bulu burung gagak kemudian berjatuhan dari celah celah kaca di atap gereja, turun menuju ke lantai tengah aula gereja yang telah apuk, orang misterius itu lalu mengalihkan pandangannya ke bulu bulu yang berjatuhan dan segera menunduk hormat dengan tangan kiri lurus ke samping.

lalu tornado jelaga kecil muncul dari bulu-bulu yang jatuh ke lantai, membentuk pusaran kecil yang perlahan-lahan membesar. maggie lalu terbatuk-batuk ketika sisa sisa jelaga tak sengaja ia hidup.

jelaga itu kemudian berubah menjadi sosok bertanduk bulan sabit menghadap ke depan. sosok itu tingginya sampai 9 kaki dengan jubah lurus menutupi tubuhnya sampai telapak kakinya tak terlihat.

sosok itu memiliki rambut tipis yang disurai ke belakang serta mata kiri yang sangat bulat dan besar dengan warna kuning yang terang.

"hentikan pertikaian kalian, aku hanya meminta kalian untuk berkumpul," kata sosok itu dengan nada tegas.

maggie yang mengenali suara itu kemudian mendekat perlahan-lahan. ia menatap dengan tegang, sosok yang kulitnya sudah keriput itu.

"ngomong-ngomong tuan, siapakah wanita ini?" tanya orang sebelumnya.

"ia adalah wanita dengan masa lalu yang menyedihkan... ia perlu menjadi alkemist," kata sosok itu menatap keduanya.

"roxa, itukah kau?" tanya maggie tak percaya.

sosok yang maggie anggap sebagai roxa itu pun lalu melangkah mendekatinya. ia lalu menunjukkan lengan kirinya yang tersembunyi dibalik jubahnya.

"ya... akulah teman lama mu," jawabnya dengan nada panjang, "dan pria ini adalah... ia datang untuk masalahnya sendiri," sambungnya berbisik.

maggie lalu melangkah mendekat dengan hati-hati, "roxa..." panggil maggie.

"siapapun ia, yang pasti kamu harus membantuku menyelesaikan keinginanku," kata pria itu sambil menurunkan alisnya.

"sabarlah, aku tak ingin melakukannya di tempat suci ini-"

"tapi tuan vorag, tempat ini telah dihentikan sejak abad ke enam belas," potong pria itu serius.

"tak ada gunanya kamu berkata begitu, kita sudah selesai disini," ujar sang jelaga dengan nada tenang.

roxa lalu melangkah perlahan-lahan ke dekat maggie, ia kemudian menatap wanita itu. sedangkan di bawah jubahnya asap keluar dengan perlahan-lahan.
"roxa, aku ada pertanyaan," kata maggie memotong.

maggie lalu menatap sosok jelaga itu yang mulai menunduk serta sang pria yang wajahnya sudah mulai kesal.
"mungkin nanti saja..." bisik maggie.

roxa lalu memegang pundak maggie kemudian mengarahkannya ke ruang vestry, tempat dimana maggie mengambil makanan.
"bawalah banyak makanan yang bisa kamu ambil, tujuan kita sekarang adalah; skotlandia," kata roxa ringkih.

maggie pun segera menuju ke vastry kemudian mengambil daging-daging serta kacang yang bisa ia bawa.

"apakah makanan itu tidak berbahaya?" tanya pria itu setengah serius.

"apakah kamu takut? cobalah sekali jika mau," kata roxa dengan nada bingung.

"maaf tuan, aku tidak lapar sekarang," kata pria itu dengan mata membelalak.

setelah maggie mengambil banyak makanan, ia lalu pergi mengikuti keduanya. mereka kini telah tiba di luar gereja, roxa memberikan isyarat agar mereka menunggu.

kemudian dari balik pepohonan datanglah kereta kuda yang bergerak cepat ke arah mereka, rodanya nyaris sebesar orang dewasa dan kabnya memiliki warna jingga yang gelap. dua kuda yang membawa kereta itu badannya terbuat dari potongan batu serta surai berwarna perak yang berkilauan.

"itu patung hewan bergerak..." gumam maggie tercengang.

"bukan, mereka bukan patung hewan," kata orang itu pelan.

"itulah yang akan membawa kita pergi jauh, kuda gnome skotlandia," kata roxa tersenyum tipis.

"kendaraan yang bagus... kebetulan aku tak ingin berjalan," ujar pria itu bergumam.

ketiganya kemudian naik ke dalam kereta kuda itu, kereta itu pun segera melangkah dengan cepat melewati jalan setapak di dalam hutan.

setelah semua kejadian itu, di pekarangan dalam brighford yang berada di depan menara tinggi. terdapat seekor burung camar milik seorang murid sylphine yang tengah terbang di udara untuk megincar makanan-makanan yang di pegang oleh murid-murid.

gelusendius, seorang anak rosemith kemudian menembakkan mantra ke arah burung camar itu hingga badannya membeku dan burung itu pun seketika jatuh menghantam tanah.

"bagus, ia tak akan mengganggu waktu kita kali ini," kata anak itu tertawa bersama temannya.

Sarah menatap dari jendela bagaimana burung itu telah jatuh ke tanah. sarah segera berlari menuruni tangga sekolah, ia lalu mendekati jendela untuk melihat keadaan burung camar yang sudah dikerumuni banyak anak-anak.

di dekatnya nivan tengah duduk di dekat jendela. ia lalu membuka kantong tas yang berisikan makanan lalu mendapati sebuah surat berwarna kuning pudar. surat itu ditulis oleh torcall, ia lalu segera membuka surat itu dan membaca isinya.

*halo nak, aku telah mendapatkan uang sebanyak 350 octamille setelah menangani kasus penyelundupan manusia serigala di dalam kapal penumpang penuh manusia. aku janji akan memberikan 60 octamille sisanya kepadamu. dan disini aku ingin bercerita sedikit tentang hasil penyelidikanku soal apa yang terjadi dengan kedua orang tuamu,*

nivan lalu segera menutup surat itu kemudian menyembunyikannya melalui kantong celananya.
"aku tidak ingin mendengar itu sekarang," kata nivan tegas.

nivan mengambil roti dan buah zaitun yang tersimpan di dalam kantong kecil itu lalu mulai memakannya perlahan.

sarah dan nivan kemudian melihat profesor pemberton sudah berjalan dengan terburu-buru, ia menggenggam tangan Harold dan menarik siswa itu di koridor. wajah harold nampak sudah ketakutan. nivan kemudian berdiri dan menghampiri profesor pemberton.

"aw! sakit," keluh anak itu.

"tunggu, ada apa?" tanya sarah bingung.

"profesor, ada apa?" tanya nivan pelan.

"tuan arkwood, murid ini telah melepaskan seekor meastel di laboratorium!" kata profesor pemberton tegas.
beberapa murid rosemith yang mengikuti profesor pemberton lalu mereka menatap ke arah nivan dengan tajam.

"mengapa kamu bertanya nivan?" tanya lois menggoda.

"murid ini harus di hukum, karena meastel yang ia lepas telah membuat kami gagal memakai hewan itu," kata nancy marah.

"benar, kami ingin membuat ramuan dengan meastel!" teriak lois.

nivan kemudian menarik nafasnya, ia melihat sekilas harold seperti tengah menyembunyikan sesuatu di perutnya.

"mereka menyuruhku mencarinya, tapi tak pernah membagikan daging hewan itu kepadaku," gumam harold mengeluh.

"tapi kamu dibayar," kata lois tegas.

"tapi aku mau dagingnya!" teriak harold dengan wajah merah.

"kamu terlalu banyak meminta harold," kata nancy heran.

"profesor, lepaskan saja ia,  biar aku saja yang gantikan mencari hewan itu," kata nivan bergumam.

profesor pemberton kemudian memperhatikan penampilan nivan. nivan memiliki rambut berwarna cokelat gelap serta memakai kacamata yang memiliki bingkai kecil serta ukurannya yan besar. serta warna mata yang hijau gelap. 

sarah juga ikutan memperhatikan nivan lewat pakaiannya yang berupa jaket berwarna karamel dengan jumper wool asrama Sylphine di balik jaketnya. ia tetap memakai celana sampai sepatu yang rapi.

"tuan arkwood, kamu terlihat bersih, apakah kamu serius untuk mencari hewan pengerat yang bersembunyi di balik tanah itu?" tanya profesor tajam.

"tentu profesor, aku akan baik-baik saja meskipun tidak memakai trik apa-apa. seperti ketika aku mengambil telur corbies untuk ramuan tidur panjang," jawab nivan tulus.

"baiklah, pergilah sekarang tuan arkwood, tapi larilah jika bertemu monster berbahaya," kata profesor pemberton menegakkan punggungnya.

"baik profesor pemberton," jawab nivan tersenyum tipis.

nivan kemudian melangkah pergi menuju ke lantai dua, sementara itu harold menatapnya dengan penuh khawatir. profesor pemberton kemudian melepaskan harold dari genggamannya.

"kenapa ia... begitu baik," tanya harold bingung.

"baiklah harold, kamu tak akan di hukum, tapi setidaknya kamu meminta maaf kepada gadis-gadis ini," kata profesor pemberton tegas.

"baiklah, aku minta maaf," kata harold gugup.

"lain kali jangan mencoba untuk menganggu kami," kata lois serius.

"baik-baik," keluh harold.

Harold lalu memeluk perutnya kemudian berjalan menjauh dengan gugup. profesor pemberton kemudian segera kembali ke ruangan kerjanya, tempat dimana ia biasa memberikan kabar dengan pengeras suara kepada anak-anak di kelas. pada saat itu, kelas 2 sudah memulai pelajaran keduanya lebih awal daripada kelas 1, profesor pemberton meminta para anak-anak untuk berkumpul di rumah kaca.

chloe tiba-tiba datang menghampiri sarah. chloe kali ini tidak memakai celemeknya, digantikan dengan rompi sekolah berwarna hitam, ia nampak cerah dengan rompi hitam itu, sedangkan rambutnya berwarna pirang gelap dengan bagian bawah yang dibiarkan berantakan.

"sarah, kemana saja kamu, mengapa diam saja disini?" tanya chloe pelan.

"aku tadi melihat seorang anak mau dihukum oleh Professor," ujar sarah berbisik.

"tapi, aku tadi bilang jika ada yang ingin aku bikin untukmu," kata chloe mengerutkan alisnya.

sarah lalu menatap chloe dengan penasaran, "apa yang ingin kamu bikin?" tanya sarah gugup.

"tongkat sihir!" ujar chloe dengan nada menggoda.

"tongkat sihir, mengapa?" tanya sarah terkejut.

"tentu saja karena kamu tak membawanya, lagipula mengapa kamu tak membawa apa-apa ke sekolah sihir?" kata chloe dengan nada panjang.

"maafkan aku, aku tiba disini bukan karena keinginanku," jawab sarah menunduk.

"baiklah, ikutlah denganku. kita akan bersama-sama pergi ke rumah kaca," chloe tersenyum dengan tulus.

chloe kemudian segera melangkah menelusuri lorong, sarah lalu menyusul chloe dari belakang.
"apakah ada kelas dan modul yang kamu inginkan?" tanya chloe langsung.

"aku tidak tahu itu semua apa," kata sarah menyerongkan alisnya.

chloe kemudian terkejut, "maaf, jadi kamu benar-benar baru tahu tentang majisca?"

sarah lalu mengangguk dan berdeham pelan. "benar..." katanya singkat.

chloe kemudian menjelaskan panjang ke sarah bagaimana tongkat sihir memiliki tujuh buah kelas dari coturnix sampai Aquila serta tentang modul tambahan. sepanjang mereka bicara, mereka melewati bagian koridor peghubung yang nantinya akan membawa mereka masuk ke komplek rumah kaca. disana juga terdapat kelas herbologi.

didalam rumah kaca tersebut terdapat pohon oak aneh yang dahannya malah berlikuk dan memenuhi langit-langit. pohon alder pun juga ada dengan buah-buahnya yang bergelantungan di langit-langit. sedangkan dibawah pohon-pohon itu terdapat jamur liberty cab Dan henbane.

sedangkan di dahan pohon alder terdapat mandrake yang bergelantungan didalam jaring, dan tidak bergerak, seakan sudah mengering.

di sana mereka berjalan melewati pot-pot tanaman kecil, ada yang berbunga, serta ada Pula yang berbuah. langkah mereka mengikuti kalan setapak yang terbuat dari batu umpak berwarna abu-abu. mereka lalu tiba di meja kayu bundar

"tunggu disini dulu, sarah. aku ingin memeriksa lemariku dulu," kata Chloe tegas.

chloe pergi ke sisi lain kebun kaca, disana ia menghadap ke arah gundulan tanaman yang menjalar ke segala arah lalu menggunakan mantra movetur phantasia untuk mengangkat lemari dari dalam gundukan itu.

cukup lama sarah menunggu chloe mengambil barang-barangmya, sarah lalu memutuskan untuk mengamati kelas herbologi lewat jendela kaca yang berada di dinding ruangannya.

di sana, murid tahun kedua telah duduk di meja mereka, memperhatikan kelas yang dibawakan oleh profesor fairlow itu dengan seksama. profesor fairlow memakai pakaian beludru berwarna mint serta memasang bunga di sisi telinganya. rambutnya ikal dan mengembang.
 
 "para penyihir dahulu memakai ramuan untuk perlindungan dari sihir tak kasat mata," kata profesor fairlow dengan nada panjang.
 
 profesor fairlow kemudian mengambil 3 potong tanaman Mistletoe, lalu memasukkannya ke dalam panci.
 "kalian harus memasukkan Mistletoe sebagai kekuatan utamanya, kemudian masukkan kepala semut muffinromp, selanjutnya, air mata kelpie,"
 
profesor memasukkan kepala semut yang ia ambil dari toples kaca, terakhir panci itu kemudian ia tetesi dengan air mata kelpie. sarah kemudian bersandar di jendela itu, mendengarkan penjelasan dari profesor fairlow.

"tunggu, kita masih perlu larutan dari
Scarlet Pimpernel, lima tetesan saja," katanya menggoda.

"lalu anak-anak, tunggulah 7 menit saja, karena setelah ini kalian akan mendapatkan ramuan pertahanan dari serangan ilmu hitam," kata profesor fairlow tersenyum ramah.

semua anak kelas dua yang menyaksikan itu pun kemudian memberikan tepuk tangan mereka kepada profesor fairlow, "jadi anak-anak, sebelum kalian lanjut pelajaran ramuan nanti, periksalah kebun tiap asrama masing-masing," sambungnya memberikan saran.

"baik, profesor!"

seluruh murid tahun kedua itu pun kemudian berdiri lalu berjalan ke luar ruangan. sempat terdengar pembicaraan di antara mereka.
"mengapa kebun rosemith tak nampak seperti kebun," tanya quentin morris.

"kamu harus tau Quentin, itu karena Kebun mereka berubah jadi tempat koleksi tanaman," jawab seorang murid Dissinia spontan.

"kalian berdua sama saja tak paham harga tanaman yang kami simpan," bantah seorang siswa rosemith.

profesor fairlow kemudian tersenyum luluh saat melihat tingkah anak-anaknya.
profesor lalu mengambil tongkat sihirnya 
setelah itu ia segera menyadari jika sarah telah menyaksikan dari balik jendela, ia kemudian tersenyum ke arah sarah. profesor lalu melambaikan tangannya ke arahnya.
"hai manis, apa yang kamu lakukan di jendela itu?" tanya profesor fairlow ramah.

"aku tengah memperhatikan kelas ini, profesor," jawab sarah santai.

"kamu dari Sylphine? kemarilah perkenalkan dirimu," ajak profesor fairlow.

sarah mundur lalu berjalan mengelilingi koridor, ia masuk ke kelas herbologi melalui pintu besar di samping kelas.
"aku sarah beverley, aku murid baru di sekolah brighford," jawab sarah gugup.

"apakah kamu mau ingin melihat hal menakjubkan?" tanya profesor fairlow menggoda.

"tentu, boleh saja," jawab sarah ragu.

profesor fairlow lalu mengambil tongkantya yang memiliki gantungan bulan, ia lalu mengayunkan tongkat sihirnya perlahan di depan uap yang berasal dari panci.
"ini adalah sihir yang mudah, bahkan untuk anak kecil," gumam profesor.

profesor gloria fairlow kemudian membisikkan mantra sculvapor yang kemudian membuat uap yang keluar dari panci itu berubah menjadi siluet seekor tupai, satu ekor kelinci kemudian muncul juga lalu di susul oleh seekor kucing yang tengah memakai kemeja dan topi serta mulai memainkan tarian sepatu.

"bagaimana kau melakukannya umm... nona profesor," tanya sarah tersendat.

"panggil saja aku profesor fairlow, caranya mudah, karena uap lembut dan mudah di bentuk," jawab profesor fairlow.

"jadi, karena itu disebut mantra yang mudah untuk anak kecil," kata sarah mengangkat alisnya.

"ya,"

sarah kemudian menatap ke sekeliling kelas "selain itu, kelas apa ini, profesor?" tanya sarah penasaran.

"ini adalah kelas herbologi, sedangkan semua rumah kaca yang ada di sekitar kelas ini adalah bagian dari perkebunan. ada yang milik asrama serta milik sekolah," ujar profesor fairlow.

sarah kemudian tersenyum dengan kagum, "profesor bolehkah aku mencoba mantra tadi juga?" tanyanya dengan tatapan melebar.

"tentu saja, silahkan," jawab profesor fairlow ramah.

sarah kemudian mengambil tongkat sihir jiboom yang terselip didalam kantong panjang di roknya. sarah lalu mengayunkan tongkat sihir itu di depan uap lalu segera merapalkan mantra sculvapor. satu gumpalan uap kemudian berkumpul di atas panci, membentuk seekor hewan yang memiliki badan panjang. meskipun bentuknya hampir tidak jelas.

"bagus-bagus begitu, tidak apa-apa," kata profesor fairlow, "berusahalah pertahankan bentuknya," perintahnya tegang.

Sarah kemudian mengangguk, ia berusaha agar asap itu memiliki bentuk. hingga pada akhirnya sarah pun berhasil memberikan bentuk pada uap itu, yaitu berupa seekor musang dengan bulu-bulu mengembang.
"hahaha, lihat.... aku berhasil," kata sarah tertawa kecil.

musang itu kemudian terbang ke kanan dan menari ke berbagai arah. kemudian dari panci itu muncul jga burung-burung beserta hewan mamalia lainnya. hewan-hewan itu kemudian bergerak liar dan udara di sekitar mereka pun mulai bergerak dengan cepat.

"ada apa dengan mantranya?" tanya sarah mulai panik.

"oh- kurangi jumlah hewan yang kamu keluarkan," saran profesor fairlow cepat.

sarah kemudian merasakan embusan uap menyapu wajahnya saat seekor asap berbentuk kucing tengah melintas dengan cepat mengelilingi ruangan kelas itu.
*meow*

"aku akan berusaha!" teriak sarah sambil melindugi wajahnya.
beberapa hewan kemudian satu persatu mulai masuk kedalam panci, meskipun yang lainny tetap bergerak liar. beberapa barang di kelas herbologi pun mulai bergoyang akibat gerakan hewan-hewan itu.

tali rami di tongkat sarah kemudian satu-persatu terputus, hingga lepas dari pola lubang di kayu penahannya. kemudian pada akhirnya tongkatnya pun meledak kecil menjadi beberapa bagian yang tetap utuh, kecuali tali raminya. 

"ahh!" teriak sarah terkejut.
"astaga, oh sayang," gumam profesor fairlow.

sarah berteriak saat tongkatnya meledak, ia lalu menatap ke sekeliling, angin asap itu telah berhenti namun seisi kelas menjadi kacau. sarah kemudian menunduk tepat di depan bagian-bagian tongkat jiboom yang telah hancur.

"tidak... ini tongkat chloe,"

"tongkatnya hancur..."

profesor fairlow lalu menyentuh pundak sarah.
"tidak apa-apa sayang, ini masih bisa di perbaiki, hanya tali raminya yang rusak," katanya berbisik.

profesor kemudian mengarahkan tangan sarah untuk mendekat bagian tongkat sihir itu.
"lihatlah, bagaimana kami para penyihir memperbaikinya," katanya lembut.

dengan mantra texura, potongan-potongan tongkat itu kemudian bergerak bersama dengan tali raminya, kemudian saling menyatu hingga menjadi utuh kembali.

"profesor, mengapa tongkat ini hancur barusan?" tanya sarah kebingungan.

"kupikir itu bukan kerusakan fatal nona beverley, hanya tali sambungannya saja yang tak kuat dengan sihirnya," kata profesor ramah.

profesor kemudian mengajak sarah untuk berdiri.
"tongkat coturnix yang tidak disambung begini, mungkin akan dapat menahan sihir tadi dengan cukup baik," sambungnya tersenyum tipis.

"terimakasih profesor fairlow," kata sarah lirih, "lain kali, aku akan menunjukkan ke chloe mantra tadi," sambung sarah berbisik.

"chloe? ah gadis itu... jadi kamu mengenalinya?" tanya profesor gloria penasaran.

"ya," sarah menjawab pelan.

profesor fairlow kemudian tersenyum lebar, ia lalu berbisik, "aku senang kalian saling mengenal. karena aku kadang peduli padanya,"

"chloe memberikanku tongkat ini karena aku sebelumnya tak memiliki tongkat, dan ia disini ingin membuatkannya untukku," kata sarah lirih, ia tersenyum pelan.

"bagus, mintalah ia membuatkan tongkat sihir yang bagus untukmu," kata profesor fairlow ramah.

"baik, profesor," jawab sarah hangat.

kemudian dari luar ruang kelas itu terdengarlah suara teriakan chloe memanggil nama sarah.
"sarah dimana kamu?" panggil chloe tenang.

"aku datang!" teriak sarah dengan nada tinggi.

sarah pun segera berpamitan dengan profesor fairlow lalu pergi keluar dari kelas herbologi itu. di luar chloe sudah menunggunya, chloe tengah membawa kayu beserta peralatan memahat yang berasal dari lemarinya.

"sarah, mengapa kamu ada di kelas herbologi?" tanya chloe kebingungan.

"aku hanya sedang melihat pelajaran di kelas, lalu aku diajak oleh profesor fairlow untuk mempelajari mantra menakjubkan," jawab sarah santai.

chloe kemudian segera meletakkan barang-barang nya ke atas meja dengan hati-hati. dimulai dari chisel, pisau ukir, potongan kayu, hingga tongkat yanh pernah dibuat chloe yang disambung dengan engsel membentuk kaki hewan.

"aku akan segera membuatkan tongkat sihirnya untukmu," kata chloe serius.

"langsung buat disini?" tanya sarah terkejut.

chloe lalu tersenyum bangga, "ya, karena aku suka tempat ini,"

"profesor fairlow bilang, kamu harus membuatkan tongkat bagus untukku," gumam sarah menggoda.

"aku akan membuatkanmu tongkat kelas col..." chloe mencoba mengingat-ingat,"columba," katanya mantap.

"apakah ada bedanya?" tanya sarah penasaran.

"sederhananya, tergantung seberapa kuat tongkatnya menahan sihir besar." chloe kemudian menghela nafas,




"aku sudah mengumpulkan bahannya, waktunya membuat tongkatnya," kata chloe serius.

"Apakah kamu sering membuat tongkat sihir, Chloe?" tanya Sarah penasaran.

"Tentu saja, tapi ketahanan tongkat juga ditentukan oleh ke cocokan kayu nya," kata Chloe menarik suaranya.

chloe kemudian mulai bekerja dengan menahan batangan kayu ke sebuah dudukan besi yang dapat menahan posisi kayu itu. 

Chloe lalu mundur kemudian mengarahkan tongkat sihirnya ke arah chisel di hadapannya, Chloe pun mengucapkan mantra itu dengan nada tegas: Aeremiosus.

"mantra apa itu?" tanya Sarah dengan kagum.

"aku dapat menerbangkan benda lain dengan mantra ini," jawab Chloe tersenyum.

kemudian Chloe mengayunkan tongkatnya lagi dan menggunakan mantra kedua, Movetur Phantasia.

"mantra tadi... juga dipakai oleh Jade," kata Sarah, matanya melebar.

"diam dulu, Sarah," kata Chloe dengan serius, tangannya bergoyang-goyang, "aku harus hati-hati di bagian ini,"

"baik," jawab Sarah.

Chloe memahat dengan hati-hati, membentuk sebuah lengkungan yang semakin jelas cantiknya. Setelah berselang lama, badan dari tongkat sihir itu pun jadi, dengan lengkungan riak air yang indah.

"Aku sudah menyelesaikan ukirannya, apa kamu suka?" tanya Chloe ke Sarah.

Sarah lalu memperhatikan bentuk tongkat itu, warnanya seperti kacang, dan ada tiga cekungan di tiap sisi tongkatnya. "aye, tapi apakah itu sudah bisa digunakan?" tanya Sarah tak sabar.

"Masih belum, aku perlu memasang modul rahasianya," kata Chloe sambil tersenyum geli.

"modul apa itu?" tanya sarah penasaran.

"ini rahasia mana mungkin kuberitahu," Chloe sedikit menyeringai.

chloe kemudian mengambil sebuah cincin logam berwarna hijau kemudian ia satukan ke kepala pegangan cadangan berwarna hitam yang terbuat dari kayu Marqouis. kemudian tongkat yang dipahatnya tadi pun ia satukan dengan cincin beserta pegangannya.

"Apakah kamu tahu kayu Marqouis?" tanya Chloe menggoda, Sarah pun menggelengkan kepala.

"tidak, tapi seseorang bernama Marqouis pernah berkata bonjour kepadaku," cetus Sarah dengan datar.

"Marqouis adalah pohon yang tumbuh di rawa-rawa, aku mengambil kayu pohon itu," kata Chloe dengan santai.

"jadi, kayu marqouis adalah pohon yang tumbuh di rawa." gumam sarah.

Chloe pun mengoleskan lilin ke tongkat sihir yang hampir jadi itu yang lalu diletakkan dengan hati-hati kembali ke dudukannya.

"Apakah sudah bisa dipakai?" tanya Sarah tidak sabar, kakinya nyaris melompat dari tanah.

"Tidak Sarah... tunggu sampai lilinnya kering," kata Chloe menggoda.

"tapi, apakah kamu ingin memberi nama ephitet ke tongkatmu sendiri?" tanya chloe melanjutkan.

"buat apa diberi nama?" tanya sarah sedikit bingung.

"beri saja, semua penyihir melakukan itu," kata chloe mencoba untuk meyakinkan sarah.

sarah pun terdiam kemudian menunduk, ia lalu memikirkan nama yang bagus untuk tongkatnya. sarah pun mengingat pengalamannya di masa lalu saat diperkenalkan pada kapal perang.

"sovereigh II," jawab sarah bergumam.

"keren, kamu terdengar seperti penyuka marinir juga," kata chloe tersenyum.

sarah pun membalas senyuman chloe. ia kemudian mengangguk pelan.
"aku pernah mendengarnya dari temanku, hayley," gumamnya lirih.

Chapter 6: Wujud Air yang Berubah-ubah

Setelah berselang lama, sebuah mobil Morris berwarna hitam berjalan pelan di bawah pepohonan, melewati jalan kecil yang tersusun dari bata yang gelap. Di dalamnya terdapat seorang gadis dengan rambut melingkar yang ditata rapi serta mengembang dengan bagian depan berwarna putih sedangkan rambut di belakang kepalanya berwarna cokelat.

Gadis itu lalu mengambil sebungkus permen karet yang diselipkan di bawah kursi penumpang lalu memakannya dengan santai.

Ketika mobil itu mulai mendekati gatehouse, yang berada cukup jauh dari kastil, mobil itu seketika terhenti setelah si kepala sekolah berdiri di depan gerbang itu, menghalangi jalan masuk. Ia memiliki jenggot seperti sangkar burung serta alis panjang yang mirip tanduk. Nama lengkapnya ialah James van Duphont.

Gadis itu pun segera keluar dari dalam mobil kemudian mendatangi profesor dengan ekspresi kesal.
"Mengapa profesor... menghentikan mobilku?" tanya Adelina sambil tetap mengunyah permen karetnya.

"Aku tadi melihat Malcolm berjalan pergi, katanya ia disuruh oleh anak-anak Rosemith untuk membeli selai apel di Fort Greatica," Profesor Duphont lalu segera ke pertanyaannya, "Apakah kamu tahu sesuatu?"

"Tidaak," jawab Adelina panjang. "Aku bahkan baru pulang dari acara ulang tahun ibuku," jawab Adelina santai.

"Apakah kamu tidak mencemaskan selai sari bunga yang dibuat oleh para pixie yang tiba-tiba hilang di dapur sekolah?" tanya Profesor Duphont berbisik.

"A- apa! oh Heavens!" teriaknya terkejut. "Aku harus segera ke dapur, tapi mengapa Anda masih berdiri di sini!" tanya Adelina kesal.

Profesor van Duphont pun kemudian segera berbicara dengan tegas, "Tidak ada tempat parkir di dalam sekolah, jika tetap kamu bawa mobil itu bisa-bisa ada alkemist yang tersesat ke dalam sekolah!"

"Bagus, mengapa tidak filsuf saja yang tersesat ke mari?" tanya Adelina menggoda.

"Itu..."

Sebelum profesor menyelesaikan ucapannya, Adelina segera berjalan mendekati gerbang yang perlahan-lahan terbuka untuknya. Mobil itu kemudian mundur lalu berbelok ke samping untuk berbalik arah.

"Sampai jumpa profesor, aku perlu mengetahui mengapa bahan itu hilang di dapur!" kata Adelina dengan nada tinggi.

"Dasar gadis jenaka," gumam Profesor von Duphont.

Di tempat lain, yaitu di pinggir arena balapan, Sarah meletakkan satu sepatu kanannya di tengah padang terbuka. Sarah kemudian segera menyiapkan tongkat barunya itu dengan ekspresi gembira lalu segera mencoba untuk menerbangkan sepatu itu dengan mantra yang pernah digunakan Chloe.

"Oke, aku akan berlatih," kata Sarah bergumam.

"Movetur Phantasia," katanya sambil mengarahkan tongkatnya itu.

Tongkat Sarah pun bersinar. Percikan kecil sempat muncul dan sepatunya mulai bergerak berputar ketika Sarah membuat gerakan kecil dengan tongkatnya.

Sarah mencoba mantra kedua, yaitu aeremiosus, sebuah mantra yang dapat membuat benda melayang di udara. Sepatunya mulai naik tinggi di udara namun tingginya hanya sampai 4 kaki.

Kemudian murid lain datang serta ikut mengucapkan Aeremiosus di dekat Sarah, "Aeremiosus," katanya dengan nada jahil.

"Aaa- apa yang terjadi!" kata Sarah terkejut, dia menjadi was-was melihat sepatunya sendiri melayang setinggi 180 kaki, nyaris menyamai tinggi menara kastil sekolah.

"Exhale," sambung anak jahil itu dengan mantra lain.

Kemudian sepatu Sarah pun jatuh, seakan telah kehilangan udara di dalamnya. Sarah dengan cepat mengambil sepatunya dan menoleh ke arah murid tersebut.

Ia melihat jika murid itu dengan rambut cokelat terang tengah berdiri di halaman sekolah sambil memegang tongkat sihirnya. Namanya tak lain adalah Bruce Avaleaf.

Bruce memakai jubah merah karmosin juga tapi dilengkapi dengan lapisan kedua serta bulu-bulu berwarna kuning dan putih yang tampak seperti bulu ayam. Ia tersenyum ramah ke arah Sarah.

"Apakah kamu yang menerbangkan sepatuku?" tanya Sarah, alisnya menurun.

"Ya, kamu murid baru tadi pagi kan, aku bisa saja menjatuhkannya ke kepalamu kalau saja Biora Barbedswan itu tidak muncul," kata Bruce dengan wajah nakal.

"Mengapa kamu tidak melakukan itu?" tanya Sarah menyeringit kesal.

"Karena menurut legenda, Barbedswan adalah kisah seorang putri yang menjadi angsa berduri yang selalu menolong manusia di danau kegelapan," jawab Bruce dengan santai, "Dan penyihir yang kugemari di masa lalu juga memilikinya, beruntungnya kau," sambungnya.

"Lagipula, siapa namamu?" tanya Sarah, sambil memasang kembali sepatunya.

"Aku Bruce Avalaef, anggota The Lions Guardia, itu bagian dari siswa terhormat Rosemith," katanya dengan bangga.

"Segeralah latih dirimu jika kamu tertarik dengan tempat itu juga, kami sempat kehilangan anggota," kata Bruce menyeringai.

"Tidak, kupikir aku suka Sylphine," kata Sarah spontan.

"Baiklah, tapi kamu tetap harus melatih dirimu," kata Bruce dengan tatapan tipis.

"Mengapa?" tanya Sarah bingung.

"Karena, bila nanti kamu diminta oleh murid Rosemith untuk mencari sesuatu di hutan Woolymoon dan tempat apa pun kamu harus sudah siap untuk menghadapi monster-monster di sana, termasuk..."

Bruce lalu berpikir sebentar, "Termasuk monster yang bisa menempelkan badan mayat ke dinding gua sampai membusuk!" katanya berteriak.

Sarah pun mengangkat kepalanya dan berkata dengan serius, "Baiklah, aku mengerti."

"Semoga beruntung gadis Sylphine," kata Bruce tertawa.

Mereka berdua lalu saling berpisah di mana Bruce pergi menuju pintu Gemina, sedangkan Sarah pergi ke kebun lagi untuk menemui Chloe. Di sana Chloe sudah duduk di depan baskom ramuan, ia memasukkan larutan botol berwarna merah ke dalam ramuan. Sedangkan di samping Chloe, ada anak kurcaci yang tengah membaca buku yang terlihat sangat besar di kedua tangannya.

"Menurut buku yang kita cari tadi, ramuan penguat otot: buku ini berkata jika kita harus memasukkan pewarna dari buah rowan ke dalam baskom secangkir saja," kata kurcaci itu pelan.

"Hai Chloe," panggil Sarah mendekat.

"Hai Sarah, perkenalkan dia gadis kurcaci bernama Douisy," kata Chloe pelan.

Douisy adalah kurcaci cantik yang memiliki rambut sangat putih serta memakai kacamata datar, ia berbicara dengan suara serak. Kurcaci itu juga memiliki mata biru yang besar.

"Hai, Sarah. Aku Douisy Amarlilyse, aku adalah anak dari keluarga kurcaci biasa," kata Douisy ramah.

"Hai, mengapa kalian membuat ramuan?" tanya Sarah penasaran.
"Katanya itu pernah diminum oleh para kurcaci selama mengambil bebatuan," kata Douisy sambil fokus ke bukunya.

"Mereka memakai bebatuan itu untuk bertukang di wilayah Majisca," kata Chloe ikut mendukung.

"Emm, lalu di halaman 245... dikatakan untuk tahan dari panas, kita perlu membuat ramuan artikulasi nirpanas," kata Douisy pelan.

Di sisi lain ramuan yang dibuat oleh Chloe mulai mengepulkan asap yang tebal, Chloe pun segera menghentikan api di bawah panci.
"Jangan coba mantra tempesio," bisik Douisy.

Chloe segera menyiramkan sedikit air ke tungku itu hingga apinya kini menjadi padam. Setelah itu ia tersenyum jahil ke arah Douisy.

Chloe berbalik ke arah Sarah dan mulai berbicara, "Bagaimana latihanmu, Sarah?"

"Aku berhasil menerbangkan sepatu, meski baru setinggi tiga kaki," jawab Sarah tenang.

"Ouh bagus, kamu tinggal berlatih saja membiasakan dengan kekuatan sihir," kata Chloe tersenyum tulus.

"Ya, sihir pada dasarnya adalah anugerah yang hanya didapat oleh penduduk yang lama tinggal di Majisca," kata Douisy santai.

"Tapi Chloe... Bruce bilang aku harus berlatih, untuk bersiap sebelum disuruh oleh siswa Rosemith..." Sarah mengangkat kedua bahunya.

"Bruce? Kamu sempat bertemu dengannya ya," kata Chloe terkejut.

"Ya," jawab Sarah.

"Saranku sebaiknya kamu mengikuti kelas remedial saja dari Profesor Whitlowe setelah sore ini," kata Douisy tenang.

Chloe kemudian ikut mendukung pernyataan gadis itu, "Ya, itu juga benar. Karena kelas tambahan mungkin lebih kamu perlukan sekarang ketimbang duel," kata Chloe tersenyum tipis.

"Mengapa di sekolah ini ada kelas remedial?" tanya Sarah penasaran.

Chloe pun menarik napasnya, "Sarah, kamu datang saat hampir awal musim panas, kamu bisa mengikuti pelajaran yang tertinggal sebelum tahun berikutnya," katanya dengan ekspresi serius.

"Baiklah, aku akan ke sana setelah sore," jawab Sarah sambil tersenyum.

"Tapi Chloe... bolehkah aku memanfaatkan asap yang lepas dari ramuanmu ini, aku ingin menunjukkan mantra itu lagi," gumam Sarah bersemangat.

Sarah kemudian menatap lagi tongkat yang Chloe buat untuknya, ia kemudian melanjutkan kata-katanya..
"Kupikir, dengan tongkat baru darimu ini aku bisa membuat uap yang sangat besar," Sarah menjadi antusias.

"Kamu benar, namun," Chloe berkata dengan tegas, ia lalu melanjutkan, "Jangan lakukan di sini, tak cocok di dalam ruangan!"

Chloe lalu segera berdiri dan merapikan pakaiannya. Ia lalu berjalan mendekati Sarah.
"Ikuti aku, kita akan mencobanya di luar ruangan dengan panci yang lebih besar."

"Baik," jawab Sarah tersenyum tipis.

Chloe lalu berpaling dan keduanya saling menatap Douisy yang tengah fokus membaca bukunya. Ia sesekali membalik halaman untuk membaca buku itu.
"Apakah kamu mau ikut Douisy?" ajak Chloe ramah.

"Ti-tidak. Maksudnya, aku ingin fokus mempelajari ramuan ini sekarang, terima kasih," kata Douisy tersenyum tipis.

"Baiklah, kirim surat bila terjadi apa-apa," kata Chloe memberikan saran.

"Baik, Chloe," balas Douisy tersenyum.

Mereka berdua kemudian telah berkumpul di lapangan Sagitarium, di tengah mereka terdapat satu panci raksasa yang tengah merebus ramuan herbal dengan api kecil di bawahnya. Warna ramuan itu hijau gelap serta mengeluarkan gelembung yang mendidih. Di sana Sarah kemudian diminta untuk berdiri menjauh sedikit dari ramuan itu.
"Di sini akan lebih efisien hanya dengan membuat gumpalan raksasa," kata Chloe santai.

"Tapi Chloe, kemampuanku masih lemah," bisik Sarah.

"Tidak apa, mungkin yang akan muncul hanya kabut tipis," Chloe berbisik dengan lembut.

"Baiklah... aku akan mencobanya," kata Sarah lirih.

Sarah lalu menghela napasnya kemudian segera bersiap untuk menggunakan mantra itu lagi, ia lalu mengayunkan tongkatnya perlahan.
"Lihatlah, ini adalah ubur-ubur raksasa. Sculvapor," kata Sarah serius.

Kumpulan asap kemudian saling bergabung lalu membentuk seekor ubur-ubur dengan kulit berbentuk bola-bola dengan panjang 8 kaki. Kepalanya berbentuk bundar dan mulus. Asap asap yang belum berbentuk mengalir melewati badan hewan itu.

"Bagaimana caranya besar?" tanya Sarah bergumam.

"Tunggu sebentar, biar aku bantu mengumpulkan asap untuk badan ubur-uburnya," kata Chloe bergegas mengambil tongkatnya.

Tongkat Chloe sedikit lebih panjang daripada tongkat Sarah dengan lapisan mirip kelopak bunga di depan pegangannya, serta cincin modul yang mengikat pegangan tongkat itu. Asap kemudian berkumpul di sekitar ubur-ubur buatan Sarah hingga ubur-ubur itu kepalanya membesar 6 kali lipat dan memiliki surai sangat panjang.

"Ubur-ubur itu membesar..." gumam Sarah takjub.

"Tahanlah bentuknya, jika tidak ia akan kembali jadi uap," perintah Chloe bercanda.

"Baik!" teriak Sarah serius.
Sarah kemudian mencoba untuk menahan ubur-ubur di udara itu dengan sepenuh tenaganya.
"Chloe..." panggil Sarah pelan, "Bolehkah kita menerbangkan ubur-ubur ini sampai ke ujung langit?" tanya Sarah penasaran.

"Boleh, mungkin jika kita lepaskan di atas langit juga ia akan menjadi awan," kata Chloe percaya diri.

"Baiklah, ayo kita naikkan sekarang," minta Sarah.

"Baik!" jawab Chloe serius.

Keduanya kemudian berusaha untuk menerbangkan ubur-ubur lebih tinggi lagi, melewati tinggi menara Gervais serta membuat bayangan kecil di tanah. Di lokasi lain, Profesor van Duphont menatap uap berbentuk ubur-ubur itu dengan senang.

Sedangkan Adelina juga sempat menatapnya saat ia tengah berada di halaman depan sekolah, ia meniup permen karet sampai permen itu pecah di dekat wajahnya.

Jejak uap terlihat berada tepat di balik bangunan sekolah. Adelina segera berjalan menuju lapangan Sagitarium, untuk mengetahui siapa yang telah mengubah uap menjadi ubur-ubur.

"Well-well, itu tadi sungguh wizard! Mengapa kalian membuatnya?" teriak Adelina melangkah mendekat.

Chloe lalu segera menghentikan sihirnya dan membuat ubur-ubur itu lalu berubah menjadi kepulan asap biasa yang perlahan lenyap di udara.
"Adelina," panggil Chloe menggoda.

"Aku hanya membantu temanku memperbesar hewan uap yang ia buat," jawab Chloe melanjutkan.
Sarah berjalan mundur ke samping Chloe.
"Apakah kamu ingin... mencobanya?" tawar Sarah gugup.

"Tidak!" bentak Adelina serius. "Itu tadi adalah mantra untuk anak-anak di prep school, aku bukan lagi anak-anak!" sambung Adelina dengan nada tinggi.

Adelina kemudian segera mengambil peluit yang bergelantungan di bawah kerahnya, kemudian segera meniup peluitnya. Suara keras dari peluit itu pun meleking di udara hingga sampai ke sisi lain sekolah.

Adelina lalu menunggu teman-temannya untuk datang, setelah ia meniup peluit kedua, dari ujung sudut tembok mulai terlihat Dorothy beserta Nancy yang berlari dengan terengah-engah. Dorothy kemudian segera berdiri di samping Adelina sedangkan Nancy hampir melewati kaki Adelina karena menari.

"Teman-teman, lihatlah siapa murid yang berani memamerkan mantra anak kecil di halaman sekolah!" teriak Adelina serius.

"Aku ingat dia, dia murid baru pagi tadi," kata Nancy dengan nada panjang.

"Itu bukan mantra anak kecil, itu keajaiban... kamu sendiri sebelumnya mengakui itu," bantah Sarah serius.

Adelina lalu segera menurunkan senyumnya, kini ekspresinya menjadi dingin. Ia lalu berjalan mendekati Sarah dengan tatapan yang lebar.
"Apa tadi kamu bilang?" tanyanya berbisik.

"Adelina, maafkan ia," minta Chloe menyeringit.

Sarah lalu membisikkan nama Adelina setelah mendengarnya dari Chloe.

Adelina melangkahkan kakinya perlahan hingga ia berdiri begitu dekat dengan Sarah.
"Itu menakjubkan hanya bagi orang biasa, apakah kamu bukan penyihir?" bisik Adelina dengan penuh curiga.

"Dan entah mengapa hidungmu mirip dengan seseorang yang dulu pernah bersaing denganku," Adelina kemudian menghela napasnya, "di perkemahan musim panas... tepatnya sebelum perang terjadi," sambung Adelina melanjutkan.

"Maaf, tapi aku tidak pernah mengenal gadis berambut putih sebelumnya di perkemahan," jawab Sarah santai.

"Ini bukan rambut putih, hanya bagian depannya saja yang putih," jawab Adelina tersenyum sombong.

"Bagaimana jika itu benar, aku saja tak pernah melihat orang biasa mewarnai rambutnya sepertimu," kata Chloe spontan.

"Ya, seperti warna cacat," gumam Sarah pelan.

Adelina kemudian segera berteriak, "Jangan berkomentar soal rambut lagi! Kali ini aku tak akan mencurigaimu,"

Sarah lalu menelan ludahnya, ia melihat bagaimana Adelina melangkah mundur kemudian tiba-tiba tersenyum lebar lalu berhenti dengan cepat.

"Lihatlah bagaimana ahlinya menggunakan mantra pembuat bentuk!" pekik Adelina spontan,

"Nancy, Dorothy bantu aku!" perintahnya.

Adelina segera berbisik kepada kedua temannya, ia lalu berdiri 6 kaki di depan panci raksasa. Dorothy dan Nancy yang paham situasinya kemudian ikut berdiri membentuk formasi titik segitiga.
"Ini akan lebih menakjubkan daripada yang kalian sangka," kata Adelina menggoda.

"Hmm- aku meragukan itu!" kata Chloe meninggikan dagunya.

Ketiga gadis itu lalu dengan kompak bersama-sama menggunakan Limpius Formatus, suara mereka bergema di halaman itu. Dari dalam guci, timbullah satu bola air besar yang melayang-layang di udara. Sarah terkejut saat menatap bola itu.

"Biar aku yang mengubah wujud bolanya," kata Adelina cepat.

Adelina lalu segera menggoyangkan tongkatnya pelan-pelan. Gerakannya kemudian membuat bola air itu bergerak-gerak dan akhirnya membentuk tangkaian bunga yang indah, bunga itu lalu meledak dan berganti menjadi burung kenari yang tengah terbang, kemudian berganti lagi menjadi lumba-lumba. Hewan-hewan tadi seolah tengah bergerak namun nyatanya mereka tetap berada di tempat yang sama.

"Lihatlah wahai anak Sylphine, seperti inilah kekuatan penyihir kuat!" kata Adelina bangga.

"Cobalah tangkap bolanya, anak baru!" teriak Adelina tertawa.

Adelina lalu melempar bola itu ke Dorothy, Dorothy kemudian melawan dengan mendorong bola itu ke Nancy sebelum benar-benar mengenainya. Nancy lalu mengarahkan bola itu ke Adelina. Dan di sanalah Adelina mulai melempar bola itu ke arah Sarah.

Sarah lalu mengayunkan tongkatnya, tapi percuma saja. Air segera mengenai lengan serta badannya. Sarah segera menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Para anak-anak Rosemith kemudian tertawa lepas setelah melihat apa yang telah terjadi kepada Sarah.
"Hahaha, cobalah keringkan pakaianmu Sylphine!" teriak Adelina keras.

"Jangan buang-buang dengan air," saran Nancy menyeringai.

"Sayangnya itu bukan lagi air," kata Dorothy berbisik.

"Kalian kejam, mengapa melakukan itu!" teriak Chloe ke arah mereka bertiga.
Mereka bertiga kemudian berjalan menjauh dari lapangan itu.
"Ke mana kalian pergi?" tanya Chloe memprotes.

"Kami harus pergi karena ada yang hilang di dapur!" teriak Adelina serius.

"Dan sayangnya, Edith tidak bisa diandalkan..." gumam Dorothy dengan wajah datar.

"Buat apa mempercayai penyuka keripik kentang itu!" kata Nancy santai.

Sementara itu Sarah basah kuyup oleh air yang menimpanya, ia merasakan panas air itu menjalar di badannya, serta kulitnya mulai memerah.
"Sarah, bagaimana kondisimu!" tanya Chloe khawatir.

"Aku merasa panas," jawab Sarah sambil menyapu kulitnya.

"Tenanglah, kulit panas oh..." Chloe lalu menjadi panik.
"Healsana Vulnus!" teriaknya langsung mengarahkan tongkatnya ke kulit Sarah.

Sarah lalu terdiam dan mencoba untuk merasakan kulitnya lagi.
"Bagaimana keadaanmu sekarang!" tanya Chloe tegang.

"Mantra apa yang kamu gunakan!" jawab Sarah dengan nada panjang, "Kulitku kini terasa sangat gataal!" sambungnya.

"Kita perlu bantuan Tuan Chandler!" gumam Chloe cepat.

"Siapa Tuan Chandler?" tanya Sarah dengan nada tinggi.

"Ia yang menjaga ruang perawatan, kita harus meminta pertolongannya," kata Chloe cepat.

"Baiklah..." bisik Sarah.
Sarah dan Chloe kemudian segera berjalan masuk ke dalam kastil melalui kolom-kolom. Ruang perawatan berada di lantai ketiga, tak jauh dari tangga utama sekolah. Di sana Sarah pun segera ditolong oleh Tuan William Chandler, yang segera memeriksa kondisinya.

Tuan Chandler memeriksa kulit di lengan Sarah yang memerah dengan kaca pembesar, ia memperhatikan tiap bagian dengan hati-hati.
"Jadi benarkah ini karena air panas?" tanya Chandler penasaran.

"Ya, Adelina, murid Rosemith menyiram Sarah dengan air dari ramuan," jawab Chloe gugup.

Tuan Chandler lalu membuka mulutnya seakan ingin berkata sesuatu, lalu ia tutup lagi, "Ah ini... lupakan. Aku tidak akan menilai seberapa parah ini,"

Tuan Chandler kemudian mendekati rak-rak kabinet di ruangannya lalu membuka jendela rak kaca yang berbentuk seperti sayap kupu-kupu itu.
"Aku akan memberimu obat pelembap kulit, ini akan mengobati luka bakar itu pelan-pelan saja," katanya tenang.

"Terima kasih, Tuan Chandler," gumam Sarah tersenyum.

"Tenanglah, aku akan menjadi saksi, tentang penyiraman air ramuan ini," kata Tuan Chandler sambil memegang pundak Sarah.

Tuan Chandler lalu bangkit berdiri dan berjalan kembali ke tempat duduknya. Chloe lalu melangkah dan duduk di samping Sarah.
"Mereka sungguh keterlaluan, untungnya itu hanya air herbal," kata Chloe kesal.

"Chloe..." gumam Sarah, "Kupikir, aku mulai ingat siapa gadis itu dulunya," gumam Sarah pelan.

"Sungguh, apa yang kamu ingat?" tanya Chloe penasaran.

"Ya, aku ingat, di perkemahan di Moorland 3 tahun yang lalu, temanku Sticky bertengkar dengan gadis itu," gumam Sarah.

"Ia memakai mahkota dan mantel berwarna magenta dan rambutnya berwarna cokelat. Ia mencoba untuk merebut bunga kertas bogbean dari Sticky sampai bunga itu hancur," sambung Sarah berbisik.

Chloe mendengarkan cerita Sarah dengan saksama, ia sesekali menatap ke jendela kemudian ke Sarah lagi.

"Aku yakin itu adalah orang yang sama, siapa lagi kalau bukan ia," kata Sarah mempertegas suaranya.

"Tapi Adelina di ceritamu rambutnya cokelat semua kan?" tanya Chloe pelan.

"Ya..." jawab Sarah.

"Mungkin belum cukup bukti untuk menyebut orang di perkemahan waktu itu adalah Adelina, mungkin Nellie, Nico, atau Iddy," kata Chloe spontan.

"Chloe... waktu itu namanya Adelina," kata Sarah tegas, ia langsung bangkit berdiri.

"Mungkin tak usah dipikirkan sekarang, masih banyak teman lain di sekolah ini yang tak seperti Adelina!" Chloe tersenyum ramah.

"Terima kasih Chloe..." kata Sarah lirih.

Ruang perawatan memiliki jendela besar dengan tambahan jendela pivot di tengahnya dengan bentuk celah seperti capung besar. Dari luar jendela itu datanglah seekor burung hantu elang eurasia sambil menggenggam sebatang anak panah dengan kertas terselip di panah itu. Elang itu kemudian masuk ke dalam ruang perawatan dan menjatuhkan anak panah itu ke hadapan Chloe.

"Baik, kali ini apa!" tanya Chloe cepat.

Chloe kemudian mengambil anak panah itu lalu membaca isi kertasnya.
Selamatkanlah temanmu, di Witchmother's Frog

"Ini tampaknya adalah pesan darurat," kata Chloe tegang.

"Darurat kenapa?" tanya Sarah penasaran.

"Artinya temanku sedang berada di rawa dan membutuhkan bantuan," Chloe lalu menghela napas, ia kemudian berkata dengan terburu-buru, "Aku harus segera menolongnya! Sampai jumpa Sarah!"
Hooot
Chloe pun segera berlari keluar dari ruang perawatan, sementara Sarah tetap berdiri di sana dengan kebingungan. Burung hantu itu kemudian berteriak panjang sebelum akhirnya melompat kecil ke jendela pivot lalu terbang di udara. Sarah lalu berbicara kepada Tuan Chandler yang masih berada di ruangan itu.
"Tuan Chandler, mengapa sekolah ini memiliki burung hantu?" tanya Sarah gugup.

"Itu tadi adalah burung hantu eurasia, mereka dipakai oleh murid," jawab Tuan Chandler dengan suara serak.

Tuan Chandler kemudian mencondongkan badannya lalu berbisik ke Sarah.
"Mereka menjadi sistem komunikasi di sekolah ini yang mempermudah urusan tanpa harus menggunakan sihir berlebihan. Burung yang datang ke sini tadi tengah membawa pesan darurat dari pemiliknya," bisiknya lirih.

"Itu keren..." puji Sarah, pandangannya melebar.

"Terima kasih Tuan Chandler, aku akan pergi," kata Sarah pelan.

"Berhati-hatilah, semoga kamu aman," kata Tuan Chandler lembut.

Setelah pembicaraan itu, Sarah pun keluar dari ruang perawatan sambil membawa pelembap yang diberikan oleh Tuan Chandler. Di dapur sekolah, Adelina mengacak-acak kabinet serta lemari kecil di dekatnya, ia melihat ke setiap sudut barang untuk mencari sari bunga itu.

Di dekatnya, Dorothy dan Nancy juga ikut mencarinya, mereka menatap ke atas meja serta rak bumbu di dinding.
"Oh tidak, sari bunga itu benar-benar menghilang!" kata Adelina tegang.

"Menurutmu siapa yang mengambilnya?" tanya Nancy santai.

"Kupikir bukan Lois, ia sudah berjanji dengan kita untuk tidak menggunakan selai itu," gumam Dorothy.

"Tentu saja bukan dia!" teriak Adelina sambil bangkit berdiri.

Di atas lemari, seorang gadis kurcaci dari Sylphine kemudian terbangun di tengah tidurnya di samping tepung. Ia lalu memperhatikan mereka bertiga dari atas lemari.
"Apa yang kamu lakukan di atas sana, Giselle?" tanya Adelina menyeringit.

"Oh Adelina, aku tengah tidur setelah tim kami Ruins Rocket berlatih... Aku pikir sekarang masih waktu bebas," gumam kurcaci itu ringkih.

"Apakah kamu tahu di mana selai sari bunga di dapur, apakah kamu yang mengambilnya?" tanya Adelina panjang.

"Tidak... aku tidur sudah lama sejak latihan jam delapan pagi," kata Giselle ringkih.

"Kamu tak boleh berbohong," ancam Nancy berbisik.

"Aku tak berbohong, aku sungguh tengah tidur tadi," kata Giselle membela diri.

"Baiklah Giselle, berilah aku waktu untuk menebak siapa pelakunya," kata Adelina dengan tatapan sinis.

Adelina kemudian segera melangkah dengan mengentakkan kakinya, ia berjalan mengelilingi Dorothy dan Nancy.
"Nancy, jika seandainya pelakunya Sylphine..." gumam Adelina dingin,
"Pasti akan aku hukum ia."

"Kita tahan ia di toilet!" kata Nancy berteriak.

"By Jove!" pekik Adelina, "Tapi ideku lebih baik Nancy, bagaimana jika kita ikat ia di sarang pixie dan dipermainkan makhluk kecil itu," sambung Adelina menyeringai.

"Itu ide luar biasa Adelina," kata Dorothy memuji.

Mereka bertiga pun lalu keluar dari dapur itu setelah tak menemukan tepung yang mereka cari.
"Adelina mau menghukum anak yang mencuri selai sari bunga..." gumam Giselle pelan, ia lalu terkejut.
"Ah! Aku harus segera memberitahu semua siswa!" sambungnya ringkih.

Si kurcaci yang sebelumnya tidur di samping tepung pun lalu turun dari atas lemari, ia segera berlari keluar dari dapur juga. Pintu kayu di dapur kemudian berderit pelan setelah ia keluar dari sana.

Chapter 7: Pencuri Selai Sari Bunga

Sarah berjalan menuruni tangga-tangga sekolah lalu lorong yang panjang. Di tengah lorong Sarah mendengar sebuah desas-desus tentang peristiwa yang terjadi di dapur Rosemith dan tengah dibahas oleh murid-murid Sylphine.

"Apakah kamu tahu apa yang terjadi di dapur Rosemith tadi pagi!" teriak murid itu tegang.

"Aku tahu karena mendengarnya... ada yang mencuri selai sari bunga mereka," jawab Robby tenang.

Sarah berjalan melewati pembicaraan itu, tapi ketika mendekati lukisan sekolah di dekat pintu Gemina, ia juga mendengar murid-murid menceritakan hal yang sama seperti sebelumnya, seperti Clarissa yang berbicara dengan Anna saat berjalan di lorong sekolah.

"Giselle bilang Adelina akan menghukum murid Sylphine dengan serius," kata Clarissa tenang.

"Aku harap tak akan ada masalah besar," Anna menjadi khawatir.

Sarah pada akhirnya bertemu lagi dengan Jade yang tengah berbicara dengan Oscar di dekat pintu Gemina kedua.

"Hai, Jade!" panggil Sarah sambil melambaikan tangannya.
Sarah melangkah mendekati mereka berdua.

"Hai juga, Sarah," sapa Jade santai.

"Hai, Sarah," panggil Oscar.

"Siapa ini?" tanya Sarah menoleh ke Oscar.

"Dia Oscar, temanku," jawab Jade.

"Oscar Flint. Aku adalah teman Jade," jawab Oscar dengan santai.

"Jadi kamu yang diceritakan oleh Nona Lannsoir itu... ia bilang kamu awalnya tak tahu apa-apa tentang dunia sihir," kata Sarah dengan lirih.

"Itu adalah cerita yang panjang, Sarah," kata Oscar dengan nada tinggi.

"Aku ada menceritakan penemuanku tentang tikus berpunggung luwak ke koran," Oscar kemudian melanjutkan ceritanya.

"Kemudian... tiba-tiba aku sudah didatangi oleh beberapa orang misterius," ujarnya bercerita, Sarah mendengarkan dengan tegang.

"Tapi mereka tiba-tiba menyebutku sebagai bagian dari garis penyihir, aku benar-benar tidak menyangka saat itu!" kata Oscar dengan wajah lega.

"Kamu beruntung, Oscar. Karena itulah kamu ada di sekolah ini," kata Jade memuji.

"Kupikir ingatanku akan dihapus karena tikus itu," kata Oscar mendesah.

Sarah lalu menoleh ke beberapa murid yang masih menceritakan masalah dapur dan Adelina, ia menatap dengan kebingungan.
"Apa yang terjadi, ada apa dengan dapur dan Adelina?" tanya Sarah penasaran.

"Selai sari buah yang biasanya hanya dikumpulkan oleh Pixie tiap satu tahun telah hilang dari dapur sekolah," kata Oscar menjelaskan panjang.

"Lalu mengapa Adelina marah?" tanya Sarah kebingungan.

Jade pun segera merangkul Sarah lalu menoleh ke mana-mana, ia lalu berbisik pelan.
"Kamu harus tahu, jika Adelina berkata ia akan menghukum Sylphine, tandanya ia serius," kata Jade berbisik.

"Jade, menurutmu mengapa ia marah hanya karena selai?" tanya Sarah membalas.

"Karena itu adalah penyedap rasa, hanya prasmanan asrama Rosemith yang boleh menggunakan selai itu," jawab Jade pelan.

"Mungkin itu alasan Adelina cepat menuduh Sylphine," tebak Oscar singkat.

"Lalu apa yang bisa kita lakukan?" tanya Sarah lirih.

"Tidak ada... itu urusan asrama Rosemith," jawab Oscar santai.

"Mungkin kamu bisa ikut ke kelas remedial dari Profesor Whitlowe," kata Oscar melanjutkan.

"Kelas remedial itu ada di mana?" tanya Sarah dengan tatapan berbinar.

"Kelasnya biasanya dilakukan di Lapangan Sagitarium, hanya saja kita harus menjemput Profesor Whitlowe dulu di gubuknya," jawab Oscar santai.

"Baiklah, nanti aku akan melakukannya," ujar Sarah lembut.

Pada sore harinya, Sarah pun berjalan di atas tembok dengan kolom-kolom kecil. Ia lalu mendaki bebatuan. Di atas bukit itu tampak Gubuk Strawberry berdiri tepat di samping kanan Amphitheater. Ia melihat ke papan penanda tinggi yang berada tepat di depannya, di papan itu tertulis nama-nama mulai dari Gubuk Strawberry, Amphitheater, dan Kastil Brighford.

Di pekarangan Gubuk Strawberry, Profesor Richard Whitlowe tengah duduk bersama burung hantunya yang bernama Pruna. Profesor memiliki rambut hitam yang tipis serta janggut tipis yang melapisi wajahnya. Meskipun hidungnya mancung, profesor memiliki tatapan yang sayu. Ia memakai sweater abu-abu di balik jaket yang sederhana.

Profesor menyisir bulu burung hantunya, Pruna, yang ada di hadapannya serta bernyanyi dengan suara lirih, sebuah lagu berjudul The White Cliffs of Dover.

"Besok... nanti kau lihat saja."

Sarah mendekat perlahan-lahan. Profesor kemudian berhenti bernyanyi, ia memperhatikan Sarah dari sepatu sampai jepit rambutnya, seorang gadis cantik dari Sylphine yang tampak asing baginya.

"Aye, apakah kamu siswa baru, kenapa aku tak pernah melihatmu?" katanya dengan nada rendah.

"Ya, aku baru datang ke sekolah ini," jawab Sarah gugup.

"Siapa namamu?" tanya Profesor dengan santai.

"Sarah Beverley," jawab Sarah.

"Nama yang bagus. Aku Profesor Richard Whitlowe, kamu bisa menyebut kelasku kelas sapu ataupun kelas olahraga. Jadi, ada keperluan apa di sini?" tanya Profesor tanpa basa-basi.

"Profesor, aku belum sempat mempelajari pelajaran untuk tahun pertama, jadi bolehkah aku ikut kelas tambahan?" tanya Sarah dengan nada tenang.

Profesor mendekatkan kepalanya ke wajah Sarah dan menatapnya tajam,
"Hei, dari mana kamu tahu aku punya kelas tambahan?"

"Dari teman-" perkataan Sarah lalu dipotong oleh omongan Profesor.

"Hanya bercanda! Kamu boleh ikut ke kelasku dengan anak-anak lainnya," jawab Profesor sambil tersenyum lebar.

"Terima kasih, Profesor, kupikir aku akan tertinggal dari pelajaran tahun pertama!" jawab Sarah dengan percaya diri.

"Tentu saja tidak bila ikut kelasku," jawab Profesor Whitlowe santai.

Profesor Whitlowe kemudian mengarahkan tangannya dan mengajak Sarah untuk berjabat tangan, Sarah pun menggoyangkan lengannya dengan percaya diri. Setelah itu datang jugalah tiga anak lainnya, dimulai dari Oscar, Clarissa, dan Evelyn.

Mereka bertiga bersama-sama berteriak memanggil Profesor Whitlowe.
"Selamat sore, Profesor Whitlowe!" teriak mereka bertiga.

Profesor Whitlowe kemudian melepaskan jabat tangannya kemudian menghadap ke arah ketiga murid-muridnya.
"Selamat sore, anak-anak, kalian tepat waktu," katanya memuji, "Sekarang mari kita berkumpul ke Lapangan Sagitarium," kata Profesor sambil mendorong badan Sarah, ia pun bersiul agar Pruna ikut bersamanya.

Pruna kemudian terbang ke udara, menyisakan bayang-bayang halus di tanah. Tatkala berjalan mengiringi profesor, Sarah menatap burung hantu itu dengan rasa penasaran.

"Sungguh keren!" puji Sarah kagum.

"Profesor, apakah ada yang bisa burung hantu lakukan selain komunikasi?" tanya Sarah penasaran.

"Kamu penasaran? Sebenarnya mereka dipakai penyihir sebagai pertanda kehadiran mereka lewat udara," kata Profesor Whitlowe dengan nada panjang.

"Menurutku yang paling berguna itu adalah ketika para burung itu membantu penyihir mengambil barang kecil," kata Oscar menyela percakapan.

Sarah kemudian tersenyum senang.
"Aku jadi ingin memiliki burung juga!" kata Sarah, kedua matanya membulat.

"Itu bisa kamu beli di pasar, Robby waktu itu beli burung camar," kata Oscar singkat.

"Ya, banyak yang menjualnya, seperti di pasar yang ada di Fort Greatica, atau kota Stanburham," jawab Profesor dengan percaya diri.

"Baiklah, nanti aku akan ke sana," kata Sarah bersemangat.

Mereka berlima kemudian sudah berkumpul di Lapangan Sagitarium. Lapangan itu berada tepat di samping kiri bangunan sekolah dan pepohonan berdiri melingkari lapangan itu membentuk lapangan hijau setengah bundar.

Di Lapangan Sagitarium, terdapat sebuah meja dan kursi untuk membantu siswa duduk sekaligus menjadi alas untuk subjek kelas. Clarissa serta Oscar duduk di samping Sarah.

Evelyn Lochmore, menjadi satu-satunya gadis Rosemith di tempat ini, ia duduk dengan tenang di atas karung gemuk yang berisi pupuk tanaman serta kotak-kotak berisi bibit tanaman.

Profesor Whitlowe lalu berdiri di tengah lapangan sambil tersenyum,
"Evelyn, silakan lanjutkan latihan Objektalis Mutatio terhadap benda kecil," kata Profesor dengan ramah.

Evelyn pun mengeluarkan beberapa barang kecil dari tasnya, seperti tutup botol, klip kertas, pipa rokok, dan peniti.

"Profesor, kupikir kita perlu mengubah materinya dulu," kata Evelyn dengan suara lirih.

"Evelyn, apa yang ingin kamu buat dengan mengubah materi itu?" tanya Profesor Whitlowe penasaran.

"Mungkin aku bisa menerobos pintu kayu dengan mengubahnya jadi tanah liat!" jawab Evelyn serius.

Lalu Clarissa Brown menatap Profesor dengan ekspresi mata lebar, meskipun kulitnya pucat.
Clarissa lalu berbicara dengan tenang,

"Profesor... bolehkah aku membaca buku herbologi dulu?" Ia lalu melanjutkan, "Aku lupa nama tanaman."

"Baca saja, Clarissa," jawab Profesor sambil tersenyum.

Seluruh murid lalu mulai belajar di kelas remedial ini, termasuk Oscar yang mengambil kertas penuh peta bintang.

Profesor Whitlowe kemudian mendekati Sarah dan memberikannya sebuah pelat logam dengan nama Circus N Shoe, Profesor mencondongkan badannya dan membisiki Sarah.

"Dan Sarah, kamu akan belajar transmutasi sebagai awal pelajaranmu," katanya sambil tersenyum.

"Tapi aku harus apa, Profesor?" tanya Sarah serius.

Profesor Whitlowe pun menghela napas, "Mungkin kamu bisa mengubah bentuknya menjadi pita, sebenarnya mengubah benda itu adalah hal penting bagi penyihir, karena dengan mantra mereka dapat mengubah benda padat ke benda lainnya," kata Profesor Whitlowe dengan suara ringkih.

"Profesor, aku tidak mengerti," kata Sarah gugup.

Profesor lalu berdiri tegak, "Intinya saja, bayangkan saja permukaan pelat logam serta bentuknya telah berubah menjadi pita, itupun jika kamu suka."

Profesor Whitlowe kemudian melanjutkan, "Lalu ucapkan Objektalis Mutatio."

"Baik, Profesor..."
Sarah mengembuskan napas lega kemudian dengan serius mengarahkan tongkat sihirnya ke pelat logam kecil itu.

"Objektalis Mutatio," kata Sarah serius, ia berusaha untuk fokus ke pelat itu.

"Bagus, teruslah fokus, Sarah, rasakan permukaannya," kata Profesor memberikan dukungan.

"Aku justru bingung, bagaimana sihir bisa menambah ukuran sesuatu dengan Objektalis, padahal cuma untuk mengubah isinya kan," kata Oscar dengan nada tinggi.

"Oscar, itu sesuai dengan bagian mutatio, artinya objeknya telah diganti bentuknya dengan benda lain. Walau ukurannya bertambah, tapi ketika ia kembali ke bentuk alaminya ukurannya pun akan normal lagi," jawab Profesor Whitlowe tenang.

"Profesor," murid lain pun memanggil Profesor dari jauh.

Profesor Whitlowe pun beranjak pergi dari tempat Sarah untuk melihat muridnya yang lain, Sarah pun masih fokus dengan pelat logam di depannya itu.

Setelah berselang lama, di langit-langit Sekolah Brighford, Chloe terbang dengan sapu miliknya dari arah Hutan Woolymoon sambil menggandeng Nivan yang duduk di belakang. Angin meniup rambut mereka, dan sapu pun sedikit tergoyang saat mereka hampir tiba. saat itu celana Nivan telah kotor dan basah akibat lumpur di rawa.

Di pangkuan Nivan terdapat seekor meastel yang kakinya telah diikat dengan tali, makhluk itu sempat bersuara kecil dengan bulunya yang sedikit kotor.

Chloe kemudian menoleh ke ujung Lapangan Sagitarium, di sana tampak murid-murid yang tengah belajar dengan Profesor Whitlowe.

"Lihat, itu Sarah Beverley, aku pikir aku telah berteman dengannya," kata Chloe antusias.

"Lalu, aku harus tahu apa?" tanya Nivan santai.

"Kamu juga harus berteman dengannya, karena ia menyenangkan," kata Chloe memuji.

Nivan lalu menunduk dan memperhatikan Sarah, ia lalu menyipitkan matanya, melihat samar-samar gadis berambut pirang terang itu.

"akan kupikirkan nanti," jawab Nivan lirih.

Chloe tersenyum dengan bangga, sementara Nivan menatap Chloe dengan wajah setengah heran.
"Kita akan turun di mana?" tanya Chloe cepat.

"Aku ingin segera ke laboratorium, kupikir mereka sangat perlu hewan ini," kata Nivan serius, ia memeluk meastel di pangkuannya itu.

"Baiklah," jawab Chloe singkat.

Chloe pun segera terbang melewati menara runcing kecil di atap aula, kemudian segera masuk ke jendela lorong antara dapur dan laboratorium yang dibiarkan terbuka. Nivan lalu segera turun dari sapu Chloe kemudian mengucapkan terima kasih.

"Terima kasih... Chloe,"

"Tidak perlu sungkan, karena kita kini adalah saudara angkat," ujar Chloe ramah.

Nivan lalu meletakkan meastel itu ke lantai, hewan itu masih terikat tali, warnanya abu-abu dengan telinga, tangan, serta punggung berwarna hitam.

"Kalian yang mengajakku duluan ke rumah itu," kata Nivan lirih.

"Setidaknya kamu dapat keluarga baru!" balas Chloe menggoda.

Nivan lalu terdiam sejenak, "Meski begitu, tidak ada yang menggantikan keluarga lamaku,"

Nivan memasukkan tangannya ke kantong celananya untuk mengambil surat itu yang ternyata kertasnya telah basah. Ia lalu dengan buru-buru membuka surat itu dan ternyata setengah tinta di kertas itu telah hancur akibat air, air mengenai surat itu seperti lingkaran.
"Ah- surat dari Torcall telah hancur sebelum kubaca!" keluh Nivan.

"Itu salahmu karena terperosok," ujar Chloe cepat.

"Ini untukmu saja, beri tahu Torcall jika suratnya telah rusak. Aku ada urusan!" kata Nivan terburu-buru.

"Mengapa harus aku?" tanya Chloe terkejut.

Nivan kemudian segera menyerahkan surat itu ke Chloe, lalu mengambil lagi meastel tadi di lantai. Chloe menatapnya dengan kebingungan.

Ketika mau sampai laboratorium, Nivan melihat di tengah lorong Adelina, Nancy, Dorothy. Mereka bertiga berdiri tepat di hadapan Lois dan juga Shirley.

"Menurut kalian, apakah mungkin menghilangnya selai sari bunga itu terkait dengan lepasnya meastel di laboratorium?" tanya Adelina dengan nada curiga.

"Ya, jika kamu pikir meastel dapat mencuri itu," jawab Lois setengah bercanda.

"Aku serius, Lois, itu sungguh tidak mungkin!" kata Adelina membantah, "Jadi apakah kalian tahu siapa yang telah melepas meastel itu?" tanya Adelina melanjutkan.

Lois lalu terdiam sejenak, ia kemudian menjawab dengan jujur.
"Itu Harold, ia melepaskan meastel itu ke jendela," jawab Lois pelan.

"Tepatnya makhluk itu pergi bebas dengan cara melewati jendela," jawab Shirley ikutan.

Nivan kemudian datang mendekati mereka dengan gugup, Adelina menyerngit memperhatikan Nivan. Meastel itu terbaring diam di pelukan Nivan.
"Permisi, aku telah membawakan meastel yang baru," kata Nivan gugup.

"Kerja bagus, Nivan, aku akan memakai makhluk itu untuk membuat ramuan," kata Lois dengan nada manja.

"Lalu dagingnya akan kalian apa kan?" tanya Nivan pelan.

"Tentu saja dimasak, bersama selai apel yang sudah dibeli Malcolm nantinya!" jawab Shirley gembira.

"Sebenarnya, aku merasa kasian pada Harold," gumam Nivan pelan.

"Tunggu, mengapa kamu harus kasian, bisa saja Harold yang mencuri selai sari bunga itu!" teriak Adelina keras.

"Ya, benar!" sambung Dorothy membela.

"Ayo teman-teman, kita cari anak itu!" perintah Adelina serius.
Adelina, Dorothy, serta Nancy pun berpisah dengan mereka bertiga, sementara itu Nivan menyerahkan hewan itu ke Lois. Lois kemudian menerimanya sambil tersenyum tipis, ia kemudian masuk ke dalam laboratorium bersama Shirley.

Nivan berdiri diam di tengah lorong, ia lalu memegang dagunya.
"Tunggu, aku teringat sesuatu!" gumamnya terkejut.

Nivan kemudian segera bergegas keluar dari sekolah, ia lalu bersiul keras di luar sana, beberapa burung hantu yang beristirahat di timpanium pun memperhatikan Nivan dengan kebingungan. Seekor burung hantu eurasia kemudian terbang, memekik, lalu mendekati Nivan.

"Oswin, tolong carilah Harold," kata Nivan pelan.
Burung hantu itu hanya terdiam datar di lengan Nivan. Nivan lalu segera mengeluarkan seekor kumbang dari kantongnya, kumbang yang telah basah.

"Lihatlah apa yang kupunya, namun sayang sudah kotor,"

Burung hantu itu langsung menyambar kumbang itu lalu menelannya dengan tenang. Oswin pun segera terbang tinggi dengan mengelilingi halaman sekolah.

Setelah itu pada akhirnya Oswin menemukan Harold tengah bersembunyi di balik tong-tong yang tersusun di depan gudang sekolah, Harold tengah termenung sendirian di sana.

Harold mengeluarkan sebuah botol kaca yang ia sembunyikan di balik sweaternya. Toples itu memiliki gagang dari kawat logam. Di dalam botol itu ada selai kental yang berwarna merah dan tercampur warna kuning.

Nivan berjalan dengan tenang mendekati Harold, Oswin, burung hantu eurasia itu pun hinggap ke pohon.
"Harold, ternyata memang kamu yang mengambil selai itu," kata Nivan dengan nada tinggi.

"Aku tidak mencurinya," kata Harold membela diri, "Aku hanya ingin menghukum mereka, mengapa tidak pernah membagikan apa yang mereka mau,"

Kata Harold mengeluh, anak itu lalu menghela napasnya, ia masih menatap dengan tajam, "Lagipula, mengapa kamu sangat baik pada mereka?"

Nivan lalu menelan bibirnya dan terdiam sejenak, Harold tetap menunggunya dengan sabar.

"Meskipun mereka menyuruhku, setidaknya mereka tidak meminta apa yang kumiliki," jawab Nivan dengan percaya diri.

"Apakah itu ide bagus?" tanya Harold menyerngit.

"Tentu saja itu ide bagus!" jawab Nivan dengan nada tinggi.

Harold berdiri di depan Nivan, angin bertiup perlahan di sekitar mereka. Sampai Adelina pun datang dari ujung sudut bangunan asrama, teriakan Adelina terdengar di kejauhan.

"Itu dia! Pencuri selai sari bunga!" teriak Adelina keras, ia menunjuk ke arah Harold.

"Aaaa- crickey!" pekik Harold panik.
Harold dan Nivan segera menatap Adelina yang mulai berlari dengan cepat untuk menuju ke arah mereka berdua.
"Diam di sana, Sylphie!" teriak Adelina.

"Apa yang harus kita lakukan, kita akan mendapatkan cap nakal!" kata Harold cepat.

"Lari!" teriak Nivan keras.

"Sungguh! Mengapa?" tanya Harold kebingungan.

"Percayalah lari saja, cepat!" kata Nivan segera menarik lengan Harold.

Harold dan Nivan pun segera melarikan diri ke arah barat bangunan sekolah, Adelina terus mengejar mereka, sedangkan di belakangnya Dorothy dan Nancy menyusul.

"Ayo cepat, Dorothy!" teriak Nancy.

"Aku sudah berusaha..." keluh Dorothy.

"Mereka berani melawan rupanya!" keluh Adelina kesal.

Nivan menarik Harold untuk segera berbelok ke kiri, mereka melewati altar untuk bola griffeloise yang sudah lama tak digunakan serta jembatan kecil dengan parit bebatuan.

"Kamu bilang asal mereka tak meminta apa-apa, lalu mengapa kita harus kabur!" tanya Harold panik.

"Apakah kamu tidak takut dengan stempel nakal?" tanya Nivan serius.

"Tentu saja aku takut!" teriak Harold cemas.

"Kita harus meminta pertolongan pada Chloe atau siapa pun!" kata Nivan sambil terengah-engah.

"Berhentilah! Pencuri selai!" teriak Adelina dengan nada tinggi.

Tatkala mereka tengah berlari sampai memasuki Lapangan Sagitarium, Sarah sempat gagal fokus karena keributan yang terjadi. Beberapa murid yang ikut kelas remedial pun ikut memperhatikan Nivan serta Adelina. Pita yang ada di atas meja Sarah tampak masih berbahan logam ketimbang kain.

"Oh sayang, apa yang telah terjadi di antara murid-murid itu," tanya Profesor Whitlowe khawatir.

"Hentikan mereka!" teriak Adelina serius.

"Siapa pun tolong kami!" kata Harold panik.

Nivan segera berbalik, ia melihat Nancy sudah tinggal beberapa langkah lagi dapat menyentuhnya, ia lalu segera menoleh ke Harold.

"Harold, berikan botol selai itu kepadaku!" perintah Nivan.

"Baiklah!" Harold segera menyerahkan botol selai itu ke Nivan.

Nivan lalu segera menjulurkan botol itu ke langit dan memanggil burung hantunya, Oswin segera datang dan memekik di udara, burung hantu eurasia itu lalu meraih pegangan kawat pada botol dengan kedua kakinya. Nivan langsung melepaskan botol itu dan membiarkan Oswin terbang begitu tinggi.

Kemudian pada akhirnya Dorothy dan Nancy berhasil menangkap Nivan dan juga Harold, mereka berempat hampir tersungkur di tanah.

"Awww! Sakit!" pekik Harold.

"Kamu sekarang tertangkap, Nivan!" kata Nancy.

Di sisi lain, Adelina melihat jika selai sari buah itu telah dibawa terbang oleh burung hantu eurasia. Ia kemudian menarik tongkat sihirnya yang tergantung di ikat pinggang, lalu membidik burung hantu itu.

"Dalam dogfight, tidak boleh menunjukkan punggung!" kata Adelina dengan nada dingin, "Gelusendius!"

Sebuah cahaya yang membuat dingin udara kemudian melesat tinggi ke arah burung hantu itu, Oswin lalu menghindar dengan terbang berputar. Ia lalu pergi melewati atap sekolah sehingga tak terlihat lagi.
"Sial!" pekik Adelina kesal.

Adelina lalu menatap ke arah Nivan dan Harold yang sudah tertangkap oleh kedua temannya. Ia kemudian menoleh lagi ke atap.

"Kalian berdua tolong tetap jaga mereka!" kata Adelina serius.

Adelina segera berlari masuk ke dalam kastil sekolah hingga tiba di pekarangan dalam sekolah. Di sana Adelina melihat jika Oswin sudah berdiri di ambalan jendela, kaki kirinya bertumpu pada ambalan sedangkan kaki kanannya memegang kawat botol itu.

Sementara itu seorang pemimpin asrama Rosemith memperhatikan Adelina dengan penasaran setelah gadis itu mulai berjalan dengan kesal.
"Kamu harus kembalikan itu," kata Adelina serius.

Adelina lalu berlari menuju jendela burung itu hinggap, ia mencoba untuk meraih botol yang bergelantungan di depan ambalan.

Oswin segera bergeser ke kanan ketika Adelina mencoba untuk meraihnya, dengan kesal Adelina lalu mencoba lagi lebih cepat tapi Oswin segera bergeser lagi. Ketika ia mencobanya lagi Oswin segera terbang dan duduk di sisi lain ambalan.

Seorang anak Rosemith yang lebih tinggi dari Adelina pun kemudian segera mengulurkan kawat dengan ujung rumbai-rumbai, mengalihkan perhatian Oswin. Ia segera mengambil botol dari genggaman burung itu dengan tenang. Ia memakai jubah pundak berwarna karmosin juga, dengan simbol Griffin kecil di jubahnya serta tulisan Prefek.

"Oh Adelina sayang, aku melihatmu seperti sangat, sangat menginginkan botol ini," katanya dengan nada dramatis.

Ia lalu menatap tulisan di luar botol itu, "Selai sari bunga?"

"Mengapa kamu bisa mengambilnya dengan mudah!" tanya Adelina marah.

"Justru kamu, mengapa susah mengambilnya?" tanya Elias dengan nada jahil.

Adelina kemudian segera merebut botol selai itu dari Elias, "Kembalikan botolnya! Ini berharga untuk makanan murid Rosemith!"

"Aku dengan senang hati akan membantumu lagi bila kamu butuh," kata Elias tersenyum nakal.

"Aku tidak butuh!" jawab Adelina tak acuh.

Kemudian setelah kejadian itu, Adelina, Sarah, Nivan, Tuan Chandler, dan juga Harold dikumpulkan di ruang dewan sekolah. Ruangan tersebut memiliki dinding berwarna merah marun yang tenang serta lampu-lampu gas berbentuk bunga menghiasi dindingnya.

Di depan mereka telah duduk seorang profesor dengan kulit pucat penuh hiasan, sedangkan matanya berwarna hijau terang. Sarung tangan tipis dari sutra menyelimuti lengan profesor.

Ia adalah Profesor Beatrice Pemberton, profesor lalu mengambil bukunya serta memeriksa catatan-catatan para siswa.

"Jadi, Adelina mengejar Nivan dan juga Harold karena Harold telah mengambil selai sari buah di dapur," kata profesor tenang.

Sarah dan Nivan menatap Profesor Pemberton dengan gugup.

"Awalnya kupikir aku akan memberikan satu orang saja stempel nakal, tapi Adelina tampaknya juga perlu itu," katanya dengan nada lembut.

"Mengapa profesor! Mengapa?" tanya Adelina kesal.

"Karena Nona Louise, anda telah membuat murid Sylphine terluka... anda mendapatkan stempel nakal," katanya dengan tatapan tajam.

"Tapi tenang saja, karena berkat usaha Nivan untuk mencari lagi meastel dan usaha Adelina untuk mendapatkan selai itu lagi, maka kalian akan mendapatkan pengurangan nilai saja!" sambung profesor tenang.

"Sebagai gantinya, Harold, kamu tetap dapat stempel itu," kata Profesor Pemberton lagi.

"Umm, baiklah, satu stempel nakal untukku," kata Harold menunduk.

"Tunggu profesor, bukankah itu tidak adil?" tanya Nivan serius.

"Apa yang tidak adil, Nivan!" kata Adelina kesal.

"Harold tidak benar-benar memakai apa yang diambilnya," kata Nivan dengan nada panjang.

"Tapi ia melepaskan meastel Tuan Arkwood," kata Profesor Pemberton membalas.

Sementara itu Sarah mencengkeram lututnya, ia menunduk pelan dan merasa tidak nyaman.

"Tunggu profesor," Sarah menyela, "Tuan Arkwood benar, Harold melakukan itu bukan karena ia nakal, tapi karena ia ingin daging meastel itu,"

Adelina dan Harold menatap Sarah dengan terkejut, sedangkan Tuan Chandler tersenyum perlahan.

"Jadi, bagaimana jika Harold diberi sedikit daging meastel," ucap Sarah memberikan saran.

"Bagaimana bisa begitu!" teriak Adelina memprotes.

"Tunggu Adelina-" sela Profesor Pemberton, "Pandangan yang bagus, Nak, dapur sekolah memang tidak menyediakan meastel untuk Sylphine, apalagi setelah perang,"

Profesor lalu berkata dengan nada panjang, "Jika penyihir ingin meastel maka belilah di tempat lain,"

"Tapi bagaimana jika ia tak memiliki uang," kata Nivan tersenyum tipis.

"Baiklah jika begitu, Harold boleh mendapatkan satu saja daging meastel." Ia lalu menghela napas, "Dan Adelina, my dear, aku ingin kamu bersikap lebih baik," kata Profesor Pemberton dengan tatapan iba.

"Aku sudah baik sejak ada di sekolah ini!" jawab Adelina keras.

"Terima kasih, profesor," kata Harold tersenyum senang, "Dan Sarah..." bisiknya.

"Sama-sama," jawab Sarah membalas tersenyum.

"Bagus, sekarang kembalilah ke sekolah kalian berempat," kata Profesor Pemberton dengan nada lembut.

Nivan, Sarah, dan Harold pun segera berjalan keluar dari ruang dewan sekolah itu. Adelina mendekati Sarah dan segera menarik jubahnya, Sarah pun tertarik ke belakang.
"Apa yang kamu lakukan!" tanya Sarah terkejut.

"Aku kini mulai mengingatmu setelah apa yang kamu lakukan ke Harold," kata Adelina berbisik.

"Kamu adalah, Sarah Beverley..." katanya dengan kedua mata melotot tajam.

Sarah menatap Adelina dengan tegang, udara di sekitar mereka terasa berhenti.
"Beruntung sekali, aku juga mengingatmu, Adelina," kata Sarah pelan.

Adelina pun segera mendorong Sarah untuk mundur. Ia lalu tersenyum tipis.
"Bagaimana rasanya bertemu lagi dengan orang yang kamu kenali di sekolah penyihir?" tanyanya sambil memiringkan kepalanya.

"Tidak ada... rasa apa-apa," jawab Sarah jujur.

Meskipun ia menjawab begitu, Sarah merasakan punggungnya sudah tegak. Adelina mengembuskan napasnya dan menatap Sarah dengan kesal, ia lalu berjalan menjauh.

Setelah kejadian sore itu, matahari pun terbenam di balik Bukit Jagonce, jembatan-jembatan batu yang menghubungkan beberapa bangunan di Brighford pun lalu turun dengan sendirinya menuju ke permukaan tanah. Di balik pagar besi di jurang terdapat roda-roda mesin yang memutar rantai untuk menurunkan jembatan itu.

Chapter 8: Merasakan Mana di Kelas Divinasi

Tiga hari kemudian di Hutton Cranswick, sebuah mobil bernama Vauxhall dengan warna putih berhenti di depan halaman rumah Sarah. Tiga orang lalu keluar dari dalam mobil, salah satunya adalah seorang wanita yang tengah memakai snood berwarna hitam sedangkan ada juga dua pria yang memakai jas serta topi trilby.

"Ketuk pintunya James," kata Percy memerintahkan temannya, Percy memakai jas krem.

"Baiklah, aku akan mengetuk," kata James tenang.

James pun langsung menaiki tangga rumah dan mengetuk pintu.
"Hai Nyonya..." kata James memanggil ragu-ragu, "Sir?"

"Sir," panggil Percy juga.

"Apakah kalian yakin disini ada Maggie?" tanya Eliza ragu-ragu.

"Menurut Yayasan Praesens, mereka mengirim pengasuh itu ke sini Nona," kata James tenang.

Percy pun kemudian iseng memegang ganggang pintu dan tiba-tiba pintu pun terbuka, ia lalu menatap James dengan wajah tegang.

"Lihat James pintunya terbuka..." katanya berbisik.

"Artinya rumah ini telah ditinggalkan," kata James mencondongkan badannya.

"Mungkin telah terjadi sesuatu di dalam..." tebak Percy serius.

"Bisakah kita segera masuk ke dalam rumahnya," tanya wanita itu kesal.

Lalu di seberang jalan, datanglah seorang gadis berwajah tembem dengan seragam Pandu Putri berlari kencang menuju ke arah mereka. Ia kemudian berhenti tepat di depan mereka, membuat James dan Percy terkejut. Gadis tembem itu lalu menarik nafas megah karena telah berlari.

"Permisi, siapa ini?" tanya Percy dengan nada panjang.

"Terlihat seperti anggota Pandu Putri Helmsley," jawab Eliza berbisik.

"Tolong!" pekik gadis itu kelelahan, "Tolong jangan masuk kedalam rumah itu," sambungnya panik.

Gadis itu mengenakan kemeja putih serta syal segitiga, dengan blouse berwarna biru serta piagam di samping dadanya.

"Tunggu, mengapa kami tidak boleh masuk?" tanya Percy kebingungan.

"Apakah ada masalah Nona?" tanya James.

"Mungkin kamu salah paham kami hany-"

Sebelum Eliza menyelesaikan kalimatnya, Shirley pun segera menyela dengan terburu-buru, "Jangan masuk ke dalam sana, ada naga di dalam!"

Shirley lalu segera menutup mulutnya, menyadari kesalahan ucapannya.

"Naga! Good heavens," teriak Percy tak percaya.
James dan Eliza pun sama-sama terkejut mendengar pernyataan spontan dari Shirley itu.

"Bagaiman mungkin ada naga dalam rumah kosong!" kata Percy, wajahnya menunjukkan tanda jika ia nyaris ingin tertawa.

"Ah- maksudku, ada hal pribadi di dalam sana, kalian tidak boleh masuk saat penghuninya tidak ada!" jawab Shirley meluruskan.

Shirley kemudian segera bergerak cepat berdiri membelakangi pintu rumah itu, kedua tangannya terentang melindungi pintu di belakangnya.

"Sungguh," katanya serius.

"Benarkah tidak ada orang disana, bagaimana dengan pengasuhnya Nona Haversham?" tanya Percy ramah.

"Itu benar. Kami kesini untuk mencari orang itu, Maggie Haversham," kata Eliza serius.

Shirley kemudian terdiam beberapa saat,
"Siapa? Seperti apa orangnya?" tanya Shirley penasaran.

"Ia wanita tua, salah satu telinganya terpotong sebelah," jawab Eliza lirih.

"Tidak, aku tidak melihatnya," jawab Shirley sambil menggelengkan kepalanya.

"Memangnya siapa ia, mengapa kalian sangat ingin mencarinya?" tanya Shirley ramah.

"Ia tepatnya teman lamaku, tapi aku kehilangan ia, aku takut sesuatu terjadi padanya," kata Eliza menjelaskan.

Kemudian di depan jalan melintas sebuah truk Bedford, suara mesinnya yang riuh bergema pelan di tengah jalan. Jendela truk itu kemudian terbuka lalu muncullah gadis dengan kulit merah matang dari balik jendela, ia memakai blouse berwarna biru juga.

"Shirley! Masuklah kedalam truk, kita akan kembali ke ladang," kata Abigail berteriak keras.

Mereka berempat kemudian bersama-sama menatap ke arah truk itu. Keempat roda truk tersebut telah kotor dan ada sisa-sisa jerami menempel di lumpurnya.

"Maaf Abigail, tapi aku ingin berbicara dengan tiga orang ini," kata Shirley berteriak.

Truk itu kemudian maju pelan dan memarkirkan diri ke samping jalan, Abigail lalu segera turun dari truk dan mendatangi Shirley serta ketiga orang itu.

"Permisi, apa yang telah terjadi di sini?" tanya Abigail tenang.

Eliza kemudian melangkah maju lalu berdeham pelan.
"Kami datang kemari untuk mencari seorang pengasuh bernama Maggie Haversham, yayasan bilang ia dikirim ke alamat rumah ini," jawab Eliza ramah.

"Tapi Nona ini sepertinya tidak mau bila kami masuk ke dalam," kata Percy sambil melirik ke Shirley.

Abigail lalu menarik nafasnya dan menjelaskan dengan tenang.
"Kalian tidak dapat masuk ke dalam sana, orang pemilik rumahnya telah pergi untuk ikut militer, dan setelah itu benar-benar tak ada siapa-siapa di rumah itu," kata Abigail tenang.

"Sungguh?" tanya Eliza tidak percaya.

"Tentu saja! Aku yakinkan kalian semua, bahkan wanita yang kalian deskripsikan itu tak ada di sini, tapi aku dengan senang hati akan menghubungi kalian bila menemukannya," kata Shirley tersenyum ramah.

"Baiklah, terima kasih karena telah memberitahu kami, aku akan memberimu nomor teleponku," kata Eliza dengan lirih.
Eliza kemudian dengan sibuk memeriksa ke dalam tas kecilnya untuk mencari-cari sesuatu. Ia kemudian menyerahkan secarik kertas ke tangan Shirley.

"Kalau boleh bertanya," Shirley menarik nafas, "apa yang telah terjadi, mengapa kamu bisa kehilangan temanmu?" tanya Shirley gugup.

"Baik, aku akan menceritakannya," kata Eliza, ia lalu memeluk dirinya sendiri.

"Ia adalah temanku, kami berteman sedari lama sejak di panti asuhan."

"Tapi ia tidak percaya dengan santa klaus, ia berkata padaku jika cerita indah itu tidak benar-benar ada. Sampai pada malam harinya ia di datangi oleh sesuatu berbentuk jelaga, sosok itu hanya memiliki satu tanduk berbentuk bulan sabit. Itu adalah iblis, penyihir yang mencoba untuk memasuki hati temanku yang telah tidak percaya lagi dengan kebaikan."

"Itu terdengar seperti cerita yang serius- Maksudnya, apakah semengerikan itu?" tanya Shirley dengan tatapan tegang.

Eliza kemudian  menghela nafasnya, "Aku telah berusaha agar maggie menjauh dari makhluk itu, dengan uang dari keluarga angkatku. Aku ingin ia menyayangi anak-anak..." Eliza perlahan tersenyum lembut, "Tapi kemudian ia kemudian tidak memberi kabar lagi padaku," kata nya mengakhiri ceritanya.

"Aku sungguh kasihan mendengar cerita itu, tapi maukah kalian bertiga mampir ke perkebunan kami dahulu. para warga desa tengah memanen goosebery." kata Shirley dengan tatapan iba.

Eliza kemudian menatap ke arah Percy dan juga James.

"Bagaimana menurut kalian?"

"Aku tidak masalah, goosebery adalah kesukaanku. Sama seperti gula," kata Percy santai.

"Aku mau saja, asalkan mereka juga membolehkan memakan buahnya langsung," kata James tersenyum tipis.

"Tentu saja," jawab Shirley dan Abigail.

Mereka berempat bersama-sama kemudian pergi meninggalkan halaman rumah itu, menuju ke rumah petani yang kebunnya mengelilingi rumah itu. Di kebun itu para pekerja kebun tengah beristirahat santai. Beberapa orang anggota pandu juga ada di sana tengah membantu kebun dan sebagian membantu di ladang.

Perkebunan ini dipisah oleh pagar tanaman, serta di  dekat rumah ada lumbung tinggi dengan warna kusam. Setelah dua mobil itu terparkir di depan halaman kebun, Shirley dan Abigail lalu segera mengajak ketiga orang itu untuk ikut duduk bersama pekerja kebun. disana mereka bertiga di berikan jus serta makanan sederhana dari pemilik lahan.

Lalu setelah keadaan mulai tenang, Shirley diam diam pergi ke lumbungnya, di bagian yang tak terlihat oleh jalan di atap lumbung itu ada lubang yang menganga. Shirley naik menuju loteng dengan tangga kayu yang diletakkan disana, ia menaiki tangga itu dengan hati-hati.

Di dalam loteng sudah ada ash yang terlihat sangat-sangat sibuk dengan surat surat yang dikirimkan padanya. Benang-benang serta surat yang telah terbuka telah berceceran di lantai.

Ash mengambil satu surat lalu membandingkannya dengan surat lainnya, ia membaca surat itu dengan serius.

"Well, nampaknya tengah ada yang sibuk disini," kata Shirley bercanda, "Surat-surat apa itu, apakah telah terjadi sesuatu?" tanya Shirley melanjutkan.

Sementara itu dari balik kotak kayu, muncullah kepala seekor burung angsa besar berwarna putih. Ia memperhatikan ash dan Shirley penasaran.

"Ya, telah terjadi sesuatu, para Quaestor menanyaiku tentang nona Haversham yang masuk kedalam majisca, mereka bilang wanita itu telah bertemu dengan ealdor," kata ash dengan terburu-buru, kedua telinganya menurun.

"Ah, itu sungguh kebetulan!" kata Shirley menepuk tangannya, "karena di rumah tuan Beverley sempat ada orang-orang yang mencoba untuk mencari maggie."

"Lalu?" tanya ash.

"Dan katanya, maggie tidak percaya dengan santa klaus, jadi ia pun didatangi oleh sosok iblis berwujud jelaga. Apakah ini fakta mengejutkan?" tanya Shirley dengan mata melebar.

"Itu tidak mengejutkan, sungguh," jawab ash cepat.

"Mengapa?" tanya Shirley, ekspresinya berubah.

"Orang biasa menyebut apa yang mereka tak dapat pikirkan sebagai iblis, dan penyihir tahu jika itu adalah ealdor. Makanya aku menyebut maggie berbahaya," kata ash tenang.

"Berbahaya?" kata Shirley menurunkan alisnya, "Tapi seseorang temannya sangat ingin mencarinya, apakah itu berbahaya?"

"Itu tergantung resiko apa yang akan ia dapat nanti," kata ash lirih.

"Jika nona Haversham berbahaya, mengapa tidak kamu urus dia sejak ia baru masuk ke majisca?" tanya Shirley kebingungan.

Ash lalu berbicara dengan terbata-bata "I-itu karena aku ha-hanya boonie," kata ash panik.

"Malang sekali nasibmu kelinci boonie alkemist," kata Shirley menggoda.

"Jangan bercanda, aku dulunya adalah penyihir!" jawab ash kesal.

Ash melanjutkan membuka surat terakhir yang masih tersegel dengan lilin. Surat itu ditulis oleh Charles Ashcroft, Ash segera membaca surat itu sampai akhir.
*Kepada ash, aku melihat mereka ada di dermaga di Skotlandia, dan mereka berdiskusi akan pergi menuju isle of gomond, kupikir aku tak dapat mengikuti mereka lebih jauh, silahkan kamu lanjutkan sisanya.*

"Isle of gomond," gumam ash sambil menurunkan alisnya.

"Itu terdengar seperti nama pulau di skotlandia," kata Shirley cepat.

"Maggie ada di sana. Tapi adakah yang punya sejarah tentang pulau itu?" kata Ash mengangkat kedua telinganya.

"Aku tidak tahu," jawab Shirley cepat.

"Mungkin aku harus mengirim seseorang untuk ke pulau itu," kata ash lirih.

Shirley kemudian membuka mulutnya saat mendengar ucapan dari ash itu.

"Haah, mengapa tidak lakukan saja sendiri?" tanyanya bingung.

Ash mulai memikirkan nama-nama penyihir yang pernah ia kenali.

"Mungkin aku bisa meminta bantuan Arthur Finnegan."

"Atau mungkin Charles Fletcher, ayahmu!" kata ash dengan nada tinggi.

"Ayahku!" teriak Shirley terkejut.

"Tidak, lakukan sajalah sendiri Ash Dwellers!" Shirley menatap boonie itu dengan tajam.

Shirley lalu melihat ke arah angsa yang tengah duduk di balik kotak, ia segera memerintahkan angsa itu untuk berjalan ke arahnya.

"Kemarilah burung manis, Athea."
angsa itu mulai berdiri, menampakkan kaki jingganya yang kokoh, angsa itu mulai mendekat pelan.
honk!

"Athea, tolong antarkan tuan Dwellers ini menuju isle of gomond!" perintah Shirley serius.

honk!
Athea kemudian mengeluarkan suara pekikan yang keras lalu dengan percaya diri langsung menyosor ke arah ash, ash pun terkejut panik. Athea mendorong ash hingga tergendong di punggungnya, Ia kemudian melebarkan sayapnya yang besar. 
"Wooow!!" pekik ash.

Ketika angsa itu mulai terbang, ash segera berteriak ke Shirley.
"Tunggu! Tapi kami belum tahu isle of gomond ada di mana!" teriak ash dengan nada tinggi.

"Kunjungilah perpustakaan! Benar kan Athea?" kata Shirley menggoda.

Angsa itu kemudian mengangguk pelan ke arah Shirley.
honk

Athea segera terbang dengan cepat menuju ke arah Utara, ash langsung berpegangan di tubuh angsa itu lalu membenarkan posisinya, bulu-bulunya terurai oleh angin yang kencang.

"Tunggu, bagaimana jika kita dilihat oleh manusia!" kata ash khawatir.

hrronk
Tubuh angsa itu kemudian menghasilkan asap yang tebal dan menyelimuti tubuh mereka, warnanya yang abu-abu persis dengan warna langit, membuat mereka nyaris tak terlihat dari bawah tanah.

"Itu benar-benar mantra ilusi yang keren nak!" puji ash ringkih.

Athea terus terbang sampai ke langit yang sangat tinggi, dengan asap yang menyembul dan meniru warna langit yang abu-abu.

Ketika dua makhluk itu terbang menembus awan yang tebal, di sekolah Brighford, Sarah duduk termenung di meja, ia bisa dilihat dari jendela lantai empat sekolah. Sarah memandang ke arah langit yang berwarna abu-abu terang di balik jendela kaca persegi. Ruangan yang ia tempati sekarang ini adalah kelas Divinasi. Kelas yang mengajarkan pada siswa cara menerawang sesuatu yang tersembunyi, dari tempat maupun seseorang.

Dinding-dinding kelas itu berhiaskan cat berwarna hijau zaitun serta cokelat tua. Meja-meja siswa disusun dengan posisi berbaris berjumlah 24 buah. Sedangkan pintu kelasnya berada di kolom berbentuk setengah lingkaran yang berhiaskan kaca dan dinding putih.

Sarah membuka buku bekas dengan sampul yang telah robek dan menampakan robekan berwarna jingga gelap, di buku itu sudah penuh dengan bekas tulisan milik orang lain, buku yang diberikan oleh Harold secara cuma-cuma sebagai tanda terimakasih. Ia mengambil pena bulu kemudian menggambar dua kaos kaki di kertas buku itu.

Tinta pena meresap di kertas buku dan Sarah memberikan nama ke kedua kaos kaki itu, Bremen dan Bruth, nama dua kaos kakinya yang mungkin masih ada di rumahnya.

Sarah meletakkan pipinya ke atas tangannya dan menghela nafas lelah. Sementara itu satu persatu murid sudah duduk di kursi mereka, saling berbicara, seperti Anna yang berbicara serius dengan Clarissa, serta Chloe yang diam-diam tengah memahat kayu yang tangannya ia sembunyikan di bawah meja.

"Bruth dan Bremen, apakah kalian tahu mengapa Adelina Louise bisa ada di sekolah ini?
Apakah ia ada untuk menggangguku?" tanya Sarah ke gambar dua kaos kaki itu.

Sarah kemudian mengisi suara kedua kaos kaki itu,

"Aku yakin Bremen tidak akan berpikir seperti itu Sarah," kata Bruth santai.

"Sarah, mengapa kamu tidak menikmati saja sekolah ini, tempat ini seperti wonderland," kata Bremen.

"Aku memang ingin melakukan itu, karena tempat ini benar-benar membuatku jadi penyihir," kata Sarah serius.

Sarah lalu menoleh ke jendela di sampingnya kemudian menatap ke arah lapangan sagitarium, disana ia melihat profesor fairlow tengah menggiring kawanan mosquilia mandrake yang berbentuk bawang untuk bergelinding menuju ke dalam sekolah.
"Seperti mandrake yang bergerak seperti bola..." ujar Sarah meniru gaya suara Bremen.

Sarah kembali duduk ke kursinya, ia menatap ke arah gambarnya lagi.
"Kira-kira menurut kalian, apakah putri katak betah tinggal di sini?" tanya Sarah dengan nada menggoda.

"Maksudnya si Adelina, ia dulu pernah menyebut dirinya putri katak," sambung Sarah sambil menyerngit.

Kemudian dari pintu kelas, datanglah profesor pemberton dengan jalannya yang anggun. Profesor memakai gaun koktail berwarna teal dengan bagian bahu terlipat halus. Di tangannya ada sarung tangan biru dengan garis-garis emas. Rambut pendek profesor pemberton memiliki volume di atasnya yang menggumpal, sedangkan rambut di belakang telinganya dibuat lebih ikal dan tergulung rapi daripada rambut lainnya.

"Selamat pagi, kelas," kata profesor pemberton ramah.

Sarah segera membalik halaman bukunya dan menatap kearah profesor.
"Pada hari ini kelas Divinasi kita telah kedatangan tamu yang berharga," kata profesor pemberton lirih.

Dory masuk ke dalam kelas sambil mendorong gerobak kayu dengan bayi di atasnya, bayi tersebut memasang kupluk berwarna kuning dan biru pudar, di bawahnya, terurai kain lembut yang menjadi tempatnya duduk. Suara bayi itu memecah keheningan kelas.
"ahaa haaa,"

"Lihatlah si bayi!" teriak nancy.

"Hai bayi clack," panggil Chloe sambil meletakkan kembali kayu pahatnya itu ke meja.

"Siapa bayi itu?" tanya Sarah penasaran.

Profesor pemberton kemudian menatap ke arah Sarah, tangan kanannya hampir menyentuh pipinya sendiri, ia tersenyum perlahan-lahan.

"Perkenalkan, sayang. Ia adalah bayi clack, seorang anak yang ku adopsi di belanda," kata profesor Pemberton dengan nada halus.

"Hai bayi clack," panggil Sarah ke bayi itu.

"Haaa haaaa!" kata bayi clack tertawa.

"Anak-anak ku tersayang," panggil profesor pemberton ramah.

"Dalam Kelas divinasi, kalian harus belajar tentang mendeteksi apa yang tak terlihat, seperti residu sihir yang berterbangan di udara," kata profesor pemberton serius.

Chloe berbisik ke samping Sarah, "ini pelajaran yang bagus tahu, saat di Infant School anak-anak diajari merasakan sihir lewat bau di udara."

"Karena pada kenyataannya semua benda yang telah berkontak dengan sihir pasti akan meninggalkan sisa-sisa mana, dan benda juga dapat disihir agar memiliki mana," kata profesor melanjutkan.

"Entah mengapa... pelajaran ini nampak mustahil," kata Sarah tercengang.

"Tidak jika kamu memang adalah penyihir," sahut jade tenang.

"Baiklah," gumam Sarah pelan.

"Pada hari ini, kalian akan belajar menebak benda manakah yang telah dikendalikan dengan sihir," kata profesor Pemberton tenang.

"Bagaimana cara menebaknya profesor? Karena asap saja bahkan tak ada rasanya," kata Clarissa penasaran.

"Karena sihir itu adalah Mana Clarissa, ia bukan sekedar asap di udara," jawab profesor pemberton tersenyum.

Profesor pemberton kemudian mengambil sebuah bola mekanik besar yang tergeletak di atas meja bersama dudukan yang bagian atasnya punya bilang sepanjang 2 kaki, bilah itu menyerupai kunci.

Ia lalu meletakkan dudukan itu ke laci yang berada paling belakang kelas, ia lalu menusukkan bagian bawah bola itu ke bilah dudukan hingga muncul suara klik yang menandakan kedua benda itu telah menyatu.

"Apakah ada yang tahu nama bola ini?" tanya profesor pemberton menggoda.

Chloe dan Lois pun langsung mengangkat kedua tangan mereka.

"Nona Havelina," kata profesor.

"Itu namanya Triangular Cycle, profesor!" kata Chloe buru-buru.

"Benar nona Havelina, kamu anak berpengetahuan," kata profesor pemberton memuji.

"Ahh! Aku hampir mengetahui jawabannya," kata Lois mengeluh.

"Kamu juga hebat atas usahamu tahun lalu Lois," kata profesor Pemberton lembut.

Triangular cycle memiliki besar 3 kaki, dengan bentuk seperti roda gigi kecil dengan formasi segitiga yang saling berbaris sesuai bentuk geometri.

Di sisi lain, dudukannya terbuat dari kayu dengan tiga kaki hias lurus dengan pondasi bundar di bawahnya, sementara itu bagian atasnya hanya ada satu tongkat lurus tunggal yang fungsinya adalah untuk mengunci bola.

Profesor lalu mengeluarkan sebuah wadah berisi banyak dart berwarna hitam dan krem dari dalam laci, Sarah melihat profesor menusukkan dart itu ke tiap sisi roda gigi, sampai roda gigi itu hampir dipenuhi oleh banyak dart.

"Dart di tanganku ini, hanya ini yang mengandung sihir," kata profesor pemberton lirih.
Profesor membawa satu dart itu menuju ke arah bayi clack, bayi itu menatapnya dengan tenang dan sesekali menepuk kakinya.

"Lihatlah, ini adalah kehebatan bayi clack," kata Chloe di samping Sarah.
Chloe menatap bayi dan profesor dengan wajah serius.
"Bayi itu dapat melempar senjata dan memantulkannya berkat bakat sihirnya," jawab Chloe melanjutkan.

"Itu terdengar keren," puji Sarah.

"Jadi bayi clack, silahkan kamu lempar dart ini," katanya sambil memberikan dart itu ke tangan sang bayi.

Bayi clack menyambut dart tersebut, profesor mundur untuk menghindar dari hadapan bayi tersebut, para murid termasuk Sarah memperhatikan dengan penasaran. Bayi clack melempar dart itu ke depan, dart tersebut terbang melintasi kepala murid di bawahnya.

Dart itu meleset dari triangular cycle dan justru malah memantul dari dinding menuju atas langit kemudian meja siswa lalu dinding di samping kanan, beberapa siswa terkesiap dan berteriak kaget.
"Aaaaa-"

"Dart nya memantul!" teriak Sarah.

"Begini, lagi!" keluh Lois kesal.

"Awas kepalamu!" perintah neville.

Dart itu masih memantul-mantul dan nyaris mengenai wajah beberapa siswa. Di sisi lain, nivan dan juga Lois fokus memperhatikan gerakan dart tersebut sedangkan Sarah menutupi kepalanya dengan kedua telapak tangan.

"Movetur phantasia!" ucap profesor pemberton mengarahkan tongkatnya, modul di tongkat profesor lalu melepaskan cahaya kecil.

Dart itu kemudian nyaris mengenai wajah seorang siswa sebelum profesor pemberton segera menggunakan tongkat sihirnya, tongkat sihir itu berwarna hitam dan memiliki dua bingkai kecil yang sedikit melebar dan memiliki lekungan oval berbentuk kawah. Didepan tongkat itu, dart tersebut hanya terdiam dan berputar di udara, ia nampak bergetar samar-samar.

"Itu sungguh tidak masuk akal!" tegas Lois tidak percaya, "Dart itu harusnya menusuk benda!" sambungnya serius.

"Ada hal lain yang tak masuk akal..." kata nivan lirih, "Arah pantulannya, kalau pakai hukum Newton dart itu harusnya memantul sesuai sudutnya."

Profesor pemberton kemudian menatap siswa itu dengan senyuman bangga, "Jadi tuan arkwood, menurutmu apa yang telah terjadi?"

"Dart nya memantul seolah memiliki arah sendiri, dan itu tak akan disadari jika hanya dilihat," jawab Nivan lirih.

Profesor Pemberton kemudian bertepuk tangan dan memberikan senyuman ke arah nivan. Sementara itu dart nya masih melayang-layang di udara.

"Bagus tuan arkwood, kamu menyadari sesuatu yang penting bagi penyihir ahli, aku akan memberimu nilai 50 poin," puji profesor pemberton.

"Kerja bagus, nivan!" puji Chloe tertawa.
Nivan membalas dengan tersenyum.

Profesor Pemberton kemudian mengarahkan ujung dart itu menuju triangular cycle lalu melepaskannya hingga dart itu melesat mengenai salah satu roda gigi.

"Sekarang, aku mau satu-satu anak mencoba untuk menebak dimana dart yang telah disihir tadi," ujar profesor serius.

Setelah profesor merapalkan mantra cargo motus, semua roda gigi di triangular cycle itu kemudian saling berputar melalui poros, orbit, serta mengubah posisinya. Mengacak-acak posisi dart hingga tak diketahui lagi mana yang telah disihir.

Setelah itu, profesor meraih bagian sela antara dudukan dan bola itu, disana ia memegang tongkat bola sampai bola tersebut berhenti berputar, kini tak ada yang mengetahui dimanakah letak dart barusan.

"Sekarang para penyihirku, silahkan temukanlah dart yang tadi kulempar," kata profesor pemberton tersenyum manis.

Kemudian satu persatu siswa pun mulai mencoba mencari kehadiran dart tadi, caranya adalah dengan menggunakan cahaya di ujung tongkat mereka, cahaya akan bergetar apa bila ada mana di tempat tersebut. Saat murid yang sudah mencobanya digantikan bola pun berputar dan memindahkan posisi dart lagi.

Ketika Chloe berhasil menemukan dart itu, ia lalu membisiki Sarah dan memberinya saran.
"Jika tongkamu bergetar saat memakai mantra essolum, maka itulah dart nya."

Sarah membalas Chloe dengan mengangguk. Dan sekarang adalah giliran Sarah, ia dipanggil oleh profesor pemberton untuk mencobanya juga. Sarah berjalan mendekati bola itu, ia mengarahkan ujung tongkat ke dekat dart lalu mengucapkan mantra itu.
"Essolum," ucap Sarah.

Dari ujung tongkatnya lalu muncul sebuah cahaya terang berwarna putih, ketika didekatkan ke dart mulai muncul tarian cahaya mengelilingi bola itu. Tarian tadi bagaikan partikel kabut yang nyaris tak terlihat.

Sarah kemudian merasakan getaran halus dari tongkatnya. Ia kemudian memutar-mutar bola itu seperti yang dilakukan siswa lainnya, ia lalu merasakan tongkatnya mulai bergetar lebih cepat.

Dengan menyentuh satu-satu punggung dart yang ada disana melalui ujung tongkatnya, Sarah akhirnya berhasil menemukan satu dart itu. Bayi clack lalu tertawa senang setelah Sarah mendapatkan dart itu.

"Jadi sudah semua anak mencobanya, bagi yang gagal aku anjurkan kalian berlatih lebih sering, dan yang bisa juga harus berlatih juga!" kata profesor pemberton serius.

Bayi clack kemudian meraih sebuah pisau yang terselip di samping bantal duduknya, ia mengangkat pisau itu dan tertawa kecil. Para siswa pun memperhatikan bayi itu dengan tegang.

Profesor pemberton segera meraih pisau tersebut dari tangan bayi dan mengamankannya.
"Tidak, sayang. Anak-anak harus belajar untuk tidak melempar pisau sembarangan," kata profesor ringkih

Bayi clack kemudian meringkih nangis setelah pisaunya diambil.
"Ayo kita pulang," kata profesor pemberton melanjutkan.

Profesor pemberton lalu mendorong gerobak bayi itu menuju ke luar kelas. Beberapa siswa memperhatikan dengan tak percaya. Di sisi lain, di ujung cakrawala, ash bersama athea sudah terlihat, mereka terbang dengan cepat ke arah kastil Brighford di kejauhan.

"Itu dia kastilnya, ada perpustakaan disana!" kata ash cepat.
hrooonk

Angsa itu pun kemudian berputar di atap-atap sekolah, ash segera menunjuk ke jendela yang kaca ventilasinya terbuka. Lewat sanalah ash beserta athea masuk ke dalam perpustakaan.

Chapter 9: Mengikutinya Dengan Kereta Luncur

Ash bersama dengan Athea kini terbang mengelilingi langit-langit perpustakaan. Mereka berdua kemudian turun perlahan menuju rak sejarah di perpustakaan. Kepakan angsa itu berayun pelan, suaranya tidak terdengar berisik. Dan Ash pun segera turun dari punggung makhluk itu dengan melompat turun.

"Pasti ada petunjuk tentang pulau itu disini," gumam Ash serius.

Ash melihat-lihat ke arah buku-buku di rak itu. Buku-buku di sana memiliki ketebalan berbeda dan selalu disusun dengan rapi. Athea memilih untuk duduk di dalam rak buku dan beristirahat di sana.

"Kamu serius tak mau membantuku?" tanya Ash bercanda, "Baiklah tak apa, lagipula kamu hanya angsa..." sambungnya dengan nada datar.

Lalu dari arah menara Gervais, jam mekanik raksasa pun mulai berdentang, suaranya terdengar sampai ke dalam perpustakaan.

"Jam Gervais, sungguh membuat nostalgia!" kata Ash tersenyum lebar.

Berbunyinya jam dari menara tinggi itu, menandakan kelas-kelas di Brighford telah berakhir, semua murid penyihir akan keluar dari kelas mereka menjalani waktu luang. Pada saat itu jugalah Sarah, Chloe, dan Nivan saling berjalan bersama di lorong lantai empat.

"Menurut buku artefak sihir di perpustakaan, kristal apel hijau yang dipegang oleh profesor Grimble merupakan alat divinasi tingkat tinggi untuk mengetahui keberadaan sihir dan orang dari jarak yang jauh," kata Nivan menjelaskan.

"Termasuk mengetahui keberadaan ealdor?" tanya Sarah penasaran.

"Darimana kamu tahu istilah itu?" tanya Chloe menatap ke Sarah.

"Dari profesor Grimble," jawab Sarah.

"Aku pernah dengar tentang ealdor, itu pernah ditulis di perpustakaan. Tapi aku tidak membacanya sampai habis," kata Nivan serius.

"Jika begitu bagaimana kalau kita pergi saja ke perpustakaan," usul Sarah.

"Sekarang?"

"Tentu saja sekarang, aku ingin tahu lebih banyak tentang sihir," jawab Sarah serius.

"Jadi, bagaimana menurutmu soal sekolah ini, kamu baru mengetahui sihir kan," tanya Chloe tenang.

"Aku suka sekolah ini, karena ia membuatku menjadi penyihir!" jawab Sarah senang.

Chloe kemudian menyindir Nivan, "Itu jawaban yang sungguh berbeda dengan Nivan."

"Mengapa bisa begitu?" tanya Sarah penasaran.

"Bukan begitu!" bantah Nivan, "Aku pikir sekolah ini biasa saja, dengan aturan yang rumit seperti saat malam jembatan di turunkan. Dan jika nakal akan dihukum jadi dissinia."

"Tapi aku bukan anak nakal," kata Sarah dengan percaya diri.

"Aku percaya itu," sahut Chloe membela Sarah.

Ketika mereka bertiga masih berjalan, Adelina, Nancy, dan juga Dorothy mengendap-endap dan mengawasi mereka dari belakang. Adelina memperhatikan Sarah dengan serius.

"Sungguh tidak masuk akal," kata Adelina menyerngit, "Ia memang Sarah Beverley!"

"Bagaimana kamu yakin?" tanya Nancy spontan.

"Mungkin dari badannya?" jawab Dorothy menebak.

Dorothy lalu mengambil botol air kecil dari dalam tas kecilnya kemudian meminum air putihnya.
"Tolong berhenti minum dulu, Dorothy," kata Adelina memberi nasehat.

"Aku haus sekarang, Adelina," jawab Dorothy ringkih.

"Baiklah dengar teman-teman, aku kemarin telah menghubungi Nona Sokonova dari perkemahan Gusterring," kata Adelina melanjutkan.

"Bagaimana kamu menemukan nomornya?" tanya Dorothy santai.

"Dengan bantuan kertas mutiara, Dorothy, bantuan sihir. Nona Sokonova bilang jika dulu Sarah rambutnya di kepang sesuai ingatanku, dan ia gadis yang ceria," jawab Adelina panjang lebar.

"Jadi apa rencana kita, memintanya tunduk sebagai sylphine? Atau jatuhkan ke dissinia? Walau yang bagian itu belum dicoba," tanya Nancy penasaran.

Seringaian tajam kemudian merekah dari bibir Adelina, ia menggigit bibir bawahnya sambil tersenyum.

"Jangan terburu-buru kawan-kawan!" kata Adelina dengan nada tinggi.

"Kemari, aku memiliki rencana!" bisiknya cepat.

Adelina lalu merangkul kedua temannya untuk berbisik. Mereka bertiga saling berbisik, membiarkan Sarah dan tiga lainnya berjalan menjauh.

Ketika Sarah, Chloe dan Nivan sudah mencapai area lorong yang lebih besar, di ujung lorong nampak sesosok tinggi pucat yang tengah mengenakan sepeda, bergerak dengan pelan di lorong. Sesekali ia membunyikan bel sepedanya dan melemparkan koran ke arah murid dengan lembut.

"Siapa yang memakai sepeda di dalam lorong!" tanya Sarah sedikit terkejut.

"Itu adalah Kent, si elf pelaut pemberontak," jawab Chloe dengan santai.

"Berita hangat! Berita hangat murid-murid! Ini tentang ealdor!" teriak Kent dengan nada tinggi di kejauhan.

"Ealdor!" pekik Sarah terkejut.

"Kemarilah, dapatkan koran ini dariku, Nak," sambung Kent dengan nada tinggi.

Elf itu pun mulai terlihat semakin dekat dengan posisi mereka bertiga, Chloe memanggilnya dengan ramah.

"Hai Tuan Kent," panggil Chloe.

"Hai Nona Haveline, apakah kamu mau koran hari ini?" tanya Kent santai.

"Tentu, apakah ada berita tentang ealdor tadi?" jawab Chloe.

"Kuharap kami tak salah dengar," kata Nivan lirih.

"Tentu... tentu, ini adalah berita baru tentang ealdor, mengapa tertarik?" tanya Kent santai.

Tuan Kent kemudian mengambil koran yang berada di keranjang sepedanya, lalu memberikannya ke Chloe, Nivan dan juga Sarah menoleh ke halaman koran itu, disana nampak beberapa berita besar, dimana tiga lainnya berasal dari beberapa hari yang lalu pada tanggal 29 April sampai 4 Mei.

Pertama tentang ealdor yang mulai bertindak nekat, dimana telah terjadi tiga kali kebakaran, ledakan, dan kemunculan kultus yang terkait dengan ealdor. Pihak-pihak yang menjaga penyihir di bawah perlindungan mereka diminta untuk segera mengamankan wilayah dan tidak asal ikut dalam kelompok beresiko.

Kedua tentang kereta kargo dari ECFR bernama Princess Cenessa telah rusak akibat serangan Baedeker Blitz di York stasiun, pasokan gandum mungkin tidak akan sempat diantar ke seluruh Yorkshire, membuat beberapa desa di Majisca mungkin akan beresiko semakin kekurangan makanan.

Lalu berita ketiga adalah tentang klub olahraga Slingball yang mungkin akan bubar dan fokus ke militer jika saja perang masih berlanjut, apalagi Prancis yang pernah jadi tuan rumah menghentikan pertandingan Slingball yang membawa atlet dari seluruh Eropa.

Lalu ada potongan foto kecil tentang penyihir, profesor Gordon Russell Henderson yang ditanyakan telah ditangkap oleh otoritas Inggris karena merencanakan fasisme.

"Blimey, apa-apaan ini!" teriak Chloe keras.

Sarah dan Nivan lalu menatap Chloe dengan kebingungan.

"Apa maksudmu?" tanya Sarah.
"Ada apa?" tanya Nivan ikutan.

"Kereta Princess Cenessa telah rusak karena serangan Blitz, jika begitu pasti seluruh sekolah akan kekurangan makanan." kata Chloe panik, "Tunggu, bagaimana dengan nasib desa Barnwolf!"

"Ku- kupikir ini saat-saat terakhirmu makan bubur gandum, Nona Haveline," kata Kent malu-malu.

"Chloe, tolong fokus! Kita harus fokus ke ealdor," kata Nivan serius.

"Apakah harus aku saja yang membaca berita tentang ealdor itu?" tanya Sarah bingung.

"Tidak, biar aku saja," gumam Chloe.

Chloe kemudian melanjutkan membaca koran itu,
"Para ealdor mulai bertindak nekat,"

"Apa artinya itu?" tanya Sarah.

"Artinya para penyihir tua mulai berbuat sesuatu demi ambisi mereka," jawab Nivan singkat.

Tuan Kent memiliki telinga yang panjang dengan ujung runcing. Rambutnya luruh dan kasar, ia memakai topi trilby yang menutupi rambut atasnya. Sedangkan pakaiannya berupa jas berwarna merah marun dan celana kotak-kotak berwarna hijau. Tuan Kent lalu menatap ke arah Sarah dengan raut wajah penasaran.

"Nona Haveline, dan Tuan Arkwood, siapakah gadis yang ada di samping kalian ini?" tanyanya penasaran.

"Dia Sarah Beverley, siswa baru Sylphine," jawab Chloe cepat.

"Hai, aku Sarah," sapa Sarah.

Kent kemudian turun dari sepeda lalu mencondongkan badannya, ia menyentuh dada kanannya untuk menunduk hormat.
"Demi Prosenaire, hai Sarah, perkenalkan aku Kent, aku adalah elf dari Kent yang sudah tua. Usiaku 165 tahun," kata Kent ramah.

"Senang bertemu denganmu Tuan Kent," kata Sarah tersenyum ramah.

Tuan Kent lalu menegakkan badannya dan memakai sepedanya lagi, ia melambai singkat ke ketiga anak itu.

"Sampai jumpa,"

"Kamu mau kemana?" tanya Nivan.

"Aku mau lanjut bekerja, selanjutnya aku harus membersihkan gudang sekolah, menjaga Apparition Cest tetap hangat dan memberi makan hewan-hewan di sekolah," jawab Kent sambil mengayuh sepedanya.

"Baiklah sampai jumpa," sahut Sarah.

Mereka bertiga melanjutkan perjalanan sampai akhirnya tiba di ruang perpustakaan, Perpustakaan itu berada di lantai dua, di mana buku-buku di sana sebagian diletakkan dengan rapi, dari pintu perpustakaan saja ada larangan bertuliskan "Jangan tumpuk buku di rak, nanti Boggart akan membuat kalian terperosok!"

Di bagian dalam perpustakaan itu tersusun rak-rak buku dengan rapi, dengan lorong rak dari jenis materi buku berbeda. Di lantai depan rak itu ada pahatan kayu berupa tulisan seperti mantra, divinasi, sapu terbang, sejarah. Perpustakaan itu memiliki dinding berwarna putih dan kuning emas, serta balkon yang mengelilingi perpustakaan.

Langit-langit perpustakaannya berwarna ungu gelap dengan garis-garis geometri yang rapi. Sedangkan di tengah langit terdapat ratusan lilin yang melayang dan membentuk daratan Kepulauan Inggris.

"Topik tentang ealdor di buku rujukan tentang tanah penyihir di masa lalu," kata Nivan singkat.

Chloe menurunkan alisnya dengan serius, "Aku juga ingin baca buku rujukan!"

"Apakah kalian pernah baca sejarah tentang penyihir bernama Zessica Oliver?" tanya Chloe menggoda.

Mereka berdua lalu mengatakan tidak tahu. Chloe kemudian bercerita singkat kepada kedua temannya, dimana Zessica Oliver adalah seorang panglima di abad 15 yang bertugas melindungi sandera putri dari kepala pemimpin di Wales. Ketika Sarah menyusuri perpustakaan, ia melihat Ash melintas di antara dua rak dan menghilang. Sarah sedikit tercengang.

Sarah kemudian berlari ke tempat Ash muncul tadi kemudian berbelok, dan pada akhirnya ia pun bertemu lagi dengan boonie berjubah hijau itu.

"Ash," panggil Sarah gugup.

boonie itu kemudian berbalik menatap ke arah Sarah, ia melihat penampilan Sarah setelah tiba di Brighford, dengan seragam Sylphine yang ia kenakan, serta dua kapit rambut yang masih ada di kepalanya. Kedua mata Sarah yang berwarna hijau gelap menatap boonie itu dengan senang. Sementara itu Athea hanya mengangkat leher dan menatap mereka berdua.

"Sarah!" seru Ash.

"Lihatlah dirimu, kamu menjadi Sylphine!" puji Ash, ia tersenyum lebar.

"Ya,"

"Walau ibumu sebelumnya adalah anggota Rosemith!" sambung Ash dengan nada tinggi.

"Rosemith? Jadi ibuku dulu ada di asrama itu?" tanya Sarah penasaran.

Ash kemudian melangkah dengan santai.
"Ya, dia sudah sedari awal menjadi Rosemith setelah memakai Tembikar Ho-lop. Mungkin karena bakatnya," jawab Ash santai.

"Lalu mengapa aku menjadi Sylphine?" tanya Sarah penasaran.

Ash lalu mendekat dan menepuk lengan Sarah dengan telapak tangannya.
"Oh itu tidak apa-apa, bakat bisa di asah, Nak... Aku akan memberimu satu usulan."

Ash mengayunkan tangannya agar Sarah mendengarkan bisikannya, ia lalu berbisik ke Sarah yang sudah membungkuk untuk mendengarkan.

"Pilihlah satu bakat terkuat yang kamu bisa, maka kamu bisa berada di asrama Rosemith setelah bakat itu berguna!"

"Sungguh, hanya seperti itu?" tanya Sarah dengan mata melebar.

"Ya, begitulah aturannya sejak 1928, anak Dissinia maupun Sylphine dapat menjadi Rosemith selama mereka tumbuh jadi penyihir baik," kata Ash menjelaskan.

"Kalau begitu, aku ingin tetap menjadi penyihir baik," jawab Sarah tersenyum.

"Itu keputusan bagus, Nak!" kata Ash santai.

Chloe dan Nivan melihat Sarah tengah berbicara dengan Ash, mereka lalu menghampiri keduanya. Mereka berdua datang melalui arah rak lain. Chloe sudah sempat mengambil dua buku, buku Wizingas Weald: Penguasa Tanah yang Tak Benar Suci, dan buku Sejarah Kota Stanshire.

"Sarah, kamu berbicara dengan siapa?" tanya Nivan penasaran.

"Itu Ash Dwellers, pamanku bercerita jika Ash pernah membantunya," jawab Chloe santai.

Ash kemudian mengangkat kedua telinganya, ia menoleh ke arah Chloe dan juga Nivan.
"Ahh Haveline. Sarah, apakah kamu kenal mereka berdua?" tanya Ash ke Sarah.

"Ya... mereka berdua adalah teman-temanku," jawab Sarah lirih.

"Bagus, Nak, kamu sudah mendapatkan teman di sekolah," kata Ash memuji lagi.

"Ada hubungan apa sebenarnya kalian berdua?" tanya Chloe penasaran.

"Ia yang mengajak dan mendaftarkanku ke Brighford..." jawab Sarah menatap Ash.

"Karena aku yang menolongnya saat masih bayi," kata Ash membalas.

Chloe kemudian menurunkan alisnya, menatap boonie itu dengan penasaran.
"Jika boleh ku tebak, kamu ke sini pasti bukan karena ingin menemui Sarah. Pasti ini terkait dengan suatu masalah!" kata Chloe tajam.

"Benarkah begitu, Ash?" tanya Sarah penasaran.

Ash menelan ludahnya, ia sedikit ragu untuk berbicara.

"Pertama, kamu tidak mencoba mencari Sarah, kedua ada angsa tidur di rak buku yang seharusnya tidak mungkin ada di perpustakaan, dan ketiga, pasti terjadi sesuatu!" sahut Chloe dengan tatapan lebar.

"Ya kamu benar, Nona Haveline, aku ke sini karena telah terjadi masalah, aku disuruh menyelidiki sendiri," jawab Ash sambil memegang pinggangnya.

"Katakan saja, masalah apa yang kamu alami?" tanya Nivan tenang.

Ash sempat terdiam sejenak sebelum ia akhirnya mencoba untuk menceritakannya kepada ketiga anak tersebut. Ash memulai cerita jika tiga hari yang lalu para Quaestor ingin menangkap Maggie Haversham, yang tengah berjalan lelah di hutan Woolymoon, di sana mereka sudah siap untuk menangkap Maggie. Ash menurunkan telinganya saat bercerita.

"Mereka mengatakan padaku jika mereka sudah siap untuk menangkap pengasuhmu itu, tapi rencana mereka gagal setelah seekor troll muncul dan menyerang mereka."

"Semua Quaestor mundur, tak ada yang mau kembali lagi apalagi setelah mereka tahu jika si Nona Haversham itu telah bertemu dengan ealdor di gereja yang ditinggalkan..."

"Maggie... bertemu ealdor..." gumam Sarah.

"Mengapa pengasuhmu mencari itu?" tanya Nivan penasaran.

"Itu terdengar bahaya," balas Chloe.

"Untuk mencari keajaiban... itu yang kudengar darinya," jawab Sarah.

Karena peristiwa yang terjadi, para Quaestor kemudian mengirimi Ash sebuah surat akan apa yang telah terjadi saat itu dan meminta Ash untuk menceritakan kronologinya sekaligus membantu melacak Maggie.

Ash menceritakan apa yang ia ketahui, sedangkan di saat yang lain ia sudah mengirim penyihir bernama Charles Ashcroft untuk mengikuti jejak si ealdor dan juga Maggie.

"Sang ealdor mengajak Maggie untuk pergi ke Isle of Gomond, tapi sayangnya aku tak tahu apa-apa soal tempat itu makanya aku mencoba mencarinya di perpustakaan," kata Ash menjelaskan.

"Menurutmu, apakah Maggie akan benar-benar mendapatkan sihir yang ia cari?" tanya Sarah lirih.

"Ya..." jawab Ash berbisik, "tapi aku tidak menganggap itu sebagai sihir yang aman, entah apa yang akan terjadi tapi seseorang harus segera membuat wanita itu menjauh dari ealdor," kata Ash melanjutkan.

"Ya. Itu benar," kata Nivan memalingkan wajahnya.

Ash kemudian melanjutkan pencariannya. Ia mengambil buku tua yang berada paling atas rak, kakinya yang lembut berpijak di ambalan rak buku.

"Apakah kamu mau kubantu?" tanya Sarah menatap ke arah Ash.

"Tidak perlu, aku bisa sendiri!" jawab Ash.

Ash kemudian terjatuh ke lantai bersama sebuah buku tebal dengan sampul yang keras, buku tersebut sampulnya menyerupai sisik naga.

"Aaah-"

"Apakah kamu perlu bantuan?" tanya Sarah sekali lagi.

"Tak apa,"

boonie itu kemudian berdiri dan segera menepuk punggungnya yang terasa sakit, ia lalu membaca bagian indeks buku untuk mencari tahu. Sarah, Nivan, dan Chloe kemudian mendekat perlahan-lahan karena penasaran.

"Apa itu?" tanya Chloe penasaran.

"Apakah itu tentang ealdor!" tanya Sarah ikutan.

Ash segera menggelengkan kepalanya.
"Aku menemukannya. Isle of Gomond," jawab Ash pasrah.

Di halaman buku tersebut nampak sebuah peta beberapa pulau kecil, sementara itu di sampingnya ada lukisan beberapa orang penyihir yang tengah menatap ke arah sabit yang dililit ular.
Di bawahnya terdapat tulisan dengan huruf Anglo-Saxon:

"Þæt ealde wiccecynn De Vorag beheold hu þa næddran heora æceras geheoldon; mǣre sind þa fōtlēase wihta þe magon ofslean on swīgunge."

Sedangkan di bawahnya lagi adalah tulisan biasa. Ash membaca tiap paragraf sampai ujung halaman.
"Generasi ke-4 De Vorag, yaitu Oswald de Vorag telah membeli pulau-pulau kecil di barat laut Skotlandia untuk menjadi tempat pribadi anak-anaknya dalam membangun laboratorium dan fasilitas yang tersembunyi di bawah tebing. Pulau tersebut adalah Isle of Haskier, Isle of Gomond, dan Isle of Uist." kata Ash membacakan paragraf itu.

"Bentuk pulaunya seperti keju yang telah tergigit," gumam Sarah ketika menatap ke gambar Isle of Uist.

"Di barat laut Skotlandia ya," kata Ash puas, "Aku sudah cukup paham dengan Skotlandia, setidaknya bagian baratnya," Ash melanjutkan.

Sarah kemudian membungkuk lalu menatap ke arah boonie itu.
"Ash, bolehkah aku juga ikut untuk menemui Maggie?" tanya Sarah gugup.

"Untuk apa?" tanya Ash menyerngitkan alisnya.

"Aku ingin melihat apa yang terjadi dengan Maggie," jawab Sarah lirih.

Ash kemudian terkejut,
"Tidak-tidak-tidak! Kamu tidak boleh ikut denganku!" kata Ash panik, "Itu akan berbahaya, bagaimana jika kita bertemu ealdor?"

"Maka kita tinggal lari!" jawab Sarah tersenyum licik.

"Itu benar-benar ide bagus, meskipun aku tak tahu haruskah ikut juga," Nivan memuji Sarah.

"Kamu harus ikut, Nivan! Karena kita adalah teman!" jawab Chloe percaya diri.

Ash kemudian mundur dengan ketakutan.
"Tidak tidak tidak- bagaimana jika aku tak sempat menyelamatkan satu di antara kalian?" tanya Ash panik.

"Baiklah, tak apa jika kamu menolak, padahal aku hampir senang karena akan ikut menyelidiki," kata Chloe muram.

Nivan kemudian menggenggam lengan Chloe, "Tak apa Chloe, kita fokus saja mencari tahu, tak ada yang melarang kita baca buku," kata Nivan tenang.

"Maaf semuanya karena kalian tak ikut, aku ingin pergi sendiri..." kata Ash tenang.

"Mengapa?" tanya Sarah.

"Karena ini masalahku,"

"Tapi kupikir ini masalahku juga," kata Sarah berbisik, "Aku hanya khawatir dengan Maggie."

Sarah kemudian berjalan berpaling lalu berjalan menjauh, Ash serta kedua teman Sarah hanya terdiam. Ash kemudian memutuskan untuk lanjut membaca buku tersebut. Setelah beberapa lama, Chloe dan Nivan lalu menemui Ash yang berusaha untuk mengembalikan buku-buku yang telah ia ambil ke rak.

"Jika menumpuk buku akan dibuat terperosok oleh Boggart? Lelucon siapakah itu..." gumam Ash tenang.

"Tuan Dwellers," panggil Chloe ke Ash.

Ash lalu menoleh ke Chloe dan juga Nivan lalu bertanya maksud kedatangan mereka berdua.
"Tadi Sarah menangis karena tidak kamu ajak ke sana," gumam Nivan pelan.

"Ya, menangis yang tidak sampai keluar air mata..." kata Chloe terbata-bata.

"Bilang saja jika ia tengah murung!" gumam Ash kesal, "Asal kalian tahu ibunya lebih kuat daripada teman sekelasnya dulu, ia pasti akan sama dengan ibunya,"

"Ya... bisa dibilang begitu," kata Chloe tak dapat berkata-kata.

"Kamu benar," bisik Nivan.

Chloe dan Nivan lalu membiarkan Ash untuk berjalan mendekati Athea.
Ash mendorong burung itu dengan lembut sampai Athea terbangun. Angsa itu lalu bangun dan berjalan keluar dari rak, ia menggoyangkan kepalanya.

"Bangunlah sobat, kita akan terbang ke Isle of Gomond tanpa ragu lagi," kata Ash tersenyum lebar.

Ash menunggangi punggung Athea, mereka singgah dulu di atas rak ramuan.
"Katakan pada Sarah, aku minta maaf," kata Ash serius.

"Aye," jawab Nivan.

Kemudian Ash dan Athea pun terbang melewati jendela perpustakaan yang terbuka lebar. Tanpa Ash tahu Sarah sudah mengintip dari balik tembok sekolah, memperhatikan bagaimana Athea mulai terselimuti oleh asap.

Sarah kemudian segera lari cepat ke arah jembatan penatua, dari jembatan yang panjang itu Sarah lalu menaiki bukit untuk sampai ke gubuk strawberry, gubuk saat itu tengah sepi karena profesor Whitlowe tengah tidak ada di gubuk. Burung camar Robby, Pruna, serta Oswin tengah duduk dengan tenang di atas gubuk. Sarah menoleh ke sekelilingnya dan akhirnya menemukan kereta luncur Glow de Trois di samping gubuk, dengan gugup ia lalu menyihir gerobak itu.

"Aeremiousus... movetur phantasia," ucapnya dengan nada serius.

Kereta luncur itu kemudian melayang di udara dan sedikit bergetar, dengan ragu Sarah lalu berusaha untuk menaiki kereta luncur itu. Ia menatap lurus ke depan.

"Maju..." ucap Sarah sambil menelan ludahnya.

Kereta luncur kemudian bergerak maju, Sarah berpegangan di sisi kereta luncur agar tidak terlempar. Angin menerpa deras di wajahnya, membuat matanya sedikit berair. Kereta luncur lalu hampir mengenai dinding sekolah sebelum Sarah mengendalikan tongkatnya agar kereta luncur itu naik ke atas. Lalu melewati puncak-puncak runcing kecil yang berada di atap aula. Sarah kemudian mengarahkan tongkatnya ke depan.
"Essolum!" ucapnya.

Modul di tongkat Sarah kemudian melepaskan tiga cahaya samar, menandakan jika Sarah telah menggunakan tiga mantra berbeda dengan tongkat itu.

Ujung tongkat Sarah kemudian melepaskan gelombang kecil yang membuatnya sedikit senang karena asap yang ditinggalkan si Athea ternyata mengandung mana. Tapi ia juga harus fokus karena kereta luncurnya sulit dikendalikan.
"Wooooowww... blimey!!!"

Sementara itu di dekat gubuk strawberry, Jade dan Oscar serta dua orang anak laki-laki Dissinia, Oliver dan Michael tengah berjalan ke dekat gubuk.

"Hei! Di mana kereta luncurnya?" tanya Oliver terkejut.

"Tadi ada di sana sebelumnya," jawab Jade.

Sarah terbang diam-diam dengan mengikuti Ash dan Athea dari belakang. Ia berusaha agar tidak menatap ke bawah tanah, mencoba untuk fokus mengikuti Ash.

Setelah langit mulai petang pada jam 6 sore, Ash dan Athea lalu turun ke daratan, mereka berdua singgah di samping danau Loch Lomond. Pada petang itu danau telah dipenuhi oleh banyak unggas untuk mencari makan. 2 orang penyihir berjubah hitam terlihat di kejauhan tengah bermain di dekat danau.

Ketika mereka berdua turun, Athea segera berlari ke tengah danau mendekati burung-burung lainnya, kedua sayapnya terbuka lebar. Beberapa burung mulai bersuara kicuh dan saling menyahut.

"Kamu pasti kelelahan, kita akan istirahat saja di sini," kata Ash menatap ke arah Athea.
"Pastikan kamu tak menghilang," katanya melanjutkan.

Honk... honk

Athea mengibaskan sayapnya di air danau. Setelah itu Ash pergi ke sebuah lumbung panjang di atas bukit yang menyala terang namun ditutupi oleh jerami yang diikat-ikat seperti rambut tipis. Di depan pintu lumbung itu ada penanda bertuliskan Lytweald Hut's.

Ash segera mengetuk pintu kayu pondok tersebut tiga kali. Pintu rumah kemudian terbuka, pria besar membukakan pintu untuknya. Pakaian pria itu terdiri dari flap cap, sweater rajut serta syal kecil yang ujungnya ia selipkan ke dalam sweater.

"Tuan Dwellers, siapa yang membawamu kemari?" tanya Harry Kerr, suaranya terdengar serak.

Di belakang Harry nampak dua orang pria tengah duduk di kursi tamu, di depan mereka ada 3 botol minuman berjudul Royal Honeyed Plums, dan Moira's White Lemonade. Mereka tengah berdiskusi serius.

"Sepertinya angsa itu, Athea butuh istirahat di sini, aku tidak keberatan tidur di teras," gumam Ash tersenyum ramah.

Harry kemudian tersenyum tipis dengan alis terangkat, "Masuklah teman, orang-orang telah membicarakan tentang ideologi Tuan Henderson di dalam."

"Tidak, aku tidak tertarik dengan politik," jawab Ash santai.

"Masuklah, kami akan menghidangkan padamu makanan," kata Harry tersenyum lembut.

"Baiklah," jawab Ash pelan.

Ash lalu masuk ke dalam rumah tersebut dan digiring oleh Harry.
"Apakah kalian tidak kekurangan makanan?" tanya Ash melanjutkan.

"Kami masih memiliki makanan, tak banyak, itu juga jika kamu ingin memaksa makan polongan saja," jawab Harry bercanda.

Di sisi lain, Sarah yang melihat Ash telah masuk ke dalam rumah pondok kemudian berusaha untuk membuat kereta luncur itu berbelok, ia terbang di atas Loch Lomond, dari sana ia lalu melakukan belokan tajam yang membuat air di bawahnya sempat terguyur ke udara.

"Ia masuk ke sana," kata Sarah serius.

Setelah berbelok Sarah kemudian berusaha untuk memelankan kecepatan kereta luncur itu, kereta itu perlahan-lahan turun mendekati air. Dan pada akhirnya bilah panjang kereta pun menyentuh air dan membuat kereta itu bergoyang dan mencipratkan air.

"Awas!"

Kereta luncur itu mendekati tepi danau yang penuh dengan unggas, para burung-burung di sana pun lalu terbang cepat agar tidak tertabrak. Kereta Sarah menciptakan gelombang burung yang mulai terbang ke udara.

"Satu poin untuk bebek!" ucap Sarah setelah seekor bebek berteriak panik.

Setelah itu kereta pun menghantam lumpur di pinggir danau dan merosot cepat ke tebing, Sarah berpegangan erat di setir kereta. Setelah kereta benar-benar berhenti, Sarah turun dari sana dan berjalan mendekati pondok.

Chapter 10: Kompas Perkenalan

Setelah masuk ke dalam rumah Harry, Ash duduk di sofa ruang keluarga. Sofa tersebut bersebelahan dengan meja makan tempat dua pria tadi duduk. Di dekat sana, istri Harry, Flora Kerr tengah merapikan barang-barang yang ada di atas laci, seperti gunting dan foto keluarga. Flora memakai kerudung hijau gelap dengan hiasan emas serta memakai jumper merah tua.

"Mungkin sebaiknya kamu tidak memaksa angsa itu untuk terbang jauh ke Kepulauan Skotlandia," kata Harry pelan.

"Bukan aku yang mau, tapi gadis yang memiliki angsa itu, Nona Fletcher," jawab Ash.

"Fletcher? Aku cukup mengenal mereka. Apakah kamu mau sedikit kacang polong?" tanya Nona Kerr dengan nada ramah.

"Tidak perlu, aku telah makan sedikit roti," jawab Ash.

"Jangan bohongi perutmu sendiri," kata Harry tersenyum menggoda.

"Aku tidak berbohong..." jawab Ash sambil menurunkan alisnya.

Di sana, Ash dan Harry pun saling tertawa, sedangkan istri Harry mengambil poci dan cangkir yang tergeletak di atas meja untuk dibawa ke tempat cuci piring. Sarah mengintip dari balik jendela, memperhatikan orang-orang di dalam pondok.

Athea yang sebelumnya ada di danau lalu masuk ke dalam pondok dengan cara mendorong pintu hingga terbuka. Ia lalu bersuara menyahut dua orang yang duduk di meja makan. Athea berjalan mendekati Ash.

Kedua orang itu tadi pun lalu bangkit berdiri, mereka melambaikan tangan singkat ke Harry.
"Sampai jumpa, Harry," katanya pelan.

"Sampai jumpa, Max," jawab Harry.

"Selamat tinggal, Nona. Terima kasih atas minumannya," kata pria yang rambutnya ikal.

"Pastikan kamu tidak tidur terlalu lama, James," kata Flora ke pria itu.

"Baik, aku ingin memeriksa Nenek Susan dulu," balasnya.

Kedua pria itu kemudian berjalan mendekati pintu. Bunyi engsel pintu terdengar saat mereka mulai membuka pintu dengan lambat. Sarah segera lari bersembunyi di samping tembok gubuk. Ia memperhatikan bagaimana dua orang itu pergi menuruni lereng.

Kemudian di belakang Sarah, berdirilah anak laki-laki yang sebaya dengannya. Ia memakai mantel abu-abu kebiruan serta celana pendek tebal berwarna hitam. Rambutnya pirang gelap dan dipotong pendek serta memiliki gigi yang besar.

"Hai, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Rikki berbisik.

Sarah kemudian berbalik dan memperhatikan anak itu, "Oh, hai. Aku tengah mengikuti seekor boonie, tapi ia malah berhenti di pondok ini," jawab Sarah tenang.

"Mengikuti kelinci boonie? Seperti Alice!" kata Rikki tersenyum tipis.

"Apakah ia akan pergi ke negeri ajaib? Mengapa kamu mengikutinya?" tanya Rikki santai.

"Tidak, dia berencana untuk pergi ke Isle of Gomond dan melarangku ikut, jadi aku mengikutinya," bantah Sarah panjang.

Rikki lalu menoleh sejenak ke pondoknya, "Jadi, kamu dilarang mengikutinya tapi tetap mengikutinya diam-diam?"

"Ya."

"Apakah kamu ingin beristirahat di sini? Ini adalah rumah untuk penyihir yang sudah bepergian jauh," kata Rikki membalas, "Tapi pastikan kamu tidak ketahuan."

Sarah kemudian terdiam untuk berpikir, "Bolehkah aku mengetahui namamu?" tanya Sarah.

"Namaku Rikki Kerr. Aku melihatmu mengendarai kereta luncur Sleamgaen di pinggir danau tadi, kamu pasti penyihir," jawab Rikki panjang.

"Aku Sarah Beverley, aku berasal dari York," balas Sarah.

"Rikki, menurutmu bisakah aku langsung pergi ke Isle of Gomond tanpa menunggu Ash? Hanya saja aku belum tahu seperti apa pulau itu," kata Sarah serius.

Rikki segera menggaruk kepalanya. Ia lalu berjalan menuju gudang kecil di samping pondok.

"Ikutlah denganku. Percayalah dengan para profesorku dari Dunbartonshire, kami tahu tempat itu," kata Rikki tenang.

Sarah kemudian berjalan mengikuti Rikki masuk ke dalam gudang. Di sana Rikki segera mengambil perkamen besar berisi gulungan peta Skotlandia serta beberapa buku catatan. Ia juga menyalakan lampu parafin di dalam sana.
Rikki lalu menunjuk ke arah salah satu pulau kecil di Skotlandia.

"Para profesor bilang padaku jika Pulau Isle of Gomond akan terlihat seperti lempengan batu karang biasa jika dilihat dari langit oleh manusia... Tapi di sanalah rahasianya. Pulau itu sebenarnya bukan karang, tapi ada gua luas yang bersembunyi di dalam lempengan karang itu," kata Rikki menjelaskan.

"Sungguh di sana? Menurutmu bagaimana aku tahu arah tujuanku?" tanya Sarah gugup.

"Dari sini ke Isle of Gomond kamu harus terbang dalam arah 327 derajat menuju barat laut, dan kamu butuh kompas," jawab Rikki.

Rikki kemudian melemparkan sebuah kompas ke arah Sarah. Sarah segera menyambut kompas yang hampir menimpa dadanya itu. Kompas itu memiliki bingkai yang besar serta ada ukiran-ukiran seperti bayi peri, bunga, serta rusa dan serigala di sana.

"Ini sungguh cantik," puji Sarah.

"Apakah kamu sungguh akan terbang lagi dengan kereta luncur Sleamgaen itu ke sana?" tanya Rikki menyerngit.

"Tentu saja," jawab Sarah.

"Kupikir tak perlu lakukan itu lagi. Kamu memakai mantra, kan, agar keretanya terbang," kata Rikki dengan nada panjang, "Aku akan memberikanmu sapu terbang juga."

Rikki lalu mengambil sebuah sapu panjang di atas rak. Sapu itu memiliki bulu sapu yang keriting, diikat oleh tali yang tipis dan berlapis, sedangkan warna bilahnya adalah hitam dengan nama sapu terukir di depannya: "Sky Greaves 4482". Rikki segera membawakan sapu besar yang ramping itu ke Sarah.

"Pakailah, ini untukmu saja," anak itu tersenyum tipis.

Sarah lalu dengan ragu mengambil kedua benda itu dari atas meja.
"Mengapa kamu mau memberikannya?" tanya Sarah lirih.

"Itu sapu tua, dulu untukku, tapi kini aku sudah punya sapu baru," jawab Rikki tulus.

"Dan soal kereta luncurmu, aku akan mengirimnya ke sekolahku untuk dikirim kembali ke tempat asalmu," kata Rikki melanjutkan.

"Brighford... kereta luncur itu milik Sekolah Brighford, aku meminjamnya," jawab Sarah berbisik.

"Baiklah, sekarang terbanglah sebelum kelinci boonie itu menyadari keberadaanmu!" kata Rikki serius.

Sarah segera mengangguk serius. Ia keluar dari gubuk itu sambil membawa sapu dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang kompas yang diberikan oleh Rikki.

"Larilah lalu lompat!" kata Rikki memberikan instruksi.

Sarah lalu menarik napas, ia menutup kedua matanya sejenak. Sarah lalu berlari dengan sapu sudah berada di bawah pinggulnya. Ia kemudian segera melompat di atas tanah dan pada akhirnya ia pun benar-benar terduduk di sapu yang telah terbang itu. Badannya sedikit bergoyang di udara.

"Terima kasih, Rikki!" teriak Sarah menoleh ke belakang.

"Sama-sama," jawab Rikki.

Ash kemudian mengangkat kedua telinganya saat ia mendengar suara Sarah samar-samar dari langit-langit.

"Tunggu, suara apa itu di luar?" tanya Ash terkejut.

"Apakah kamu mendengar sesuatu?" tanya Harry menyerngit.

"Ya, suaranya seperti... Sarah Beverley," kata Ash menyentuh dagunya.

"Sarah Beverley!" teriaknya terkejut.

Ash pun segera melangkah berlari keluar dari pondok. Ia segera menatap ke langit-langit dan melihat di seberang danau sudah ada penyihir kecil yang terbang menyeberangi danau dengan sapu terbang.

"Tunggu, itu Sarah Beverley? Bagaimana ia bisa punya sapu terbang?" tanya Ash kebingungan.

Athea dan Harry segera berjalan keluar dari pondok menyusul Ash. Ash menurunkan pandangannya dan ia pun melihat kereta luncur Glow de Trois yang dibiarkan berdiri di tepi danau. Ia mendesah kaget.

Ketika mendekati kereta luncur tersebut, Ash segera memeriksa bagian samping kereta luncur. Di sana tertulis nama sekolah sihir: Brighford Middle Dormitorium.

"Kereta luncur Brighford! Jangan-jangan Sarah yang menggunakan ini," kata Ash menyerngit.

"Siapa Sarah?" tanya Harry Kerr.

Ash lalu menatap Harry dan juga Athea.
"Sarah Beverley, anak penyihir yang pernah kutolong. Ia ternyata mengikutimu ke sini!"

"Jadi, di mana Sarah Beverley itu?" tanya Harry.

"Ia sudah terbang dengan sapu terbang di sana," jawab Ash menunjuk ke arah seberang danau.

Rikki berjalan mendekati mereka dengan gugup. Ayahnya, Harry segera menatapnya dan menghela napas pasrah.

"Nak, apakah kamu tahu sesuatu tentang Sarah?" tanya Harry pelan.

"Tadi ada gadis berambut pirang... tapi ia sudah pergi," jawab Rikki sambil menunduk.

"Katakanlah dengan jujur, Rikki," kata Harry serius.

"Ya, ia tadi ada untuk mengikuti kelinci boonie itu, tapi aku memberikannya kompas dan sapu terbang lama kita... lalu aku minta ia segera pergi agar tidak ketahuan sang boonie," jawab Rikki gugup.

"A-apa! Jadi, ia sekarang ke Isle of Gomond? Dengan kompas!" teriak Ash sangat terkejut.

"Ya."

Ash lalu segera menggelengkan kepalanya dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Aku tidak akan menyalahkanmu..." Ash menekan suaranya.

Ash kemudian segera meraih Athea dan duduk di atas angsa itu. Athea lalu segera menyahutnya.

*Honk*

"Tuan Kerr, kami akan pergi untuk menyusul Sarah. Terima kasih atas sebelumnya," kata Ash terburu-buru.

"Tidak apa-apa. Jika kamu butuh rekan, maka kirim saja surat padaku," kata Harry tersenyum tipis.

"Sampai jumpa!"

*Honk*

Ash dan Athea pun segera terbang di langit yang malam, mencoba untuk menyusul Sarah.

Di atas perbukitan Ben Lomond, Sarah memeriksa kompas yang dipegangnya. Arah kompas menunjukkan jika ia tengah terbang ke arah 290 derajat, jadi ia pun berbelok memutar sapunya hingga arahnya kini menjadi 327 derajat ke arah barat laut. Sarah tersenyum tipis ketika arah kompasnya benar.

Ia melintasi perbukitan Skotlandia yang berjejer di bawahnya. Dari langit, cahaya bulan bersinar dengan terang, menerangi perbukitan yang sedikit gelap. Angin mulai menerpa kulitnya saat ia terbang di atas permukaan laut dan membuat jubah pundaknya berkibar di udara. Posisi bintang-bintang utara di langit telah berpindah.

Setelah melewati beberapa pulau besar, Sarah sampai di sebuah pulau yang tebingnya sangat tinggi, namun permukaannya adalah bebatuan karang yang luas, persis seperti ucapan Rikki.

"Itu tampak seperti Isle of Gomond," gumam Sarah.

Sarah terbang mengelilingi pulau itu dan akhirnya menemukan sebuah mulut gua yang memanjang dari kiri ke kanan. Lokasi gua ini benar-benar tak terlihat dari langit serta air laut sudah masuk sedikit ke dalam mulut gua. Sarah kemudian mengarahkan sapunya untuk berbelok dan menukik agar ia bisa masuk ke dalam gua itu.

Di dalam gua, Sarah terbang melewati tebing kecil yang permukaannya adalah pasir yang bergunduk-gunduk. Di samping kiri Sarah terdapat puluhan lilin yang melayang di udara, menerangi jalan setapak dari batu di bawahnya. Tak jauh dari jalan setapak, terdapat jendela-jendela ventilasi kecil dengan kerangka besi yang berdiri sejajar di dinding gua.

"Tempat apa ini..." Sarah berbisik ke dirinya sendiri.

Semua lilin-lilin yang melayang itu memberikan arah jalan sampai ke sebuah kolam besar yang dikelilingi jalan setapak. Di belakang kolam itu telah terpahat permukaan bangunan yang menyerupai manor. Di atas pintunya terdapat nama "De Vorag Manor Stone".

Sarah masuk ke dalam manor itu melalui celah di jendela paling besar yang ada di atas manor. Ia mendarat di ambalan jendela itu, kemudian melangkah di balkon batu sempit yang melengkung di dinding manor.

Tinggi balkon itu adalah 29 kaki. Dari bawah balkon terlihat kolom-kolom menuju ruangan lain serta sebuah ruangan luas yang dihiasi karpet merah serta patung prajurit Skotlandia.

Dari salah satu dari dua kolom di sisi kanan, lalu berjalanlah dua sosok besar yang ukurannya cukup mengejutkan. Salah satunya adalah troll yang memakai tengkorak rusa sebagai hiasan kepalanya. Di tangannya terdapat nampan raksasa yang berisi makanan-makanan seperti sup, daging, roti, serta kepala buffel matang yang telah dipotong tanduknya. Lalu ada juga piring kecil, garpu, dan pisau.

Satunya lagi adalah seekor kuda setinggi 14 kaki yang harus menundukkan kepalanya agar bisa melewati kolom di depannya. Badan kuda itu ototnya kuat dan bulu-bulunya halus, sedangkan surainya pendek serta dibentuk menyerupai pion catur.

Kuda itu nyaris ingin makan makanan di atas piring nampan sebelum troll itu segera melambaikan tangannya agar kuda itu menjauh.

"Berhentilah, ini makanan manusia, ini untuk tamu kita, Nona Haversham," kata troll itu dengan suara berat.

"Maggie Haversham," gumam Sarah.

"Kita tidak selalu memakan makanan seperti manusia," kata troll itu melanjutkan.

Kedua makhluk itu berjalan menuju ke kolom lorong lain yang berada di bawah Sarah. Sementara itu, Ash muncul juga dengan cara memanjat dinding manor dan masuk lewat sela batu di jendela raksasa. Ia segera melihat Sarah sudah memanjat lubang seukuran badan anak kecil di dinding.

"Agh- Beverley!" bisik Ash panik.

Ash segera melangkah menuju balkon sempit itu untuk mengejar Sarah. Dari lubang itu Sarah kemudian menggeser bingkai lukisan yang menghalangi jalan keluar, ia lalu turun dan memegang bingkai itu dengan hati-hati. Ash segera muncul dan membantunya memegang bingkai lukisan itu.

"Ash..." panggil Sarah berbisik.

Ash yang sudah menatap seisi ruangan itu pun segera menyuruh Sarah untuk diam dengan meniup telunjuknya.
"Husssss."

"Tuan, aku sudah bawakan makanan manusia," kata troll itu dengan nada tinggi.

Roxa kemudian berdiri dari kursinya, menunjukkan ukuran badannya yang amat panjang sampai 9 kaki itu. Di ruangan itu kuda berjalan ke samping untuk memberi ruang, sedangkan si troll segera meletakkan piring nampan itu lalu memberikan hormat ke arah Roxa.

"Itukah Ealdor?" tanya Sarah melihat ke tengah ruangan.

"Ya- tapi, mengapa kamu pergi mengikutiku!" tanya Ash berbisik.

"Karena aku ingin menolong Maggie," jawab Sarah berbisik.

"Apakah kamu tak sadar dengan bahaya yang mengincarmu?" tanya Ash menggertak.

"Ia dibujuk oleh Ealdor, ia bilang tak akan jahat padaku, dan... ia menyelimutiku saat pertama kali jatuh ke dalam gua," kata Sarah menjawab.

Ash segera menggelengkan kepalanya. Sementara itu Roxa berjalan mendekati pintu kecil lalu mengetuk pintu tersebut empat kali.

"Maggie, temanku, waktunya istirahat," katanya berbisik.

Pintu kemudian terbuka, lalu dari sana keluarlah Maggie dengan wajah yang tenang. Ia berjalan perlahan-lahan melewati Roxa.

"Itu Maggie..." ucap Sarah.

"Orang yang harus dikembalikan ke tempat asalnya," jawab Ash berbisik.

"Apakah kamu ingin makan juga, Roxa?" kata Maggie sambil menatap makanannya.

"Aku tidak tengah lapar," gumam Roxa.

"Bukan tentang itu, kamu juga harus makan! Begitulah manusia," kata Maggie tegas.

"Baiklah," jawab Roxa sambil duduk lagi di kursinya.

"Katakan padaku, mengapa kamu menyuruhku untuk masuk ke sini lewat rumah Beverley?" tanya Maggie bingung.

"Oh Maggie, itu karena aku tengah berhati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan. Saudaraku akan melaporkanku bila ia tahu," jawab Roxa membuat alasan.

"Roxa, apakah menurutmu malam ini aku akan benar-benar menjadi penyihir?" tanya Maggie berbisik.

"Tentu."

"Apakah aku saat itu akan bisa melakukan sihir?"

"Tentu saja."

"Apakah saat itu aku bisa membalas apa yang orang lain perbuat padaku?" tanya Maggie lagi.

Roxa lalu segera berdiri dan meraih tangan Maggie.
"Tentu, temanku, tentu! Itulah hal yang akan terjadi padamu malam ini!" kata Roxa serius.

Roxa lalu berputar hingga jubahnya berayun di udara. Suaranya ketika berbicara terdengar menggelegar. Sarah menatap mereka berdua dan terdiam.

"Pada malam ini, ramalan bintangku mengatakan jika kematian telah terjadi... Saat itulah ritual untuk mengubah seseorang biasa jadi penyihir dapat dilakukan! Dan kamu dapat membalas mereka."

"Dan aku dapat menyelesaikan masa laluku, kan?" tanya Maggie dengan mata lebar.

"Oh, tidak," gumam Ash sambil menepuk wajahnya.

"Tentu! Tak perlu sosok tua saat Natal, hanya perlu ritualnya saja!" kata Roxa dengan nada tinggi.

Roxa kemudian menatap ke arah troll serta gnome kecil yang tengah menyapu ruangan.
"Para pelayanku, mainkanlah musik!" teriaknya tegas.

*Offf offf!*
"Baik, Tuan!"

Troll dan para gnome itu pun segera berlarian menaiki sebuah organ. Mereka lalu memainkan organ tersebut, sedangkan si troll mulai memainkan bagpipe raksasa. Roxa lalu menepuk tangannya hingga membuat empat buah obor api yang ada di udara padam. Tangan kanannya sempat bersinar membentuk suatu pola di mana bagian bawahnya terdapat dua busur setengah lingkaran, dan di tengah keduanya itu memanjang garis lurus yang bersilangan seperti tanduk yang membentuk silang.

"Kamu lihat huruf bercahaya di tangannya itu..." bisik Ash ke Sarah.

"Ya, bersinar," jawab Sarah berbisik.

"Itu adalah simbol sigil. Penyihir terkuat meletakkannya di sana untuk memperkuat sihir mereka," kata Ash berbisik.

Musik kemudian mulai bermain dengan nada organ yang berubah-ubah serta disusul oleh suara bagpipe yang bergema di ruangan.

Roxa mulai bernyanyi dengan nada seperti berbisik.

"Di sebuah desa terpencil
Warga desa telah dibodohi
Mereka membuat dua gadis menjalani ritual... Dan berakhir pembalasan!" teriaknya di tengah lagu.

Kemudian Roxa menyalakan sebuah proyektor film yang menampilkan sebuah gambar di dinding. Sementara itu para gnome terus bermain musik.

Maggie kemudian ikut bernyanyi ke dalam lagu tersebut. Ia bercerita dengan suara ringkih. Gambar proyektor menunjukkan tiga ekor tikus serta gadis yang selalu menemani petualangannya.

"Kisah Irene yang dirawat oleh tiga ekor tikus
Bersama di lingkaran hutan
Menjejaki kehidupan
Tapi satu tikus menyakiti hatinya yang terdalam..."

"Apa yang mereka ceritakan?" tanya Sarah.

"Dongeng gelap," jawab Ash.

"Dan Irene pun membalas dengan pisau!!!" teriak Roxa membalas dengan nada tinggi.
Pada saat itulah gambar di proyektor menunjukkan siluet lengan gadis itu sambil memegang pisau.

Keduanya lalu bernyanyi bersama,
"Itu sama sepertimu..."
"Itu sama sepertiku..."

"Karena kau tak sendirian
Ikutilah keinginanmu
Untuk mendapatkan kekuatan," sambung Roxa.

Roxa memegang patung seekor tikus yang berpose seperti terpelanting ke belakang dengan pisau tipis menusuk dadanya, tangan kanan tikus itu menjulur ke depan. Ia meletakkan patung itu tepat di depan cahaya monitor, menciptakan bayangan raksasa di dinding.

"Kamu sama sepertinya
Telingamu dilukai oleh Mary
Wanita yang berpikir dirinya berkuasa!
Siapa yang peduli orang dewasa tak peduli..."

"Seandainya mereka melihat," kata Maggie ikut ke tengah lagu,

"...Bagi anak-anak Santa Klaus baik
Tapi tak pernah menghukum Mary!" teriak Roxa.

"Itu sama sepertimu..."
"Itu sama sepertiku..."

"Karena aku tak sendirian
Ikutilah keinginanku
Untuk mendapatkan kekuatan," kata Maggie bernyanyi.

"Kekuatan sihir hanya untukku
Pergi melintasi langit Sunderland yang gelap
Dan jatuhkanlah hujan kemarahan, kepada orang-orang di masa lalu
Yang menyakiti hatiku," kata Maggie di akhir lagu.

"Itu sama sepertimu!"
"Itu sama sepertiku!"

Troll itu lalu meniup bagpipe-nya lebih keras dari sebelumnya.

Nada lagu kemudian merendah dan kali ini mereka berdualah yang bernyanyi.

"Kesendirian dalam kesedihan
Keinginan darimu
Layak ada karena, kamulah keajaiban," kata Roxa.
"Akulah keajaiban," kata Maggie melanjutkan.

Setelah mereka selesai bernyanyi, obor pun kembali menyala, para pemain musik tadi berhenti memainkan musik mereka. Sedangkan Maggie menatap Roxa dengan napas terengah.

"Apakah malam ini... aku akan benar-benar dapat sihir itu?" tanya Maggie pelan.

"Tunggu sebentar," bisik Roxa tegang.

Lalu dari balik lorong terdengar samar-samar suara panci yang menguap kencang hingga suaranya menembus ke ruangan ini.

"... Itu adalah suara dari ramuannya, setelah ini kita siap melakukan ritualnya," jawab Roxa tersenyum sinis.

"Aku akan menantikannya, temanku," bisik Maggie tersenyum tipis.

Roxa pun segera lari menuju lorong itu, asap hitam menyembul di langkah kakinya bersamaan dengan beberapa bulu gagak yang berasal dari jubahnya jatuh pelan di udara. Sementara itu Maggie menatap punggung Roxa dengan lega.

"Aku menantikan sihir yang akan menyelesaikan masa laluku..." gumam Maggie.

Sementara itu Sarah yang dari tadi berada di atas balkon sempit kemudian berbalik badan dan bersembunyi di balik bingkai balkon.

"Entah mengapa itu terlihat salah," bisik Sarah sambil menunduk.

Ash pun ikut bersembunyi di balik balkon bergerigi itu.

"Itu memang salah, kekuatan yang sangat besar memang bisa menghasilkan kerugian. Tidak pernah ada yang tak menghasilkan konsekuensi," jawab Ash tenang.

"Kupikir... aku harus menemui Maggie sekarang," kata Sarah lirih.

"Mengapa, mengapa kamu berpikir begitu?" tanya Ash heran.

"Ash, kita bisa berbicara ke ia sebelum terlambat, sebelum ritual itu terjadi," kata Sarah serius.

"Tapi... bagaimana jika kita ketahuan Ealdor itu? Ia adalah bagian dari keluarga De Vorag!" kata Ash menekan suaranya.

"Kalau begitu kita lakukan saja dengan cepat," kata Sarah serius.

Sarah dan Ash berbalik lagi, mereka berdua melihat Maggie tengah duduk dengan anggun dan meletakkan makanan dari nampan ke piring kecil di pangkuannya. Sementara itu para gnome, troll, dan kuda raksasa tadi berjalan ke lorong yang sama dengan Roxa. Mereka meninggalkan Maggie sendirian.

"Aku akan menemui Maggie..." bisik Sarah.

Sarah kemudian berjalan menuju sisi lain balkon, di mana di dekat pilaster ada sebuah sofa yang mepet ke pilaster, di samping sofa itu ada bagpipe milik sang troll. Ia kemudian melangkahkan kakinya melewati balkon itu lalu bertumpu di atas sebuah pilaster. Ia kemudian membungkuk dengan hati-hati.

Sarah kemudian berpegangan di dua buah ukiran panjang yang ada di pilaster kemudian segera melompat ke belakang. Sarah jatuh dengan cepat setelah ia menempelkan kedua kakinya ke dua ukiran bundar itu. kedua sepatunya pun langsung menimpa bagian kepala sofa, dan membuat badannya hampir tersungkur ke belakang. Maggie segera menoleh ke arahnya ketika mendengar suara keras.

"Nona Beverley," panggil Maggie.

Maggie lalu meletakkan piringnya ke atas meja kemudian mendekati Sarah, sementara itu Sarah segera berbalik dan menatap pengasuhnya itu. Mereka berdua kemudian saling berhadapan, Ash sendiri ikut turun dan bersembunyi di belakang Sarah.

"Mengapa kamu ada di sini? Dari mana kamu datang?" tanya Maggie kebingungan.

"Aku kemari untuk menolongmu... Maggie, aku merasa ada yang salah, tempat ini tak seperti tempat yang baik, kamu harus pergi!" jawab Sarah serius.

"Pergi ke mana?" tanya Maggie singkat.

"Tentu saja ke tempat asalmu atau rumah kita, kembali jadi pengasuhku," kata Sarah pelan.

"Aku tak ingin ke sana, Nona Beverley. Lagipula Roxa bilang padaku bila aku ketahuan, maka penyihir lain akan menghapus ingatanku..." kata Maggie pelan.

"Tapi aku dapat membuatmu kembali ingat!" jawab Sarah keras.

Maggie melangkah mundur lalu menatap ke langit di sampingnya.
"Tidak akan, aku tidak akan kembali sampai masa laluku dihabisi semua."

"Kamu tak akan mengerti aku, Nona Beverley! Karena kamu masih anak-anak, kamu masih percaya dengan dongeng orang dewasa," kata Maggie sambil menyentuh dadanya dengan tangan kiri.

"Memangnya kenapa? Dongeng adalah cerita ajaib yang jumlahnya amat banyak," kata Sarah menjawab Maggie.

"Secara teknis begitu," kata Ash ikut membela.

Maggie lalu berbicara dengan nada tenang, "Tapi Roxa berkata jika aku adalah keajaiban, aku layak menyelesaikan ceritaku sendiri... Saat itulah dunia akan aman, Nona Beverley."

"Tapi cerita itu tadi terdengar salah, terlalu menakutkan! Apakah kamu percaya cerita mengerikan itu?" tanya Sarah dengan nada panjang.

"Aku percaya seperti aku percaya temanku, karena ceritanya benar-benar... membantuku bebas dari panti asuhan itu," jawab Maggie tersenyum tipis.

Ash lalu menurunkan telinganya karena ketakutan, sementara itu Sarah tetap bersikukuh dengan melangkah lebih dekat, ia melangkahkan satu kakinya.

"Aku tak ingin kamu melakukan ini, karena kamu tak akan bisa kembali," kata Sarah serius.

Maggie kemudian menaikkan pundaknya, "Justru karena tak ingin kembali, Nona Beverley. Seseorang harus melawan apa yang telah menimpanya, itulah yang kupelajari dari hidupku," jawab Maggie tegas.

Kemudian Roxa pun tiba-tiba muncul dari atas balkon sambil membuka jendela kayu yang dipaku apa adanya.

"Maggie, apakah kamu sudah selesai makan?" tanya Roxa senang.

Pada saat itu juga Roxa kemudian menoleh ke bawah dan melihat Sarah serta Ash yang berdiri bersama Maggie.

"Siapa mereka?" tanya Roxa berteriak panjang.

"Dia adalah anak yang sebelumnya kuasuh, Sarah," jawab Maggie pelan.

"Be-Beverley! Kukira ia telah mati di Hutan Woolymoon," kata Roxa menyerngit.

Sarah melangkah mundur saat mendengar ucapan Roxa.

"Ia tertidur lalu kutinggalkan..." gumam Maggie.

Roxa lalu menatap ke arah Ash, "Atau mungkin... seseorang telah menolongnya tanpa kamu tahu, Maggie!" katanya dengan nada berat.

"Tentu saja, karena aku menolongnya sebelum ia ikut dengan Maggie!" jawab Ash serius.

"... Sungguh cerdas," puji Roxa.

"Kamu entah De Vorag ke berapa. Mengapa kamu menyuruh Nona Haversham ke rumah Sarah!" tanya Ash dengan nada tinggi.

"Aku tidak menyuruhnya, aku hanya memberikannya tutorial cara menakuti anak penyihir," jawab Roxa membantah, "Karena kebetulan sekali Sarah Beverley masuk ke daftar permintaan kerjaku," jawabnya melanjutkan.

Ash menjadi terkejut mendengar itu, "Ash, permintaan kerja apa yang dia maksud?" tanya Sarah kebingungan.

Ash yang sudah ketakutan kemudian menarik tangan Sarah, "Ayo pergi!" kata Ash serius.

"Mengapa kita pergi?" tanya Sarah bingung.

"Oh janganlah pergi, Tuan. Meskipun aku bilang begitu bukan berarti kalian dalam bahaya!" kata Roxa dengan nada panjang.

"Aku datang hanya untuk membawa Maggie pergi, itu saja," jawab Ash tanpa menoleh.

"Tunggu! Tolong jangan bawa pergi gadis itu, masih ada kemungkinan untuk dinegosiasi-" teriak Roxa keras.

Ash dan Sarah terus melangkah, tangan Ash menggenggam Sarah dengan erat dan menariknya berjalan ke ruang utama.
"Seseorang tolong hentikan mereka!" teriak Roxa panik.

Lalu datanglah seekor kuda setinggi 14 kaki itu pun lalu datang dan menghalangi pintu keluar utama, ia sesekali menghembuskan napasnya. Ia menatap Sarah serta Ash, membuat Sarah menelan ludahnya.

*Hrrrhh*

"Oh, siapakah ini, seekor kuda besar yang tak pernah kulihat," kata Ash memuji kuda itu.
Kuda itu lalu berdengus singkat dan melangkah pelan.

"Ash, menurutku ia monster," kata Sarah tertegun.

Sementara itu para gnome serta troll masuk ke ruangan Maggie untuk melihat apa yang tengah terjadi.

"Sarah, kira-kira apa nama kuda saat Perang Troya?" tanya Ash gugup.

"Mana kutahu! Kuda itu tak memiliki nama!" keluh Sarah dengan mata melebar.

"Oh ya... kalau gitu kita beri saja ia sebutan the nameless boy," jawab Ash santai.

Kuda itu kemudian berdengus kencang karena marah.
*NEEEIIIGHHH!*

"Lari!"
Kuda itu pun segera lari dengan menyodorkan kepalanya ke arah mereka berdua. Ash dan Sarah segera lari cepat melewati kolom-kolom di manor.

(This chapter is not finished yet - thank you for reading this far.)

Comments

Popular posts from this blog

The Flying Scotswizard: A Steam Locomotive in the Magical World